Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Massa May Day Yogyakarta Diduga Dikeroyok, Ini Kronologinya

by Tabooo
Mei 8, 2026
in Kriminal, Reality
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter
Massa May Day Yogyakarta mengaku menjadi korban pengeroyokan kelompok orang tak dikenal setelah menggelar aksi pada Jumat (1/5/2026) lalu. Kekerasan terjadi saat peserta aksi hendak pulang dari kawasan sekitar DPRD DIY. Kini, dua mahasiswa melapor ke Polda DIY, sementara LBH Yogyakarta mendesak polisi mengusut kasus ini sampai tuntas.

Tabooo.id: Reality – Aksi May Day 2026 di Yogyakarta yang digelar pada hari Jumat (1/5/2026) lalu, awalnya berjalan damai. Massa menyampaikan pendapat, membacakan sikap, lalu mulai membubarkan diri.

Namun, masalah justru muncul setelah aksi selesai. Kelompok orang tak dikenal diduga mengeroyok sejumlah peserta aksi saat mereka hendak pulang dari kawasan sekitar DPRD DIY.

Kasus ini kini masuk ke jalur hukum. Dua mahasiswa yang menjadi korban telah melapor ke Polda DIY dengan nomor laporan LP/B/290/V/2026/SPKT/POLDA D.I. YOGYAKARTA.

Aksi Dimulai dari Abu Bakar Ali

Massa Gerakan Nasional Pendidikan (GNP) dan Aliansi Mei Melawan (AMEL) bergerak dari kawasan eks-Parkiran Abu Bakar Ali menuju Gedung DPRD DIY pada Jumat, 1 Mei 2026, sekitar pukul 13.00 WIB. Kronologi menunjukkan massa mulai menggelar aksi sejak siang hari.

Massa membawa agenda May Day 2026 dan menyuarakan tuntutan terkait isu buruh, pendidikan, serta hak-hak masyarakat sipil.

Ini Belum Selesai

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Selama aksi berlangsung, massa menyampaikan pendapat melalui orasi dan pembacaan puisi. Situasi disebut kondusif dan tidak ada laporan perusakan fasilitas publik.

Namun, suasana berubah setelah aksi selesai.

Kekerasan Muncul Saat Massa Pulang

Sekitar pukul 16.10 WIB, massa mulai membubarkan diri. Mereka merapikan atribut aksi dan bersiap meninggalkan lokasi.

Masalah mulai muncul saat sebagian massa hendak pulang menggunakan sepeda motor. Sekelompok orang tak dikenal menghadang rombongan massa, lalu melarang mereka melintasi Jalan Malioboro dan Jalan Dagen.

Karena situasi itu, massa berbelok menuju Jalan Perwakilan di samping Gedung DPRD DIY. Dugaan pengeroyokan kemudian pecah di titik tersebut.

Sekitar sepuluh orang dari kelompok tak dikenal diduga langsung menyerang peserta aksi setelah massa mulai membubarkan diri. Termasuk di antaranya anggota Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI) dan massa lainnya.

Ironisnya, aksi sudah bubar. Tapi kekerasan justru datang saat orang-orang hendak pulang.

Korban Dipukul dan HP Dirampas

Dua mahasiswa menjadi korban utama dalam peristiwa pada 1 Mei 2026 tersebut.

Korban pertama merupakan mahasiswa berinisial A berusia 19 tahun. Kelompok penyerang diduga merampas tongkat bambu yang sebelumnya menjadi atribut aksi, lalu memukulkannya ke badan dan tangan kiri korban.

Akibatnya, korban mengalami lebam pada tangan kiri dan nyeri badan.

Korban kedua mengalami kekerasan saat mencoba mendokumentasikan kejadian menggunakan ponsel. Telepon genggamnya diduga dirampas paksa oleh kelompok penyerang.

Tidak hanya itu, kelompok penyerang juga beberapa kali memukul bagian belakang kepala korban.

Kasus ini tidak hanya bicara soal luka fisik. Ada juga dugaan perampasan barang, penghilangan bukti visual, dan tekanan psikologis terhadap peserta aksi.

