Sabtu, Juni 13, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Dari Spa Majapahit ke Deodoran: Sejarah Mengusir Bau Badan

by dimas
Maret 13, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Bau badan itu demokratis. Ia tidak peduli profesi, status sosial, atau gelar. Tukang martabak bisa kena. Peserta kontes kecantikan juga bisa. Bahkan putri raja atau menantu presiden pun tidak kebal.

Semua manusia berkeringat. Dan di balik keringat itu, ada cerita panjang tentang bagaimana manusia sejak ribuan tahun lalu berusaha menaklukkan satu musuh kecil: bau tubuh.

Menariknya, bau badan sebenarnya bukan berasal dari keringat itu sendiri. Secara ilmiah, keringat pada dasarnya tidak berbau. Yang membuatnya “beraroma” justru bakteri yang hidup di kulit dan rambut tubuh.

Ketika tubuh berkeringat karena panas, olahraga, atau gugup bakteri akan memecah keringat tersebut. Proses itu menghasilkan senyawa bernama thioalcohols, zat kimia yang memunculkan aroma khas tubuh manusia.

Dengan kata lain, bau badan adalah hasil kerja sama antara tubuh manusia dan koloni bakteri yang tinggal di dalamnya.

Ini Belum Selesai

Kiri: Musuh Bangsa atau Korban Narasi?

Tjidurian 19: Ketika Rumah Budaya Hilang dari Peta Jakarta

Jalan Ninja Bernama Deodoran

Di zaman modern, solusi paling cepat biasanya datang dari rak supermarket. Deodoran dan antiperspiran menjadi semacam “senjata wajib” untuk menjaga tubuh tetap wangi.

Namun keduanya sebenarnya memiliki fungsi berbeda.

Dalam buku Serba-Serbi Kesehatan Perempuan: Apa yang Perlu Kamu Ketahui tentang Tubuhmu, penulis Sallika NS menjelaskan bahwa deodoran bekerja dengan melawan bakteri penyebab bau. Sementara antiperspiran bertugas mengurangi produksi keringat dengan menyumbat pori-pori kulit.

Deodoran masuk kategori kosmetik, sedangkan antiperspiran bahkan sering diklasifikasikan sebagai obat karena cara kerjanya yang mempengaruhi fungsi tubuh.

Meski begitu, solusi paling sederhana tetap klasik: mandi.

Membersihkan tubuh secara rutin membantu menghilangkan keringat, kotoran, serta bakteri yang berkumpul di lipatan tubuh terutama di area ketiak yang terkenal sebagai “episentrum aroma”.

Menjaga ketiak tetap kering, misalnya dengan bedak penyerap keringat atau produk antiperspiran, juga membantu mencegah bau badan.

Namun jika kita mundur jauh ke masa lalu, manusia sebenarnya sudah punya “ritual anti bau badan” jauh sebelum deodoran ditemukan.

Spa Nusantara Sebelum Spa Instagram

Dalam tradisi Nusantara, perawatan tubuh bukan sekadar soal estetika. Ia adalah bagian dari budaya.

Sejak era Medang atau Mataram Kuno pada abad ke-8, hingga Majapahit pada abad ke-13, perempuan Jawa sudah mengenal berbagai bentuk terapi tubuh untuk menjaga kebersihan dan aroma tubuh.

Praktiknya mirip spa modern hanya saja bahan-bahannya berasal dari dapur dan kebun.

Menurut Dr. Martha Tilaar dalam buku The Power of Jamu: Kekayaan dan Kearifan Lokal Indonesia, ramuan lulur tradisional biasanya memanfaatkan bahan alami seperti beras, daun pandan, kemuning, dan jeruk purut.

Bahan-bahan itu digiling, dicampur, lalu dipijatkan ke kulit tubuh.

Hasilnya? Kulit lebih bersih, tubuh lebih harum.

Tradisi ini bukan sekadar ritual kecantikan. Ia juga mencerminkan pengetahuan lokal tentang kesehatan tubuh.

Peneliti Dewi Ratna Nurhayati dan Siti Fairuz binti Yusof dalam buku Herbal dan Rempah menyebut bahwa praktik spa berbasis rempah bahkan tercatat dalam relief Candi Borobudur.

