Tabooo.id: Deep – Prolog ini lahir dari rindu yang tak pernah benar-benar selesai. Pertama-tama, rindu itu tumbuh dari hati seorang anak yang belajar menerima kehilangan, namun tetap menjaga cinta. Selanjutnya, anak itu merangkai kata demi kata, bukan hanya sebagai bahasa, melainkan sebagai doa yang ia kirimkan perlahan ke langit. Di sana, sang ibunda kini beristirahat dengan damai. Di setiap bait, ia menyimpan air mata sementara itu, ia memeluk kenangan dengan sepenuh jiwa. Hingga akhirnya, ia memahami bahwa cinta tak pernah kalah oleh waktu. Oleh karena itu, bagi seorang anak, ibu bukan sekadar masa lalu. Sebaliknya, ia adalah cahaya yang hidup, yang kemudian menuntun setiap langkah hari ini dan akhirnya tinggal abadi dalam perjalanan hidup.
Untuk Ibu, di Antara Doa dan Rindu
Ibu,
namamu kusebut pelan
di antara hela napas dan air mata
yang jatuh diam-diam
saat dunia terasa terlalu sunyi tanpamu.
Dulu,
pelukmu adalah rumah
tempat lelahku pulang
tempat hatiku belajar tenang
meski badai hidup tak pernah berhenti.
Kini,
aku berbicara pada langit
mengirim rindu lewat doa-doa panjang
berharap sampai ke tempatmu
yang katanya penuh cahaya dan damai.
Ibu,
cintamu tak pernah benar-benar pergi
ia hidup di nadiku
di caraku tersenyum,
di caraku bertahan saat hampir menyerah.
Jika rindu ini terlalu berat,
biarlah air mata menjadi bukti
bahwa aku pernah dicintai
dengan cinta paling tulus di dunia.
Tenanglah di sana, Ibu
doaku selalu bersamamu
hingga kelak,
rindu ini tak lagi bernama jarak. (Esp | Surakarta, 22/12/2025).




