Minggu, Agustus 23, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Film “Senin Harga Naik”, Tentang Rumah yang Selalu Menunggu Kita Pulang

by dimas
Mei 8, 2026
in Culture, Film
A A
Home Culture
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Film – Kapan terakhir kali kamu menelpon ibu? Bukan kirim uang. Bukan transfer. Tapi benar-benar menanyakan kabar.

Pertanyaan sederhana itu terasa seperti tamparan kecil setelah menonton film “Senin Harga Naik.” Film drama keluarga ini menggelar screening spesial di XXI Solo Square, Surakarta, Jumat (13/3/2026) sore. Studio 4 pun dipenuhi penonton yang penasaran dengan cerita keluarga yang katanya “relatable banget”.

Para pemainnya Meriam Bellina, Nayla Denny Purnama, dan Andri Mashadi datang langsung menyapa penonton setelah pemutaran film. Suasananya santai, bahkan sempat diselingi kuis dan obrolan ringan. Tapi isi filmnya sendiri tidak sesantai itu. Ceritanya menyentil.

Film “Senin Harga Naik”, Tentang Rumah yang Selalu Menunggu Kita Pulang
Meriam Bellina, Andri Mashadi, dan Nayla Denny Purnama berada di Studio 4 XXI Solo Square, Surakarta, usai pemutaran film Senin Harga Naik, Jumat (13/3/2026) sore.

Drama Keluarga yang Terasa Terlalu Nyata

Film produksi Starvision dan Legacy Pictures ini disutradarai Dinna Jasanti dengan naskah dari Rino Sarjono. Genre-nya drama keluarga dengan bumbu comedy-drama. Artinya, penonton masih bisa tertawa di beberapa adegan sebelum akhirnya diam di adegan berikutnya.

Cerita berpusat pada Mutia (Nadya Arina), perempuan muda yang bekerja di perusahaan properti besar. Ambisi kariernya membuat hubungan dengan ibunya, Retno (Meriam Bellina), retak. Perbedaan pandangan tentang hidup membuat Mutia memilih pergi dari rumah.

Ini Belum Selesai

Nginang di Sekaten: Saat Sirih Menjaga Jejak Tradisi

Ritek Surakarta Kenalkan Jaranan Sentherewe di Pakuwon Mall Solo

Ia ingin membuktikan bahwa dirinya bisa sukses tanpa campur tangan keluarga.

Tiga tahun berlalu. Karier Mutia justru sedang berada di puncak. Tapi hidup punya cara unik untuk mempertemukan seseorang dengan masa lalunya.

Proyek yang ia tangani ternyata berkaitan dengan rencana penggusuran Mercusuar, toko roti legendaris milik ibunya sendiri.

Ironis? Sangat.

Situasi itu memaksa Mutia kembali pulang. Ia harus menghadapi ibunya yang keras kepala sekaligus menghadapi luka lama yang belum benar-benar sembuh.

Konflik yang Tidak Besar, Tapi Sangat Dekat

Yang menarik dari “Senin Harga Naik” adalah konflik yang terasa kecil tapi sebenarnya besar. Tidak ada drama berlebihan. Tidak ada plot twist yang bombastis.

Yang ada justru percakapan-percakapan sederhana yang terasa familiar.

Pertengkaran ibu dan anak. Kesalahpahaman lama. Ego yang sama-sama keras. Dan satu hal yang sering terjadi di banyak keluarga: komunikasi yang perlahan hilang.

Film ini menunjukkan bagaimana jarak emosional bisa terbentuk bukan karena kebencian, tetapi karena kesibukan. Anak sibuk mengejar mimpi. Orang tua sibuk menunggu.

Di era modern, banyak anak merasa sudah berbakti karena bisa membantu finansial keluarga. Tapi film ini mengingatkan satu hal yang sering terlupakan: orang tua tidak selalu butuh uang.

Mereka butuh kehadiran.

Dan kadang, perhatian kecil seperti menanyakan kabar bisa terasa lebih berharga daripada apa pun.

Hiburan yang Diam-Diam Menyentil

Di balik kemasan drama keluarga, film ini sebenarnya membawa kritik sosial kecil. Banyak anak muda hari ini hidup dengan ritme cepat kerja, target, ambisi, karier.

Rumah menjadi tempat yang semakin jauh.

Film ini seolah mengingatkan bahwa hubungan keluarga tidak rusak karena satu kejadian besar. Ia rusak pelan-pelan melalui percakapan yang tidak pernah terjadi.

Itulah sebabnya kisah Mutia terasa dekat bagi banyak penonton. Bukan karena ceritanya spektakuler, tetapi karena ceritanya sangat mungkin terjadi di rumah kita sendiri.

Pulang Bukan Selalu Soal Tempat

Menjelang akhir film, satu pesan terasa jelas rumah bukan sekadar bangunan. Rumah adalah tempat di mana seseorang masih ingin mendengar kabar kita.

Di tengah dunia yang semakin sibuk, “Senin Harga Naik” hadir seperti pengingat kecil. Kadang orang tua tidak menunggu hadiah besar.

Mereka hanya menunggu kabar.

Dan mungkin setelah menonton film ini, ada satu hal sederhana yang tiba-tiba terasa penting mengirim pesan singkat atau menelpon ibu malam ini. @dimas

Tags: AnakCeritadramaFilmibuKeluargaKisahNasionalRumahsenin harga naik

Kamu Melewatkan Ini

Kartu Kredit Indonesia Meluncur, MDR QRIS 0% Diperluas

Kartu Kredit Indonesia Meluncur, MDR QRIS 0% Diperluas

by Tabooo
Agustus 18, 2026

Excerpt: Kartu Kredit Indonesia resmi meluncur. Bersamaan dengan itu, BI memperluas MDR QRIS 0% mulai 1 Oktober 2026 untuk transaksi...

RUU Perampasan Aset Mulai Ngebut. Bagaimana Realisasinya?

RUU Perampasan Aset Mulai Ngebut. Bagaimana Realisasinya?

by Tabooo
Agustus 18, 2026

Prabowo meminta RUU Perampasan Aset dipercepat. DPR masih menjaring masukan publik. Tantangannya bukan cuma pengesahan, tetapi memastikan aset hasil kejahatan...

Bela Prabowo soal “Londo Ireng”, Hasan Nasbi: Pemerintah Juga Boleh Mengkritik

Bela Prabowo soal “Londo Ireng”, Hasan Nasbi: Pemerintah Juga Boleh Mengkritik

by Tabooo
Agustus 1, 2026

Hasan Nasbi membela pernyataan Prabowo Subianto soal “Londo Ireng”. Menurutnya, kebebasan berpendapat harus berlaku dua arah, termasuk bagi pemerintah.

Next Post
Dari Spa Majapahit ke Deodoran: Sejarah Mengusir Bau Badan

Dari Spa Majapahit ke Deodoran: Sejarah Mengusir Bau Badan

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id