Tabooo.id: Film – Kapan terakhir kali kamu menelpon ibu? Bukan kirim uang. Bukan transfer. Tapi benar-benar menanyakan kabar.
Pertanyaan sederhana itu terasa seperti tamparan kecil setelah menonton film “Senin Harga Naik.” Film drama keluarga ini menggelar screening spesial di XXI Solo Square, Surakarta, Jumat (13/3/2026) sore. Studio 4 pun dipenuhi penonton yang penasaran dengan cerita keluarga yang katanya “relatable banget”.
Para pemainnya Meriam Bellina, Nayla Denny Purnama, dan Andri Mashadi datang langsung menyapa penonton setelah pemutaran film. Suasananya santai, bahkan sempat diselingi kuis dan obrolan ringan. Tapi isi filmnya sendiri tidak sesantai itu. Ceritanya menyentil.

Drama Keluarga yang Terasa Terlalu Nyata
Film produksi Starvision dan Legacy Pictures ini disutradarai Dinna Jasanti dengan naskah dari Rino Sarjono. Genre-nya drama keluarga dengan bumbu comedy-drama. Artinya, penonton masih bisa tertawa di beberapa adegan sebelum akhirnya diam di adegan berikutnya.
Cerita berpusat pada Mutia (Nadya Arina), perempuan muda yang bekerja di perusahaan properti besar. Ambisi kariernya membuat hubungan dengan ibunya, Retno (Meriam Bellina), retak. Perbedaan pandangan tentang hidup membuat Mutia memilih pergi dari rumah.
Ia ingin membuktikan bahwa dirinya bisa sukses tanpa campur tangan keluarga.
Tiga tahun berlalu. Karier Mutia justru sedang berada di puncak. Tapi hidup punya cara unik untuk mempertemukan seseorang dengan masa lalunya.
Proyek yang ia tangani ternyata berkaitan dengan rencana penggusuran Mercusuar, toko roti legendaris milik ibunya sendiri.
Ironis? Sangat.
Situasi itu memaksa Mutia kembali pulang. Ia harus menghadapi ibunya yang keras kepala sekaligus menghadapi luka lama yang belum benar-benar sembuh.
Konflik yang Tidak Besar, Tapi Sangat Dekat
Yang menarik dari “Senin Harga Naik” adalah konflik yang terasa kecil tapi sebenarnya besar. Tidak ada drama berlebihan. Tidak ada plot twist yang bombastis.
Yang ada justru percakapan-percakapan sederhana yang terasa familiar.
Pertengkaran ibu dan anak. Kesalahpahaman lama. Ego yang sama-sama keras. Dan satu hal yang sering terjadi di banyak keluarga: komunikasi yang perlahan hilang.
Film ini menunjukkan bagaimana jarak emosional bisa terbentuk bukan karena kebencian, tetapi karena kesibukan. Anak sibuk mengejar mimpi. Orang tua sibuk menunggu.
Di era modern, banyak anak merasa sudah berbakti karena bisa membantu finansial keluarga. Tapi film ini mengingatkan satu hal yang sering terlupakan: orang tua tidak selalu butuh uang.
Mereka butuh kehadiran.
Dan kadang, perhatian kecil seperti menanyakan kabar bisa terasa lebih berharga daripada apa pun.
Hiburan yang Diam-Diam Menyentil
Di balik kemasan drama keluarga, film ini sebenarnya membawa kritik sosial kecil. Banyak anak muda hari ini hidup dengan ritme cepat kerja, target, ambisi, karier.
Rumah menjadi tempat yang semakin jauh.
Film ini seolah mengingatkan bahwa hubungan keluarga tidak rusak karena satu kejadian besar. Ia rusak pelan-pelan melalui percakapan yang tidak pernah terjadi.
Itulah sebabnya kisah Mutia terasa dekat bagi banyak penonton. Bukan karena ceritanya spektakuler, tetapi karena ceritanya sangat mungkin terjadi di rumah kita sendiri.
Pulang Bukan Selalu Soal Tempat
Menjelang akhir film, satu pesan terasa jelas rumah bukan sekadar bangunan. Rumah adalah tempat di mana seseorang masih ingin mendengar kabar kita.
Di tengah dunia yang semakin sibuk, “Senin Harga Naik” hadir seperti pengingat kecil. Kadang orang tua tidak menunggu hadiah besar.
Mereka hanya menunggu kabar.
Dan mungkin setelah menonton film ini, ada satu hal sederhana yang tiba-tiba terasa penting mengirim pesan singkat atau menelpon ibu malam ini. @dimas




