Sabtu, Agustus 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Sutradara James Gunn Memuji Joe Taslim: Ada Apa dengan The Furious?

by teguh
Juni 17, 2026
in Culture, Film
A A
Home Culture
Share on Facebook
Share on Twitter
Pujian di dunia film datang setiap hari. Namun ketika Sutradara James Gunn mengangkat satu judul secara terbuka, industri hiburan biasanya ikut menoleh.

Tabooo.id – Sutradara James Gunn yang kini memimpin DC Universe itu mengaku baru saja menonton The Furious bersama sejumlah pemain dan kru Man of Tomorrow. Responsnya langsung menarik perhatian penggemar film aksi di berbagai negara.

“Wow! Baru saja menonton The Furious bersama sejumlah pemain dan kru Man of Tomorrow. Aku tidak menyangka Kenji Tanigaki bisa melampaui dirinya sendiri setelah Walled In yang luar biasa,” tulis Gunn melalui Instagram.

Gunn tidak berhenti sampai di situ.

“The Furious benar-benar membuktikan bahwa dia adalah salah satu sutradara laga terbaik yang sedang berkarya saat ini. Kami semua menyukainya!”

Bagi penonton biasa, pernyataan itu mungkin hanya terlihat sebagai apresiasi sesama pembuat film. Namun bagi industri perfilman Asia, pujian tersebut membawa makna yang jauh lebih besar.

Hollywood Mulai Menoleh ke Timur

Industri film Asia sebenarnya tidak pernah kehilangan kemampuan menciptakan aksi berkualitas.

Masalahnya, pasar global selama bertahun-tahun menjadikan Hollywood sebagai pusat gravitasi hiburan dunia. Banyak sineas Asia melahirkan inovasi, tetapi percakapan utama sering kali tetap berputar di sekitar industri Barat. Kini situasinya mulai bergeser.

The Furious hadir sebagai produksi Hong Kong berbahasa Inggris yang dipimpin Kenji Tanigaki. Namanya sudah lama melekat pada berbagai proyek besar, mulai dari film-film Donnie Yen hingga seri live-action Rurouni Kenshin.

Ini Belum Selesai

Nginang di Sekaten: Saat Sirih Menjaga Jejak Tradisi

Ritek Surakarta Kenalkan Jaranan Sentherewe di Pakuwon Mall Solo

Kali ini Tanigaki menawarkan sesuatu yang berbeda. Cerita berpusat pada Wang Wei, seorang ahli bela diri yang kehilangan putrinya akibat jaringan perdagangan anak. Saat memburu pelaku, ia bertemu Navin, seorang jurnalis yang juga berusaha mengungkap hilangnya sang istri.

Keduanya menembus dunia kriminal yang penuh kekerasan untuk mencari jawaban. Premis seperti ini memang bukan hal baru dalam film laga. Namun Tanigaki mengemasnya dengan pendekatan yang terasa lebih dekat, brutal, dan manusiawi.

Joe Taslim Akhirnya Kembali ke Akar

Ada satu detail menarik yang membuat The Furious berbeda dari banyak film aksi lainnya.

Untuk pertama kalinya dalam karier filmnya, Joe Taslim mendapat kesempatan menampilkan judo sebagai identitas utama karakternya.

“Karakter Navin ini adalah seorang grappler. Jadi dia mempunyai latar belakang judo dan lebih mengandalkan pertarungan jarak dekat untuk melakukan takedown,” kata Joe Taslim.

Fakta itu terasa ironis. Joe membangun fondasi karier atletiknya melalui judo. Namun berbagai film yang ia bintangi justru lebih sering mengarahkan dirinya menggunakan teknik bela diri lain.

“Walaupun saya dulunya pejudo, selama saya main film aksi tidak pernah disuruh jadi pejudo,” ujarnya.

Melalui The Furious, Joe akhirnya kembali pada disiplin yang membesarkan namanya.

Tanigaki melihat peluang yang jarang dilihat banyak sutradara aksi.

Alih-alih mengejar tendangan akrobatik atau gerakan berputar yang spektakuler, ia memilih menghadirkan pertarungan yang cepat, dekat, dan mematikan.

Judo bergerak lurus menuju target, Petarung meraih lawan, menjatuhkan tubuhnya, mengunci pergerakan, lalu menghentikan ancaman dalam hitungan detik. Karakter itulah yang ingin Tanigaki tampilkan di layar.

“Tantangannya adalah bagaimana membuat bela diri yang banyak orang bilang kurang enak dilihat ini tetap menarik di layar. Dan ternyata Kenji berhasil melakukan itu,” ujar Joe.

