Tabooo.id: Sport – Nama pelatih timnas Indonesia Patrick Kluivert tengah jadi bahan omongan setelah Garuda kalah 2–3 dari Arab Saudi dalam Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia ronde ke-4.
Kekalahan ini bukan sekadar hasil di papan skor. Ia menyalakan gelombang kritik dari publik, mulai dari taktik yang dinilai acak, sampai masa lalu Kluivert yang kembali diungkit, yaitu kasus judi dan utang miliaran.
Bayang Judi yang Tak Hilang
Ya, Kluivert memang pernah terseret kasus judi ilegal di Belanda. Saat itu ia berutang lebih dari 1 juta Euro (sekitar Rp16,8 miliar) kepada sindikat kriminal setelah kalah taruhan antara 2011–2012, ketika masih melatih tim cadangan FC Twente.
Ironisnya, taruhannya justru dilakukan untuk tim utama klubnya sendiri. Alih-alih untung, ia buntung besar, hingga terjerat utang yang membuatnya diintai geng kriminal.
Kasus ini baru mencuat ke publik pada 2017, ketika lima anggota sindikat ditangkap. Saat itu Kluivert sudah menjabat Direktur Olahraga Paris Saint-Germain (PSG) dan menjadi korban pemerasan.
Meski begitu, tak ada bukti bahwa ia terlibat dalam pengaturan skor atau taruhan ilegal lain. Pengacaranya, Gerard Sprong, menegaskan bahwa Kluivert hanyalah korban tekanan dan ancaman, bukan pelaku kejahatan. Polisi Belanda pun hanya memeriksanya sebagai saksi.
Legenda yang Terluka
Bagi penggemar sepak bola 90-an, Kluivert bukan nama sembarangan. Ia bagian dari generasi emas Ajax Amsterdam yang menjuarai Liga Champions 1994/1995. IA bahkan mencetak gol kemenangan di final melawan AC Milan pada usia 18 tahun.
Setelah itu, kariernya berlanjut ke AC Milan, Barcelona, dan Newcastle United, sebelum menutup masa emasnya sebagai salah satu striker paling tajam Eropa dengan 124 gol bersama Blaugrana.
Namun di balik statistik dan trofi, hidup Kluivert juga dihiasi cedera, tekanan publik, dan “belakangan” bayangan masa lalu yang enggan pergi.
Pelatih Garuda di Tengah Sorotan
Kluivert mulai meniti karier kepelatihan sejak 2010. Ia pernah jadi asisten pelatih timnas Belanda hingga menangani Curacao, sebelum akhirnya resmi jadi pelatih Indonesia pada awal 2025.
Ketua PSSI Erick Thohir menyebut penunjukan Kluivert sebagai langkah menjaga kontinuitas kultur pemain diaspora Belanda.
“Banyak pilihan, bisa Italia, bisa Spanyol, tapi kami butuh sosok yang nyambung dengan kultur pemain kita,” ujar Erick saat konferensi pers Januari 2024.
Kluivert sendiri sempat berapi-api, menyebut Indonesia punya “potensi luar biasa dengan 300 juta penduduk yang cinta sepak bola.”
Namun antusiasme itu kini berhadapan dengan realita keras, hasil minor, ekspektasi publik, dan reputasi masa lalu yang kembali menghantui.
Kisah Patrick Kluivert bukan sekadar soal satu kekalahan, tapi tentang bagaimana masa lalu seorang legenda bisa membayang hingga kini. Ia membawa nama besar dan pengalaman Eropa, tapi di negeri yang mencintai bola setengah hidup setengah mati, semua itu tak berarti tanpa hasil.
Kluivert kini berdiri di persimpangan — antara kejayaan yang dijanjikan dan keraguan yang menuntut bukti. Lalu, pertanyaannya, apakah ia akan menulis ulang kisah suksesnya di Indonesia, atau mengulang bab gelap masa lalu yang sama? @tabooo





