Sabtu, Agustus 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

PB XIV Hangabehi Turunkan 14 Pusaka di Tengah Dualisme Keraton

by dimas
Juni 17, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality Regional
Share on Facebook
Share on Twitter
Kubu PB XIV Hangabehi menggelar kirab Malam 1 Suro dengan 14 pusaka keraton. Tradisi sakral ini berlangsung di tengah masih berlangsungnya dualisme Keraton Solo.

Tabooo.id: Surakarta – Tepat ketika jarum jam menunjuk pukul 00.00 WIB, tiga ekor kebo bule keturunan Kyai Slamet melangkah keluar dari Kori Kamandungan Keraton Kasunanan Surakarta. Langkah mereka pelan, nyaris tanpa suara. Namun di belakang iring-iringan sakral itu, tersimpan cerita yang jauh lebih riuh daripada bunyi gamelan atau doa-doa malam Suro.

Malam itu, bukan hanya pusaka yang keluar dari keraton. Konflik lama tentang legitimasi dan kepemimpinan juga kembali terlihat di hadapan publik.

Kirab Malam 1 Suro tahun ini berlangsung dalam situasi yang tidak biasa. Dua kubu di Keraton Solo menggelar kirab pada waktu yang hampir bersamaan. Di satu sisi, kubu PB XIV Mangkubumi mengeluarkan tiga kebo bule dan 14 pusaka keraton. Di sisi lain, kubu PB XIV Purbaya menjalankan agenda sendiri.

Bagi ribuan warga yang memadati kawasan keraton hingga sepanjang rute kirab, malam itu tetap terasa sakral. Namun bagi mereka yang mengikuti dinamika internal Keraton Solo, kirab tahun ini menjadi simbol bahwa perpecahan belum benar-benar berakhir.

Empat Belas Pusaka dan Sebuah Pesan Kekuasaan

KGPH Panembahan Agung Tedjowulan memastikan kirab berlangsung lancar sebagaimana tradisi yang telah dijalankan setiap tahun.

Ini Belum Selesai

Relawan Gugur Antar Bantuan Gempa NTT, Siapa Melindungi Mereka?

11 Desa, 21.171 Jiwa, Bantuan Terbatas: Camat Manggarai Protes

“Baik. Kita doakan semua sesuai dengan rencana,” ujarnya kepada awak media, Selasa (16/6/2026).

Tedjowulan menyebut ada 14 pusaka yang dikeluarkan dalam kirab tersebut. Jumlah itu bukan sekadar angka. Dalam tradisi keraton, pusaka merupakan simbol legitimasi, sejarah, dan keberlanjutan kekuasaan.

Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA), KPH Eddy Wirabhumi, menegaskan seluruh pusaka yang diarak berasal dari dawuh PB XIV Mangkubumi.

Menurut Eddy, kubu PB XIV Purbaya memilih tidak mengeluarkan pusaka dalam kirab tahun ini. Karena itu, seluruh simbol sakral yang menyertai prosesi berasal dari pihak Mangkubumi.

“Kita yang mengeluarkan. Walaupun kita tadinya juga siap kalau mau sama-sama ya monggo,” kata Eddy.

Pernyataan itu terdengar sederhana. Namun di baliknya tersimpan pesan penting. Dalam tradisi Jawa, siapa yang mengeluarkan pusaka sering kali dipandang memiliki otoritas simbolik atas ritual yang dijalankan.

Kirab yang Sakral, Konflik yang Belum Selesai

Di sepanjang rute kirab, masyarakat tetap menunjukkan antusiasme tinggi. Banyak warga rela menunggu sejak malam untuk menyaksikan kebo bule melintas. Sebagian membawa anak-anak mereka. Sebagian lagi datang dengan harapan mendapatkan berkah tahun baru Jawa.

Tradisi tetap berjalan.

Namun suasana sakral itu tidak bisa sepenuhnya menutupi fakta bahwa Keraton Solo masih hidup dalam dualisme.

Konflik yang berlangsung bertahun-tahun membuat satu tradisi besar kini berjalan dalam dua arah berbeda. Ironisnya, kedua pihak sama-sama mengklaim menjaga marwah keraton dan melestarikan warisan budaya leluhur.

Malam 1 Suro yang semestinya menjadi momentum penyatuan spiritual justru kembali memperlihatkan batas-batas yang belum mampu dilebur.

Ini Bukan Sekadar Kirab

Kirab 1 Suro selalu dipahami sebagai ritual budaya. Namun tahun ini, maknanya melampaui prosesi adat.

Ini bukan sekadar tiga kebo bule yang berjalan mengelilingi kota.

Ini bukan sekadar 14 pusaka yang keluar dari dalam keraton.

Ini adalah cermin tentang bagaimana sebuah institusi budaya besar berusaha menjaga tradisi di tengah tarik-menarik legitimasi yang belum menemukan titik temu.

Publik mungkin datang untuk melihat kebo bule. Tetapi yang mereka saksikan sesungguhnya adalah sebuah kerajaan budaya yang masih mencari jalan pulang menuju kesatuan.

Dan selama dua kirab masih berjalan dalam satu malam yang sama, pertanyaan itu akan terus menggema di balik tembok Keraton Surakarta: siapa yang memegang pusaka, dan siapa yang memegang masa depan keraton? @dimas

Tags: Budaya JawaDualisme KeratonKeraton SurakartaKirab PusakaMalam 1 Suro

Kamu Melewatkan Ini

Miyos Gangsa Sekati Memanas, Dua Kubu Keraton Beda Klaim

Miyos Gangsa Sekati Memanas, Dua Kubu Keraton Beda Klaim

by dimas
Agustus 19, 2026

Miyos Gangsa Sekati di Masjid Agung Solo memanas setelah Rumbay terlibat adu mulut. Dua kubu Keraton berbeda klaim soal izin...

Bondoloemakso, Jejak Ekonomi Keraton Surakarta

Bondoloemakso, Jejak Ekonomi Keraton Surakarta

by eko
Agustus 6, 2026

Jauh sebelum bank modern berkembang, Keraton Surakarta sudah memiliki Bondoloemakso. Lembaga ini menjadi bukti kemajuan ekonomi pada masa Paku Buwono...

Sego Wiwit: Makanan yang Mengajarkan Orang Jawa Cara Bersyukur

Sego Wiwit: Makanan yang Mengajarkan Orang Jawa Cara Bersyukur

by Anisa
Agustus 3, 2026

Sego Wiwit menyimpan cerita yang jauh lebih panjang daripada cita rasanya. Orang Jawa tidak menciptakan hidangan ini untuk mengisi meja...

Next Post
Sutradara James Gunn Memuji Joe Taslim: Ada Apa dengan The Furious?

Sutradara James Gunn Memuji Joe Taslim: Ada Apa dengan The Furious?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id