Selasa, Mei 5, 2026
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
tabooo.id

Bisnis Cinta ala Oppa, Tapi Kok Serem?

by teguh
Desember 5, 2025
in Lifestyle
A A
Home Lifestyle
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Lifestyle – Pernah nggak sih kamu nonton K-drama, terus mikir, “Andai oppa-oppa ini eksis di dunia nyata, hidup pasti lebih soft dan estetik”? Nah, sebuah situs web di Brasil baru-baru ini memutuskan untuk mengkapitalisasi fantasi itu secara agresif, salah kaprah, dan jelas problematik. Hasilnya? Warganet ngamuk. Korea ngamuk. Semua ngamuk.

Dan kita pun bertanya-tanya kenapa imajinasi kencan ala drama bisa berubah jadi ladang eksploitasi?

Tren yang Bikin Kening Berkerut: Fantasi K-Drama Dijual Seperti Paket Wisata

Menurut laporan Korea Herald, situs perjodohan ini mempromosikan layanan “Hidupkan kembali keajaiban K-drama bersama oppa”. Dengan kata lain, mereka menjual fantasi oppa seolah-olah kamu sedang syuting adegan romcom di sekitar Seoul. Mereka memajang foto-foto pasangan Korea yang lagi jalan, makan, dan duduk manis di tempat wisata, lengkap dengan kata-kata Korea seperti sarang, chueok, hingga kkum biar makin estetik, tentu saja.

Situs itu bahkan menawarkan layanan absurd seperti:

  • makan malam dengan “pria Korea asli” di restoran Korea,
  • jalan-jalan di landmark kota bersama “oppa Rick” (yap, namanya Rick),
  • dan meminta sang “oppa” melafalkan dialog drama populer mirip fan service premium tapi versi lebih… menjual diri.

Secara literal, mereka mengubah kekaguman terhadap budaya Korea menjadi paket layanan komersial yang nyenggol ranah seksual.
Dan masalahnya bukan cuma cringe tapi juga berbahaya.

Ini Belum Selesai

Kuota Tanpa Batas? Nyaman Buat Kamu, Tapi Jaringan Bisa Kewalahan

Stigma Menutup Fakta: Ejakulasi dan Kesehatan yang Disalahpahami

Sampai akhirnya, Konsulat Jenderal Korea di São Paulo turun tangan. Mereka mengeluarkan peringatan serius tentang praktik eksploitatif dan dugaan penipuan asmara, pelecehan berkedok kencan, dan permintaan uang model romance scam.

Kim In-ho, petugas konsuler, bahkan menegaskan bahwa mereka akan menindak siapa pun yang memanfaatkan citra budaya Korea demi keuntungan ilegal.

Tapi Kenapa Banyak Orang Tergoda? Psikologi di Balik “Oppa Effect”

Oke, mari jujur. Kita semua pernah kebawa suasana nonton adegan Kang Ha-neul yang tiba-tiba senyum lembut. Atau Cha Eun-woo yang muncul dari balik pintu seperti wallpaper hidup. Fenomena ini nyata, dan ada beberapa alasan kenapa itu berdampak kuat:

1. K-drama membentuk standar romantis yang indah… dan sangat terkurasi

Produser K-drama menguasai ilmu menciptakan fantasi: cahaya yang hangat, dialog lembut, cowok-cowok yang emotionally available, dan konflik yang rapi. Ketika kamu nonton itu terus, otakmu mulai menganggap pola tersebut mungkin terjadi di dunia nyata.

2. Representasi “pria ideal” versi global

Banyak fans melihat “pria Korea” sebagai sosok lembut, sabar, romantis, dan penuh gesture kecil yang thoughtful. Meski tidak semua pria Korea seperti itu (jelas!), stereotip ini menyebar luas melalui drama dan idol.

3. Budaya fandom menciptakan rasa kedekatan

K-pop, K-drama, dan variety show membangun ilusi intimacy kita merasa mengenal idol dan aktor melalui layar. Akhirnya, fantasi jadi terasa dekat.

4. Kerentanan emosional membuat orang ingin percaya pada “narasi cinta cepat”

Siapa sih yang nggak ingin dicintai seperti di drama? Terutama ketika hidup nyata terasa semakin chaotic.
Algoritma media sosial pun memperkuat bubble itu: semakin banyak kamu mengonsumsi konten Korea, semakin banyak pula fantasi yang dipasang di berandamu.

Dan exploiters? Mereka tahu semua ini. Mereka tahu ini jualan yang laku.

Ketika Fantasi Berubah Jadi Eksploitasi

Masalahnya bukan pada fandom atau kegemaran kita terhadap budaya Korea. Masalahnya muncul ketika ada pihak yang menjual tubuh, identitas, atau citra budaya tertentu demi memancing fantasi seksual.

Situs itu menggunakan:

  • nama “oppa” sebagai komoditas,
  • narasi romantis sebagai umpan,
  • dan foto manipulatif untuk menciptakan ilusi pengalaman premium.

Dengan kata lain, mereka menargetkan perempuan yang mengidolakan budaya Korea, lalu memutar itu menjadi peluang eksploitasi.

