Jumat, Mei 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Dewan Pers Soroti Dugaan Penculikan Wartawan Indonesia oleh Tentara Israel

by dimas
Mei 19, 2026
in Global, Reality
A A
Home Reality Global
Share on FacebookShare on Twitter
Dewan Pers mendesak pemerintah mengintensifkan diplomasi setelah tiga wartawan Indonesia ditangkap Israel dalam misi kemanusiaan Gaza.

Tabooo.id: Reality – Langit Gaza belum juga reda dari perang. Namun kali ini, yang bergerak di laut bukan kapal perang atau rudal. Armada kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0 justru membawa obat-obatan, makanan, dan relawan sipil dari berbagai negara.

Di tengah perjalanan menuju Gaza, militer Israel menghentikan armada tersebut di perairan internasional. Tentara Israel lalu menangkap ratusan aktivis, termasuk sembilan warga negara Indonesia dan tiga jurnalis Tanah Air.

Peristiwa itu terjadi Senin (18/5/2026). Armada berangkat dari Marmaris, Turki, sejak Kamis lalu dengan misi mengirim bantuan kemanusiaan untuk warga Gaza yang masih hidup di bawah blokade.

Sekitar 310 mil laut dari Gaza, angkatan laut Israel memotong jalur pelayaran mereka. Tentara kemudian membawa para relawan dan awak kapal ke dalam operasi penahanan.

Tiga Jurnalis Indonesia Ikut Ditahan

Tiga wartawan Indonesia yang ikut dalam misi tersebut ialah Bambang Noroyono dan Thoudy Badai Rifan Billah dari Republika, serta Andre Prasetyo Nugroho dari Tempo TV.

Ini Belum Selesai

Pemkab Lombok Tengah Tutup 25 Minimarket: Menjaga Pasar, Mengorbankan Pekerja?

Bundaran UGM Jadi Sorotan, Spanduk Permintaan Maaf Terbentang

Mereka datang bukan sebagai kombatan. Mereka menjalankan tugas jurnalistik sekaligus mendokumentasikan misi sipil internasional menuju Gaza.

Masalahnya, kasus ini tidak berhenti pada penangkapan biasa. Peristiwa tersebut langsung menyentuh isu yang jauh lebih besar: kebebasan pers, hukum internasional, dan keberanian diplomasi Indonesia di tengah konflik global.

Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat, mengatakan pihaknya langsung berkomunikasi dengan pimpinan redaksi Republika dan Tempo TV setelah menerima kabar penangkapan tersebut.

Dewan Pers juga mengecam tindakan Israel yang menghentikan kapal sipil di perairan internasional. Menurut Komaruddin, tindakan itu mengganggu misi kemanusiaan sekaligus menghambat kerja jurnalistik.

“Dewan Pers meminta pemerintah Indonesia mengintensifkan jalur diplomatik untuk membebaskan dan memulangkan seluruh WNI,” ujarnya.

Diplomasi Tidak Bisa Berhenti di Pernyataan

Pernyataan Dewan Pers memperlihatkan satu hal penting. Negara tidak cukup hanya menyampaikan kecaman dari jauh.

Ketika aparat militer asing menahan warga sipil dan wartawan Indonesia, diplomasi berubah menjadi ujian nyata perlindungan negara terhadap warganya sendiri.

Pemimpin Redaksi Republika, Andi Muhyiddin, juga mengecam intersepsi yang dilakukan Israel. Ia menyebut tindakan tersebut melanggar hukum internasional dan prinsip kemanusiaan universal.

Menurut Andi, para relawan datang tanpa senjata. Mereka membawa bantuan logistik, obat-obatan, dan solidaritas bagi warga Gaza yang selama berbulan-bulan menghadapi blokade dan agresi.

“Kami berdiri bersama para relawan kemanusiaan dunia. Kami menolak segala bentuk kriminalisasi terhadap misi kemanusiaan di perairan internasional,” katanya.

Gaza dan Perang Narasi Global

Konflik Gaza kini bukan lagi sekadar perang wilayah. Konflik itu berubah menjadi benturan narasi global antara keamanan dan kemanusiaan.

