“Diam saja, nanti malah makin runyam.”
Tabooo: Deep – Kalimat itu masih menggema di rumah, sekolah, kantor, hingga lembaga hukum. Nasihat itu terdengar menenangkan, padahal menjerat. Di balik sunyi itulah kekerasan tumbuh, merayap tanpa suara, menciptakan luka yang sulit sembuh.
Di sebuah desa di Jawa Tengah, seorang gadis belasan tahun mengurung diri setelah pamannya melecehkannya. Ibunya tahu, tapi menahan diri demi “nama baik keluarga.”
Di Jakarta, seorang karyawan perempuan kehilangan pekerjaannya setelah melapor dilecehkan atasannya. HR menuduhnya “terlalu sensitif.”
Begitulah budaya diam bekerja: halus, tapi melumpuhkan.
Fenomena budaya diam terus berulang. Laporan kekerasan terhadap perempuan dan anak naik setiap tahun, tetapi hanya sedikit korban yang berani bicara. Mereka tahu risikonya: cibiran, penghakiman, bahkan ancaman.
“Pasti ada sebabnya.”
“Kenapa baru ngomong sekarang?”
Kalimat-kalimat itu menoreh luka baru pada jiwa yang belum pulih.
Sistem hukum pun sering gagal. Proses berbelit, bukti sulit, dan aparat yang tak peka terhadap isu gender membuat banyak korban menyerah sebelum kasus bergerak. Mereka lelah, bukan kalah.
Indonesia tidak kekurangan hukum, tapi kekurangan keberanian untuk mendengar.
Selama masyarakat lebih melindungi “nama baik” daripada kebenaran, kekerasan akan terus menemukan rumahnya.
Dan mungkin, dari mereka yang paling lama dipaksa diam, kita belajar satu hal:
suara paling jujur selalu lahir dari luka yang tak lagi mampu disembunyikan.