Bukan Sekadar Film Aksi

Di titik inilah The Furious menjadi lebih dari sekadar tontonan. Film ini menunjukkan bahwa sesuatu yang selama ini berada di pinggir perhatian publik tetap bisa menjadi pusat sorotan jika hadir dengan visi yang tepat.

Budaya populer sering memuja hal-hal yang besar, cepat, dan spektakuler. Sebaliknya, Tanigaki justru mengambil jalur yang berbeda. Ia mengangkat elemen yang jarang muncul di layar utama, lalu mengubahnya menjadi identitas film.

Pola itu mengingatkan pada perjalanan banyak talenta Asia. Mereka terus menghasilkan karya berkualitas selama bertahun-tahun. Namun dunia baru benar-benar melihat ketika figur besar dari Barat mulai memberikan pengakuan.

Apa Kata Para Pengamat?

Akademisi perfilman Universitas Indonesia, Dr. Bambang Suryadi, menilai pujian James Gunn menunjukkan perubahan besar dalam lanskap perfilman global.

“Penonton global hari ini tidak lagi terlalu mempersoalkan asal negara sebuah film. Mereka mencari pengalaman baru. The Furious menawarkan itu.”

Pengamat film Hikmat Darmawan melihat fenomena ini sebagai kemenangan identitas sinema Asia.

“Selama bertahun-tahun perfilman Asia mengejar standar Hollywood. Sekarang justru Hollywood yang mulai mengapresiasi pendekatan Asia.”

Sosiolog Universitas Airlangga, Dr. Bagong Suyanto, membaca fenomena tersebut sebagai tanda bergesernya pusat pengaruh budaya dunia.

“Budaya populer sekarang bergerak lebih terbuka. Asia tidak lagi hanya mengonsumsi tren global, tetapi juga menciptakannya.”

Budayawan Agus Noor menambahkan bahwa keberhasilan The Furious memperlihatkan perubahan selera publik.

“Masyarakat mulai menghargai keaslian. Mereka tidak selalu mencari sesuatu yang megah. Mereka mencari sesuatu yang terasa jujur.”

Ketika Keaslian Menjadi Senjata

Ada alasan mengapa pujian James Gunn terasa penting. Pengakuan itu tidak hanya mengangkat nama Joe Taslim atau Kenji Tanigaki.

Komentar tersebut memperlihatkan bahwa industri hiburan global mulai membuka ruang lebih besar bagi pendekatan yang berbeda.

Judo akhirnya mendapat panggung. Joe Taslim akhirnya membawa identitas bela dirinya sendiri ke layar lebar.

Sementara itu, film aksi Asia kembali menunjukkan bahwa mereka tidak harus mengikuti formula lama untuk memenangkan perhatian dunia.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah film Asia mampu bersaing dengan Hollywood.

Pertanyaannya apakah Hollywood mulai belajar dari Asia?. @teguh

Tags: DC UniverseEntertainmentFilm Aksi AsiaHollywoodJames GunnJoe TaslimJudoKenji TanigakiPop CultureSutradara FilmThe Furious

Kamu Melewatkan Ini

Game yang Menolak Mati: Mortal Kombat Bertahan 30 Tahun

Game yang Menolak Mati: Mortal Kombat Bertahan 30 Tahun

by teguh
Mei 16, 2026

Dulu, suara tombol arcade terdengar seperti ritual kecil di pusat permainan. Anak-anak antre, sementara remaja mempertaruhkan gengsi di depan layar....

Joe Taslim: Dari Matras Judo ke Hollywood

Joe Taslim: Dari Matras Judo ke Hollywood

by teguh
Mei 15, 2026

Tidak banyak aktor Indonesia yang bisa berdiri sejajar di tengah kerasnya industri Hollywood. Namun, Joe Taslim membuktikan bahwa disiplin, latihan,...

Mortal Kombat II: Kritikus dan Fans Beda, Selera Film Kita Makin Tidak Nyambung?

Mortal Kombat II: Kritikus dan Fans Beda, Selera Film Kita Makin Tidak Nyambung?

by teguh
Mei 12, 2026

Dulu, orang datang ke bioskop untuk mencari cerita. Plot yang kuat, karakter yang berkembang, dan konflik emosional sering menjadi ukuran...

Next Post
Malam 1 Suro dan Dua Takhta yang Saling Membelakangi

Malam 1 Suro dan Dua Takhta yang Saling Membelakangi

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id