Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Cireng dan Cara Halus Mengubah Kebiasaan Makan Generasi Muda

by Anisa
Mei 8, 2026
in Culture, Food
A A
Home Culture
Share on Facebook
Share on Twitter
Cireng terlihat sederhana, tetapi cara orang mengonsumsinya hari ini tidak lagi sesederhana itu. Dari gorengan pinggir jalan, ia berubah menjadi simbol nongkrong yang tampak santai namun sarat makna sosial. Orang tidak lagi sekadar makan untuk kenyang mereka membeli pengalaman, membangun citra, dan tanpa sadar mengikuti pola konsumsi yang terus diulang.

Tabooo.id: Food – Cireng tidak lagi sekadar gorengan murah. Kini, ia menjelma menjadi simbol gaya hidup yang menyimpan kontradiksi. Orang memujanya sebagai camilan merakyat, tetapi pada saat yang sama mereka mengangkatnya ke meja kafe, memotretnya, lalu menjual ulang citra “sederhana tapi estetik.” Pergeseran ini tidak muncul begitu saja. Pasar mendorongnya, dan generasi muda mengamplifikasinya.

Dari Makanan Bertahan Hidup ke Simbol Nongkrong

Pada awalnya, cireng muncul sebagai respons langsung atas kebutuhan bertahan hidup. Pada era 1980-an, pedagang kaki lima aktif menjualnya di depan sekolah dan terminal sambil menekan biaya produksi ke titik paling rendah. Mereka meracik adonan dari tepung tapioka, air panas, dan bumbu sederhana tanpa standar baku. Mereka juga membentuk cireng secara seadanya, menyajikannya tanpa memperhatikan kebersihan, serta sangat bergantung pada kualitas minyak yang mereka pakai berulang kali.

“Dulu kami jualan hanya untuk kenyangin anak sekolah, bukan buat gaya-gayaan,” ujar Abah Cireng, pelopor Cireng Cipaganti, dalam wawancara pada 12 Juni 2020.

Pernyataan itu menegaskan satu hal: tidak ada yang sejak awal merancang cireng sebagai simbol gaya hidup. Namun kemudian, pasar mendorong dan memaksanya naik kelas.

Estetika Mengalahkan Fungsi

Kini, kafe-kafe modern menyajikan cireng di piring keramik dengan plating rapi. Mereka menempatkannya sejajar dengan minuman kopi mahal. Perubahan ini terlihat menarik, tetapi menyimpan ironi. Orang tidak lagi makan karena lapar. Mereka makan untuk terlibat dalam budaya sosial.

Ini Belum Selesai

Tesla Pamerkan Mobil Terbang, Benarkah Siap Meluncur pada 2028?

JOFAFEST 6 Usung “Transcend”, Ajak Sineas Muda Melampaui Batas

“Sekarang cireng itu bukan sekadar makanan, tapi teman ngobrol,” kata seorang barista di Bandung pada 5 Maret 2023.

Kalimat itu sederhana, tetapi dampaknya besar. Cireng berubah fungsi. Ia tidak lagi mengisi perut, melainkan mengisi ruang sosial.

Murah yang Membuat Ketagihan

Selain itu, harga menjadi senjata utama. Produsen menjaga biaya tetap rendah, sehingga konsumen merasa aman membeli berulang kali. Namun pola ini menciptakan jebakan. Orang membeli bukan karena butuh, tetapi karena mudah dan terasa ringan di dompet.

Akibatnya, konsumsi terjadi tanpa kontrol. Cireng menciptakan ilusi hemat, padahal frekuensi pembelian meningkat diam-diam. Ini bukan soal harga murah lagi, tetapi soal kebiasaan yang terbentuk tanpa disadari.

Tekstur yang Mengunci Emosi

Di sisi lain, tekstur memainkan peran yang jauh lebih besar daripada yang terlihat. Lapisan luar yang renyah dan bagian dalam yang kenyal menciptakan sensasi yang sulit ditolak. Setiap gigitan memaksa rahang bekerja lebih keras, lalu memicu pelepasan dopamin di otak.