Relief tersebut menggambarkan aktivitas terapi kesehatan menggunakan kolam air, pijatan, dan ramuan herbal.

Cerita serupa juga muncul dalam Serat Centhini, naskah sastra Jawa klasik yang menjelaskan praktik spa perempuan pada masa Majapahit dan Mataram.

Bisa dibilang, sebelum spa hotel bintang lima hadir di kota-kota modern, orang Nusantara sudah lebih dulu mengenalnya.

Wewangian dari Zaman Para Dewa

Sementara itu, peradaban dunia lain juga memiliki cara sendiri untuk mengatasi bau tubuh.

Di Mesopotamia sekitar 2000 SM, manusia sudah menggunakan minyak wangi dan getah aromatik untuk menutupi aroma tubuh. Bahan tersebut biasanya dibakar menjadi dupa.

Asapnya menghasilkan aroma harum yang menyebar ke sekitar tubuh.

Tradisi ini kemudian menyebar ke Mesir Kuno dan Yunani, di mana masyarakat mulai bereksperimen dengan berbagai bahan aromatik.

Penulis Valerine Ann Worwood dalam The Complete Book of Essential Oils and Aromatherapy mencatat bahwa masyarakat Mesir menggunakan kemenyan, damar wangi, kayu manis, jintan, daun mint, hingga getah pinus untuk menciptakan aroma tubuh yang menyenangkan.

Bahkan tokoh legendaris seperti Ratu Cleopatra VII terkenal sebagai penggemar parfum.

Menurut buku The Perfumed Pages of History karya Arch Stanton, Cleopatra dikenal menggunakan kombinasi bahan aromatik seperti akasia dan theca untuk menciptakan wewangian khasnya.

Di masa itu, parfum bukan hanya soal aroma. Ia juga simbol kekuasaan, status sosial, dan daya tarik.

Bau Badan dan Peradaban Manusia

Jika dipikir-pikir, perjalanan manusia melawan bau badan sebenarnya adalah kisah kecil dari peradaban itu sendiri.

Dari lulur rempah di kerajaan Jawa, dupa aromatik Mesopotamia, parfum Cleopatra, hingga deodoran roll-on di minimarket semuanya menunjukkan satu hal: manusia selalu ingin merasa bersih dan wangi.

Di era digital hari ini, mungkin kita hanya butuh beberapa detik untuk membeli deodoran secara online.

Tapi di balik produk kecil itu, tersimpan sejarah panjang ribuan tahun.

Sejarah tentang manusia, keringat, bakteri, dan upaya tak pernah selesai untuk tetap harum di tengah kehidupan yang terus bergerak.

Karena pada akhirnya, bau badan mungkin hal yang paling manusiawi.

Dan mungkin juga yang paling universal. @dimas

Tags: BudayaFenomenaJamuKesehatanNasionalNusantaraPeradabanPerawatanRempahSejarahTradisional

Kamu Melewatkan Ini

Bangsawan Turun ke Rakyat, Memangnya Kenapa?

Bangsawan Turun ke Rakyat, Memangnya Kenapa?

by Tabooo
Juni 13, 2026

Ketika bangsawan turun ke rakyat, sebagian orang justru gelisah. Mungkin yang mereka lindungi bukan martabat, melainkan hierarki yang selama ini...

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

by teguh
Juni 9, 2026

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian membuka kembali perdebatan lama tentang hubungan politik dan birokrasi daerah. Dalam rapat bersama Komisi II...

Vape Rasa Buah Terasa Manis, Tapi Kenapa Ribuan Gen Tubuh Ikut Berubah?

Vape Rasa Buah Terasa Manis, Tapi Kenapa Ribuan Gen Tubuh Ikut Berubah?

by teguh
Juni 7, 2026

Mangga, semangka, stroberi, hingga campuran buah tropis membuat vape semakin populer di kalangan anak muda. Banyak pengguna juga meyakini vape...

Next Post
OTT Episode 9: Serial Korupsi yang Sepertinya Tidak Pernah Tamat

OTT Episode 9: Serial Korupsi yang Sepertinya Tidak Pernah Tamat

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id