Tabooo.id: Global – Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei akhirnya membuka angka yang selama ini ditutup rapat. Pada Sabtu (17/1/2026), ia mengakui bahwa gelombang demonstrasi anti-pemerintah yang mengguncang Iran selama lebih dari dua pekan telah menewaskan ribuan orang. Dalam pernyataannya, Khamenei secara langsung menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai aktor utama di balik kekerasan tersebut.
Pernyataan itu disampaikan melalui media pemerintah Iran dan dikutip Al Jazeera. Menurut Khamenei, kerusuhan yang melanda berbagai kota di Iran bukan sekadar protes domestik, melainkan aksi terorganisasi dengan dukungan asing.
“Mereka yang terkait dengan Israel dan Amerika Serikat telah menyebabkan kerusakan besar dan membunuh beberapa ribu orang,” ujar Khamenei.
Pengakuan ini menjadi momen langka. Selama ini, otoritas Iran hanya menyebut korban jiwa dalam jumlah ratusan, termasuk dari kalangan aparat keamanan. Kali ini, angka ribuan muncul langsung dari figur tertinggi negara.
Dari Krisis Ekonomi ke Tuduhan Konspirasi Global
Gelombang protes di Iran pecah sejak 28 Desember 2025. Awalnya, kemarahan publik meledak akibat lonjakan inflasi, kenaikan harga bahan pokok, dan tekanan biaya hidup yang makin tak tertahankan. Namun, seiring waktu, demonstrasi berubah menjadi tantangan terbuka terhadap pemerintahan.
Pemerintah Iran membaca perubahan itu sebagai ancaman serius. Karena itu, narasi pun bergeser. Khamenei menegaskan bahwa aksi protes tersebut telah “dibajak” oleh kelompok kekerasan yang, menurutnya, mendapat sokongan penuh dari luar negeri.
Dalam pidatonya, Khamenei bahkan menyebut Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai “kriminal” dan menuduhnya terlibat langsung dalam apa yang ia sebut sebagai pemberontakan anti-Iran.
“Pemberontakan terbaru ini berbeda, karena presiden AS sendiri terlibat secara pribadi,” tambahnya.
Dengan pernyataan itu, Iran kembali menghidupkan narasi lama kekacauan domestik bukan semata kegagalan internal, melainkan hasil rekayasa geopolitik musuh-musuhnya.
Ancaman Balasan dan Pesan ke Dalam Negeri
Meski menuding keterlibatan asing, Khamenei berusaha menarik garis tegas. Ia menegaskan bahwa Iran tidak berniat memicu konflik di luar negeri. Namun, ia juga mengirim peringatan keras bagi siapa pun yang terlibat, baik dari dalam maupun luar negeri.
“Kami tidak akan menyeret negara ini ke dalam perang. Tetapi kami juga tidak akan membiarkan penjahat domestik atau internasional lolos tanpa hukuman,” tegasnya.
Pernyataan ini sekaligus berfungsi ganda: sebagai pesan ke luar negeri dan sebagai sinyal ke dalam negeri bahwa negara masih memegang kendali penuh.
Angka Korban: Versi Negara dan Versi HAM
Jurnalis Al Jazeera yang melaporkan dari Teheran melalui sambungan satelit menyebut pidato Khamenei ini menandai perubahan penting. Untuk pertama kalinya, otoritas tertinggi Iran mengakui skala korban secara terbuka.
“Dia akhirnya memberikan gambaran jumlah korban tewas. Ini belum pernah terjadi sebelumnya,” ujarnya.
Namun, angka resmi tetap kabur. Pemerintah Iran tidak merinci data korban secara detail. Di sisi lain, kelompok hak asasi manusia yang berbasis di Amerika Serikat, HRANA, memperkirakan sekitar 3.000 orang telah tewas dalam aksi protes tersebut.
Perbedaan angka ini mempertegas satu hal: krisis kepercayaan publik terhadap data resmi negara masih menganga lebar.
Selain korban jiwa, pemerintah Iran juga mengakui telah menangkap sekitar 3.000 orang sejak demonstrasi pecah. Para pengunjuk rasa dituduh melakukan vandalisme terhadap fasilitas publik, narasi yang terus diulang untuk membenarkan penindakan keras aparat.
Internet, Kontrol, dan Upaya Normalisasi
Di tengah tekanan internasional, pemerintah Iran mulai melonggarkan sebagian pembatasan. Kantor berita semi-resmi Fars melaporkan bahwa layanan pesan singkat (SMS) mulai dipulihkan secara nasional. Langkah ini menjadi bagian dari pembukaan bertahap akses komunikasi setelah hampir delapan hari pemutusan internet nyaris total.
Meski demikian, pemulihan layanan komunikasi belum serta-merta memulihkan kepercayaan publik. Bagi banyak warga Iran, pengakuan “ribuan korban” justru menegaskan betapa mahal harga protes di tengah krisis ekonomi.
Di saat rakyat turun ke jalan karena harga pangan, negara justru berbicara tentang konspirasi global. Dan di antara dua narasi itu, korban terus berjatuhan sementara dunia kembali dihadapkan pada pertanyaan lama: apakah ini soal keamanan nasional, atau kegagalan negara membaca jeritan warganya sendiri? @dimas