Semakin banyak negara dan masyarakat sipil mencoba mengirim bantuan ke Gaza. Namun di saat yang sama, blokade Israel juga semakin keras menghadang gerakan solidaritas internasional.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) ikut mengecam penangkapan para aktivis dan jurnalis tersebut. Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Sudarnoto Abdul Hakim, menilai tindakan Israel menunjukkan ketakutan terhadap membesarnya dukungan dunia untuk Palestina.

Menurutnya, penangkapan para relawan justru akan memperbesar solidaritas internasional terhadap Gaza.

“Penangkapan terhadap wartawan dan relawan kemanusiaan tidak akan menghentikan dukungan dunia terhadap Palestina,” ujarnya.

Ketika Wartawan Menjadi Bagian dari Krisis

Ironisnya, wartawan yang seharusnya melaporkan krisis kini justru masuk ke dalam krisis itu sendiri.

Mereka datang membawa kamera, catatan, dan laporan lapangan. Namun perang membuat saksi juga ikut menjadi target.

Di titik ini, publik dunia menyaksikan bagaimana konflik tidak hanya menghancurkan wilayah sipil, tetapi juga menekan ruang kemanusiaan dan kebebasan pers.

Dan bagi Indonesia, peristiwa ini membawa pertanyaan yang jauh lebih besar: seberapa kuat negara melindungi suara, kemanusiaan, dan warganya sendiri di panggung internasional?

Sebab ketika kapal bantuan saja dianggap ancaman, dunia patut bertanya: siapa sebenarnya yang takut pada kebenaran? @dimas

Tags: Blokade IsraelDiplomasi IndonesiaGaza PalestinaJurnalis IndonesiaMisi Kemanusiaan

Kamu Melewatkan Ini

WNI Dicegat Israel: Ketika Bantuan Kemanusiaan Dianggap Ancaman

WNI Dicegat Israel: Ketika Bantuan Kemanusiaan Dianggap Ancaman

by dimas
Mei 20, 2026

WNI dicegat Israel saat membawa bantuan Gaza bersama jurnalis Indonesia. Solidaritas kemanusiaan kini berubah jadi konflik politik. Tabooo.id - Malam...

Jakarta Informal Meeting: Ketika Perdamaian Tidak Lahir dari Meja Resmi

Jakarta Informal Meeting: Ketika Perdamaian Tidak Lahir dari Meja Resmi

by Tabooo
April 25, 2026

Jakarta Informal Meeting bukan sekadar forum diplomatik. Ia adalah momen ketika dunia mulai menyadari bahwa tidak semua konflik bisa diselesaikan...

Tan Malaka Tolak Renville: Ini Isi Sambutan Murba 1948

Tan Malaka Tolak Renville: Ini Isi Sambutan Murba 1948

by Tabooo
April 20, 2026

Tan Malaka menolak Perjanjian Renville. Tapi ini bukan sekadar penolakan politik biasa. Dalam Sambutan Murba 1948, ia justru membongkar sesuatu...

Next Post
Pembajak Buku Panen Miliaran, Penulis Malah Hidup dari Tepuk Tangan

Pembajak Buku Panen Miliaran, Penulis Malah Hidup dari Tepuk Tangan

Pilihan Tabooo

Ribuan Salib Merah di Papua, Apakah Fakta?

Ribuan Salib Merah di Papua, Apakah Fakta?

Mei 11, 2026

Realita Hari Ini

KUHAP 2025 Tegaskan Peran Sah PPNS dalam Sistem Peradilan Pidana

KUHAP 2025 Tegaskan Peran Sah PPNS dalam Sistem Peradilan Pidana

Februari 4, 2026

Inbox Lebih Kalem: Saat Gmail Pakai AI Buat Ngurangin Drama Email

Mei 8, 2026

Wacana Beras Satu Harga, Bulog Buka Kartu Soal Rugi

Desember 30, 2025

Kota Sehat, Papua Sekarat: Ironi Layanan Kesehatan Indonesia

November 27, 2025
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id