Fenomena ini mengingatkan kita pada:

  • romance scam online,
  • fetishisasi ras dan etnis,
  • hypersexualization budaya tertentu,
  • dan ketimpangan kuasa dalam dunia digital.

Tren ini sebenarnya bukan hal baru. Selama bertahun-tahun, banyak orang Asia terutama perempuan Asia menjadi objek fetish di Barat. Kini, giliran pria Korea yang dicomot sebagai fantasi universal, tapi tetap dengan cara yang tidak sehat.

Di Balik Layar: Kenapa Fenomena Ini Terjadi Sekarang?

Ada beberapa faktor yang mendorong tren ini naik:

1. Globalisasi budaya Korea

Semakin besar pengaruh Hallyu, semakin besar pula peluang untuk mengkomodifikasi identitas orang Korea.

2. Ekonomi perhatian

Semua berlomba-lomba menjual hal yang paling menarik perhatian. “Oppa romantis” jelas lebih klik-worthy daripada “kencan biasa”.

3. Normalisasi dating apps dan jasa pengalaman

Sekarang orang nggak cuma nyari pasangan—mereka nyari experience. Parahnya, batas antara experience dan eksploitasi sering kabur.

4. Kesepian global

Riset Gallup dan meta-analisis psikologi beberapa tahun terakhir menunjukkan peningkatan angka kesepian pada generasi muda di banyak negara. Meski terlihat sepele, kesepian membuat orang lebih percaya pada fantasi relasi cepat.

Situs-situs seperti ini memanfaatkan semua elemen itu.

Lalu… Apa Dampaknya Buat Kamu?

Tren ini bukan sekadar drama internet. Fenomena seperti ini mengingatkan kita bahwa:

  • Fantasi boleh, tapi realita tetap perlu batas.
  • Budaya populer sangat mudah berubah menjadi komoditas.
  • Stereotip positif pun bisa berubah menjadi fetishisasi yang merendahkan.
  • Dunia digital bisa memanipulasi kebutuhan emosional kita.
  • Dan siapa pun bisa jadi target eksploitasi saat sedang mencari koneksi manusia.

Pada akhirnya, pertanyaan pentingnya bukan “Kenapa orang lain terjebak?” tapi Apakah kita juga pernah menaruh kepercayaan terlalu besar pada fantasi yang algoritma jual ke kita?

Karena meski oppa di drama selalu datang tepat waktu, di dunia nyata, kita tetap perlu menjaga diri dan mengingat bahwa cinta bukan paket layanan yang bisa kamu pesan dengan form online.

Kalau suatu situs menawarkan “kencan dengan oppa Rick,” itu tandanya satu hal log out dulu, bestie. @teguh

Tags: KoreaLayanan

Kamu Melewatkan Ini

Kpop Melemah, BTS Datang Layaknya Superhero

Kpop Melemah, BTS Datang Layaknya Superhero

by jeje
Maret 28, 2026

Tabooo.id: Vibes - Ada momen ketika musik bukan sekadar suara, tapi denyut. Dan minggu ini, denyut itu datang lagi dari...

Puluhan Ribu Personel Dikerahkan, Jawa Tengah Siap Amankan Arus Mudik

Puluhan Ribu Personel Dikerahkan, Jawa Tengah Siap Amankan Arus Mudik

by dimas
Maret 13, 2026

Tabooo.id: Regional - Beberapa hari menjelang arus mudik dan balik Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, Lapangan Apel Markas Polda Jawa...

Diduga Terkendala BPJS, Mahasiswi Uncen Meninggal di Pintu RSUD Yowari

Diduga Terkendala BPJS, Mahasiswi Uncen Meninggal di Pintu RSUD Yowari

by dimas
Maret 11, 2026

Tabooo.id: Regional - Kematian seorang mahasiswi di Kabupaten Jayapura memantik kemarahan publik. Martina Biri (23), mahasiswa Universitas Cenderawasih, meninggal dunia...

Next Post
Fenomena “Natal Terlarang” Fakta yang Bikin Kening Berkerut

Fenomena “Natal Terlarang” Fakta yang Bikin Kening Berkerut

Pilihan Tabooo

Buku, Diskusi, dan Anak Muda: Cara Komunitas Madiun Book Party Menghidupkan Literasi Kota

Buku, Diskusi, dan Anak Muda: Cara Komunitas Madiun Book Party Menghidupkan Literasi Kota

Mei 3, 2026

Realita Hari Ini

Jual Beli Titik Dapur MBG Mengemuka, Siapa Bermain di Program Makan Gratis?

Jual Beli Titik Dapur MBG Mengemuka, Siapa Bermain di Program Makan Gratis?

Mei 5, 2026

Jurnalis di Papua Terus Diteror, Kebebasan Pers Masih Sekadar Janji?

Mei 5, 2026

Virus Langka Pecah di Laut: 3 Tewas, Dunia Mulai Khawatir

Mei 5, 2026

Saat Dunia Guncang, Barito Pacific Justru Tancap Gas 200% Lebih

Mei 5, 2026
tabooo.id

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap

Stay in the Loop

  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id