Tabooo.id: Vibes – Bau badan itu demokratis. Ia tidak peduli profesi, status sosial, atau gelar. Tukang martabak bisa kena. Peserta kontes kecantikan juga bisa. Bahkan putri raja atau menantu presiden pun tidak kebal.
Semua manusia berkeringat. Dan di balik keringat itu, ada cerita panjang tentang bagaimana manusia sejak ribuan tahun lalu berusaha menaklukkan satu musuh kecil: bau tubuh.
Menariknya, bau badan sebenarnya bukan berasal dari keringat itu sendiri. Secara ilmiah, keringat pada dasarnya tidak berbau. Yang membuatnya “beraroma” justru bakteri yang hidup di kulit dan rambut tubuh.
Ketika tubuh berkeringat karena panas, olahraga, atau gugup bakteri akan memecah keringat tersebut. Proses itu menghasilkan senyawa bernama thioalcohols, zat kimia yang memunculkan aroma khas tubuh manusia.
Dengan kata lain, bau badan adalah hasil kerja sama antara tubuh manusia dan koloni bakteri yang tinggal di dalamnya.
Jalan Ninja Bernama Deodoran
Di zaman modern, solusi paling cepat biasanya datang dari rak supermarket. Deodoran dan antiperspiran menjadi semacam “senjata wajib” untuk menjaga tubuh tetap wangi.
Namun keduanya sebenarnya memiliki fungsi berbeda.
Dalam buku Serba-Serbi Kesehatan Perempuan: Apa yang Perlu Kamu Ketahui tentang Tubuhmu, penulis Sallika NS menjelaskan bahwa deodoran bekerja dengan melawan bakteri penyebab bau. Sementara antiperspiran bertugas mengurangi produksi keringat dengan menyumbat pori-pori kulit.
Deodoran masuk kategori kosmetik, sedangkan antiperspiran bahkan sering diklasifikasikan sebagai obat karena cara kerjanya yang mempengaruhi fungsi tubuh.
Meski begitu, solusi paling sederhana tetap klasik: mandi.
Membersihkan tubuh secara rutin membantu menghilangkan keringat, kotoran, serta bakteri yang berkumpul di lipatan tubuh terutama di area ketiak yang terkenal sebagai “episentrum aroma”.
Menjaga ketiak tetap kering, misalnya dengan bedak penyerap keringat atau produk antiperspiran, juga membantu mencegah bau badan.
Namun jika kita mundur jauh ke masa lalu, manusia sebenarnya sudah punya “ritual anti bau badan” jauh sebelum deodoran ditemukan.
Spa Nusantara Sebelum Spa Instagram
Dalam tradisi Nusantara, perawatan tubuh bukan sekadar soal estetika. Ia adalah bagian dari budaya.
Sejak era Medang atau Mataram Kuno pada abad ke-8, hingga Majapahit pada abad ke-13, perempuan Jawa sudah mengenal berbagai bentuk terapi tubuh untuk menjaga kebersihan dan aroma tubuh.
Praktiknya mirip spa modern hanya saja bahan-bahannya berasal dari dapur dan kebun.
Menurut Dr. Martha Tilaar dalam buku The Power of Jamu: Kekayaan dan Kearifan Lokal Indonesia, ramuan lulur tradisional biasanya memanfaatkan bahan alami seperti beras, daun pandan, kemuning, dan jeruk purut.
Bahan-bahan itu digiling, dicampur, lalu dipijatkan ke kulit tubuh.
Hasilnya? Kulit lebih bersih, tubuh lebih harum.
Tradisi ini bukan sekadar ritual kecantikan. Ia juga mencerminkan pengetahuan lokal tentang kesehatan tubuh.
Peneliti Dewi Ratna Nurhayati dan Siti Fairuz binti Yusof dalam buku Herbal dan Rempah menyebut bahwa praktik spa berbasis rempah bahkan tercatat dalam relief Candi Borobudur.
Relief tersebut menggambarkan aktivitas terapi kesehatan menggunakan kolam air, pijatan, dan ramuan herbal.
Cerita serupa juga muncul dalam Serat Centhini, naskah sastra Jawa klasik yang menjelaskan praktik spa perempuan pada masa Majapahit dan Mataram.
Bisa dibilang, sebelum spa hotel bintang lima hadir di kota-kota modern, orang Nusantara sudah lebih dulu mengenalnya.
Wewangian dari Zaman Para Dewa
Sementara itu, peradaban dunia lain juga memiliki cara sendiri untuk mengatasi bau tubuh.
Di Mesopotamia sekitar 2000 SM, manusia sudah menggunakan minyak wangi dan getah aromatik untuk menutupi aroma tubuh. Bahan tersebut biasanya dibakar menjadi dupa.
Asapnya menghasilkan aroma harum yang menyebar ke sekitar tubuh.
Tradisi ini kemudian menyebar ke Mesir Kuno dan Yunani, di mana masyarakat mulai bereksperimen dengan berbagai bahan aromatik.
Penulis Valerine Ann Worwood dalam The Complete Book of Essential Oils and Aromatherapy mencatat bahwa masyarakat Mesir menggunakan kemenyan, damar wangi, kayu manis, jintan, daun mint, hingga getah pinus untuk menciptakan aroma tubuh yang menyenangkan.
Bahkan tokoh legendaris seperti Ratu Cleopatra VII terkenal sebagai penggemar parfum.
Menurut buku The Perfumed Pages of History karya Arch Stanton, Cleopatra dikenal menggunakan kombinasi bahan aromatik seperti akasia dan theca untuk menciptakan wewangian khasnya.
Di masa itu, parfum bukan hanya soal aroma. Ia juga simbol kekuasaan, status sosial, dan daya tarik.
Bau Badan dan Peradaban Manusia
Jika dipikir-pikir, perjalanan manusia melawan bau badan sebenarnya adalah kisah kecil dari peradaban itu sendiri.
Dari lulur rempah di kerajaan Jawa, dupa aromatik Mesopotamia, parfum Cleopatra, hingga deodoran roll-on di minimarket semuanya menunjukkan satu hal: manusia selalu ingin merasa bersih dan wangi.
Di era digital hari ini, mungkin kita hanya butuh beberapa detik untuk membeli deodoran secara online.
Tapi di balik produk kecil itu, tersimpan sejarah panjang ribuan tahun.
Sejarah tentang manusia, keringat, bakteri, dan upaya tak pernah selesai untuk tetap harum di tengah kehidupan yang terus bergerak.
Karena pada akhirnya, bau badan mungkin hal yang paling manusiawi.
Dan mungkin juga yang paling universal. @dimas