Respons ini membuat orang merasa nyaman. Mereka kembali membeli bukan karena lapar, tetapi karena mencari efek tenang sesaat. Dalam kondisi tekanan sosial dan digital, generasi muda menggunakan cireng sebagai pelarian cepat.

Namun kenyamanan itu bersifat sementara. Ia tidak menyelesaikan tekanan, hanya menundanya.

Inovasi yang Memaksa Konsumsi Terus Berjalan

Industri tidak tinggal diam. Mereka terus menciptakan varian baru: mercon, mozzarella, hingga rujak. Setiap inovasi dirancang untuk mencegah kebosanan.

“Kalau rasanya itu-itu saja, pembeli cepat pindah,” ujar seorang pelaku UMKM cireng frozen food pada 18 Agustus 2022.

Pernyataan ini menjelaskan strategi industri secara gamblang. Mereka tidak menjual makanan semata. Mereka menjual sensasi baru agar konsumen terus kembali.

Kualitas yang Mulai Dipertanyakan

Namun ekspansi cepat membawa konsekuensi. Produksi massal sering mengorbankan kontrol kualitas. Bahan baku tidak selalu konsisten, dan proses pengolahan tidak selalu terjaga.

Meski begitu, konsumen jarang mempertanyakan hal ini. Mereka lebih fokus pada rasa, harga, dan pengalaman. Standar kualitas perlahan bergeser ke prioritas kedua.

Ini Bukan Sekadar Cireng

Pada akhirnya, fenomena ini menunjukkan sesuatu yang lebih besar. Cireng bukan sekadar makanan yang naik kelas. Ia menjadi contoh bagaimana gaya hidup modern bekerja.

Pasar mengambil produk sederhana, membungkusnya dengan narasi, lalu menjualnya kembali sebagai pengalaman sosial. Konsumen menerimanya tanpa banyak pertanyaan.

Ini bukan sekadar gorengan yang viral. Ini pola konsumsi yang terus berulang: murah, adiktif, dan terasa relevan. @anisa

Tags: kuliner tradisionalMakananStreet FoodUMKM

Kamu Melewatkan Ini

Fatwa Haram Vape di Depan Mata, Terus Nasib UMKM yang Tak Terlibat Narkotika?

Fatwa Haram Vape di Depan Mata, Terus Nasib UMKM yang Tak Terlibat Narkotika?

by teguh
Oktober 18, 2026

Aroma buah tidak menjamin cairan vape aman. Di balik kemasan yang tampak biasa, aparat menghadapi tantangan untuk membedakan produk legal...

Perpres Ojol Terbit: 92 Persen untuk Driver, Tapi Siapa yang Mengawasi Permainannya?

Perpres Ojol Resmi: Negara Mengatur 92 Persen, Platform Mengendalikan Permainan

by teguh
Oktober 8, 2026

Perpres Nomor 27 Tahun 2026 akhirnya resmi terbit. Perpres Ojol ini membawa satu angka yang langsung menarik perhatian 92 persen...

UMKM Cari Modal, SLIK Jadi Tembok: DPRD Mojokerto Panggil Bank Jatim

UMKM Cari Modal, SLIK Jadi Tembok: DPRD Mojokerto Panggil Bank Jatim

by teguh
September 23, 2026

Pelaku UMKM di Kabupaten Mojokerto menghadapi persoalan yang tidak selalu terlihat dari meja kasir yaitu, riwayat kredit. Tabooo.id: Mojokerto -...

Next Post
Buku, Diskusi, dan Anak Muda: Cara Komunitas Madiun Book Party Menghidupkan Literasi Kota

Buku, Diskusi, dan Anak Muda: Cara Komunitas Madiun Book Party Menghidupkan Literasi Kota

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id