LBH Yogyakarta Soroti Dugaan Pembiaran

LBH Yogyakarta menyoroti dugaan pembiaran dalam peristiwa ini. Dalam dokumen tersebut, LBH menilai aparat berada di sekitar lokasi, tetapi tidak segera menghentikan serangan terhadap massa aksi.

LBH Yogyakarta juga turun langsung untuk melerai situasi dan membantu korban menuju titik aman.

Bagi LBH, kasus ini bukan sekadar bentrokan biasa. Mereka memandang kekerasan terhadap peserta aksi sebagai ancaman terhadap hak konstitusional warga negara untuk berkumpul dan menyampaikan pendapat.

Masalahnya sederhana tapi serius. Kalau orang yang sudah selesai aksi masih bisa mendapat serangan, lalu di mana ruang aman untuk menyampaikan pendapat?

Polda DIY Harus Usut Tuntas

Polda DIY kini memproses laporan korban. Laporan itu berkaitan dengan dugaan penganiayaan, pengeroyokan, serta pencurian dengan kekerasan.

LBH Yogyakarta mendesak kepolisian mengusut kasus ini secara transparan. Mereka juga meminta aparat untuk segera mencari dan mengidentifikasi pihak yang diduga terlibat dalam penyerangan tersebut.

Selain itu, LBH menilai evaluasi terhadap aparat di lapangan juga penting. Sebab, negara tidak cukup hanya menerima laporan setelah korban terluka.

Negara harus hadir saat warga sedang terancam.

Bukan Sekadar Ricuh, Ini Ujian Ruang Sipil

Kasus dugaan pengeroyokan massa May Day Yogyakarta pada Jumat, 1 Mei 2026, membuka pertanyaan besar tentang keamanan ruang sipil.

Aksi buruh dan mahasiswa merupakan bagian dari demokrasi. Negara boleh dan harus mengawasi. Publik boleh mengkritik, bahkan memperdebatkan tuntutan mereka. Namun, tidak ada ruang untuk kekerasan fisik.

Kasus ini bukan sekadar kericuhan setelah aksi. Situasi seperti ini bisa melahirkan pola berbahaya ketika semua pihak terus membiarkannya.

Ketika orang menganggap serangan terhadap massa aksi sebagai hal biasa, publik akan belajar satu hal yang keliru, diam terasa lebih aman daripada bersuara.

Dan itu bukan demokrasi. Itu ketakutan yang pelan-pelan menjadi normal. @tabooo

Tags: aksi buruhAliansi Mei MelawanBuruhDemo MahasiswaDemonstrasiDPRD DIYJogja MemanggilLBH YogyakartaMay Day 2026NewsYogyakarta

Kamu Melewatkan Ini

“Robot Bernyawa”, Lagu SWAMI yang Ternyata Belum Benar-Benar Usang

“Robot Bernyawa”, Lagu SWAMI yang Ternyata Belum Benar-Benar Usang

by Tabooo
Mei 10, 2026

Robot Bernyawa bukan sekadar lagu lama tentang buruh pabrik era 90-an. Lagu milik SWAMI ini justru kembali terasa dekat setelah...

Film Pesta Babi Kembali Dibubarkan, Kini Terjadi di Ternate

Film Pesta Babi Kembali Dibubarkan, Kini Terjadi di Ternate

by Tabooo
Mei 10, 2026

Film Pesta Babi kembali dibubarkan. Kali ini terjadi di Ternate, Maluku Utara. Aparat TNI menghentikan kegiatan nonton bareng dan diskusi...

May Day 2026 Yogyakarta: Mei Melawan yang “Dilawan”

May Day 2026 Yogyakarta: “Mei Melawan” Tapi Dilawan

by Tabooo
Mei 9, 2026

May Day 2026 Yogyakarta awalnya berjalan seperti demonstrasi pada umumnya: long march, orasi, dan massa yang memenuhi kawasan DPRD DIY...

Next Post
8 Mei dan Semangat Kemanusiaan: Kisah di Balik Hari Palang Merah Internasional

8 Mei dan Semangat Kemanusiaan: Kisah di Balik Hari Palang Merah Internasional

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id