Tabooo.id: Deep – Di sebuah titik di bumi, azan Jumatan mungkin baru saja selesai. Di titik lain, matahari bahkan belum terbit, masih Kamis, masih sunyi, masih dunia yang sama.
Lalu muncul satu pertanyaan yang tampak sederhana, tapi diam-diam mengguncang fondasi cara kita memahami realitas, yakni jika kiamat terjadi pada hari Jumat, bagaimana dengan mereka yang masih hidup di hari Kamis?
Hari yang Dijanjikan, Tapi Tidak Sederhana
Dalam tradisi Islam, terdapat hadis yang sering dikutip tentang keterkaitan Hari Kiamat dengan hari Jumat:
Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik hari di mana matahari terbit adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu ia dimasukkan ke dalam surga, pada hari itu pula ia dikeluarkan darinya, dan Hari Kiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari Jumat.” (HR. Muslim No. 854)
Riwayat lain, yaitu HR. Abu Dawud No. 1047, juga menyebut bahwa pada hari Jumat terdapat peristiwa besar yang berkaitan dengan tiupan sangkakala dan kedahsyatan akhir zaman.
Dua hadis ini membentuk satu keyakinan kuat, bahwa Kiamat dan Jumat memiliki hubungan yang tidak kebetulan. Namun di era dunia modern, di mana waktu dibagi dalam zona, garis bujur, dan kalender internasional, keyakinan ini memunculkan pertanyaan baru yang mungkin tak pernah muncul di masa lalu.
Dunia yang Terbelah oleh Waktu
Hari ini, dunia tidak hidup dalam satu waktu yang sama.
Di Bali, waktu bisa menunjukkan Jumat sore. Di Amerika, mungkin masih Kamis malam. Di tengah Samudra Pasifik, bahkan ada wilayah yang “hidup lebih cepat” satu hari dibanding yang lain.
Artinya, Jumat bukanlah satu momen universal. Ia adalah hasil dari kesepakatan manusia terhadap rotasi bumi.
Dan di sinilah paradoks itu lahir, Jika kiamat adalah peristiwa global, bagaimana ia bisa “memilih” Jumat, sementara Jumat sendiri tidak pernah terjadi secara bersamaan di seluruh bumi?
Waktu yang Kita Percaya, Tapi Tidak Kita Miliki
Menurut KPA Hari Andri Winarso, seorang pakar metafisika, pertanyaan ini justru membuka kesadaran yang lebih dalam tentang hakikat waktu itu sendiri.
“Kita terlalu lama mengira bahwa waktu itu absolut, padahal yang kita pakai sehari-hari hanyalah sistem penanda. Kamis dan Jumat itu bukan realitas, tapi hasil pembagian kesadaran manusia terhadap pergerakan kosmik,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dalam perspektif filsafat waktu, ada perbedaan mendasar antara waktu kronologis atau chronos, yaitu waktu yang kita ukur dengan jam dan kalender, dan waktu eksistensial atau kairos, momen yang terjadi secara mutlak, tidak terbagi
Dalam kerangka ini, kiamat tidak bisa dipahami sebagai peristiwa dalam “kalender manusia”.
“Kiamat adalah momen absolut. Ia tidak datang di Jumat versi Jakarta atau Kamis versi New York. Ia datang dalam satu ‘kejadian’ yang melampaui semua zona waktu,” lanjut Komisaris PT Tabooo Network Indonesia tersebut.
Ketika Waktu Berhenti Menjadi Relevan
Jika kiamat benar-benar terjadi, maka yang runtuh bukan hanya bumi, tapi juga sistem penanggalan, zona waktu, dan bahkan konsep “hari” itu sendiri
Dalam satu momen, seluruh pembagian waktu akan kehilangan maknanya. Yang masih Kamis tidak akan “menunggu Jumat”, dan yang sudah Jumat tidak akan “lebih dulu”. Karena pada titik itu, waktu tidak lagi berjalan, ia berakhir.
Jumat sebagai Simbol, Bukan Sekadar Tanggal
Dalam pembacaan yang lebih dalam, Jumat bisa dilihat bukan sekadar nama hari, tetapi sebagai puncak dari siklus mingguan, titik pertemuan antara penciptaan dan pengembalian, serta simbol “penyempurnaan waktu”
Seperti Adam yang diciptakan pada Jumat, maka tidak mustahil jika seluruh eksistensi juga “dikembalikan” pada hari yang sama—bukan sebagai kebetulan, tapi sebagai pola.
“Jumat dalam konteks ini adalah kualitas waktu, bukan angka di kalender. Ia adalah titik di mana siklus mencapai maknanya,” ujar KPA Hari Andri Winarso.
Pertanyaan yang Mengubah Cara Kita Melihat Dunia
Maka mungkin, pertanyaan awal itu tidak benar-benar tentang Kamis atau Jumat. Namun tentang ilusi yang selama ini kita anggap nyata bahwa waktu bisa dibagi, bahwa hari bisa dipisahkan, bahwa kita hidup dalam urutan yang pasti.
Padahal, bisa jadi semua itu hanyalah cara manusia bertahan dalam sesuatu yang sebenarnya tidak pernah benar-benar bisa ia pahami.
Ketika Jumat Datang, Tidak Ada Lagi Hari
Jika kiamat benar-benar datang pada hari Jumat, maka itu bukan Jumat yang kita kenal. Bukan Jumat di kalender. Bukan juga Jumat di jam dinding. Melainkan Jumat sebagai penutup. Dan pada saat itu terjadi, tidak ada lagi yang bertanya, “Ini masih Kamis atau sudah Jumat?”
Karena waktu yang selama ini kita gunakan untuk memahami dunia telah selesai menjalankan tugasnya. @tabooo







