Tabooo.id: Talk – Pernahkah kamu bertanya, mengapa setiap tragedi di tempat pembuangan sampah selalu berujung pada wacana lahan baru atau teknologi modern? Mengapa diskusi jarang menyentuh akar masalahnya?
Longsor di TPST Bantargebang beberapa waktu lalu kembali menunjukkan satu hal penting Indonesia belum mengelola sampah secara menyeluruh. Kita terlalu sibuk memperbaiki akhir cerita, tetapi jarang memikirkan awalnya.
Dengan kata lain, kita fokus pada gunungan sampah di TPA, namun mengabaikan proses yang membuat sampah itu menumpuk sejak awal.
Sampah, Ekonomi Sirkular, dan Pelajaran dari Jepang
Beberapa bulan lalu, saya menghadiri seminar tentang ekonomi sirkular di Jepang. Di sana, pengelolaan sampah tidak dimulai dari truk pengangkut atau tempat pembuangan akhir. Sebaliknya, mereka memulainya dari meja desain produk.
Produsen sejak awal mempertimbangkan satu pertanyaan sederhana: apakah kemasan produk ini bisa didaur ulang?
Karena itu, barang yang beredar di pasar memang dirancang agar bisa diproses kembali setelah digunakan. Sistem ini berjalan bertahap, tetapi dampaknya sangat besar terhadap pengurangan sampah.
Sebaliknya, kondisi di Indonesia masih jauh berbeda. Sebagian besar plastik sekali pakai langsung berakhir di TPA atau TPST. Selain itu, pemerintah belum memetakan aliran material secara menyeluruh. Pengawasan terhadap produsen juga masih lemah, sementara pemerintah daerah sering kewalahan menangani volume sampah.
Akibatnya, ketika gunungan sampah longsor di Bantargebang, kita hanya melihat gejala di permukaan: tanah bergerak, korban muncul, dan volume sampah melonjak. Padahal masalah utamanya jauh lebih kompleks.
Solusi Instan dan Risiko
Sebagian orang mungkin menawarkan solusi cepat. Misalnya menambah lahan TPA, membangun insinerator, atau mempercepat proyek PSEL.
Memang, langkah tersebut bisa membantu dalam jangka pendek. Namun solusi itu tidak menyentuh akar persoalan.
Tanpa desain produk yang mendukung daur ulang, tanpa edukasi masyarakat yang konsisten, dan tanpa dukungan fiskal bagi pemerintah daerah, volume sampah akan terus meningkat. Pada akhirnya, TPA hanya menjadi simbol dari rangkaian keputusan yang keliru selama bertahun-tahun.
Tabooo Bicara: Kritik yang Tetap Empatik
Kita perlu bersikap jujur. Masalah sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi atau petugas kebersihan.
Sebaliknya, persoalan ini melibatkan seluruh sistem. Produsen harus bertanggung jawab atas produknya. Konsumen harus mengubah kebiasaan. Sementara itu, pemerintah perlu membangun kerangka hukum yang jelas dan tegas.
Tanpa regulasi kuat dan kesadaran kolektif, tragedi seperti di Bantargebang akan terus terulang. Kebijakan yang bersifat reaktif hanya memadamkan gejala, bukan menyelesaikan penyebabnya.
Karena itu, kita membutuhkan pendekatan yang lebih preventif.
Refleksi Akhir: Mulai dari Meja Desain
Ekonomi sirkular sebenarnya dimulai dari keputusan yang sangat awal: desain produk.
Artinya, produsen harus merancang kemasan yang dapat didaur ulang. Pemerintah perlu memetakan aliran material secara jelas. Di sisi lain, masyarakat harus konsisten memilah sampah sejak dari rumah.
Dengan pendekatan seperti itu, TPA tidak lagi menjadi solusi utama. Sebaliknya, TPA hanya menjadi konsekuensi dari keputusan yang menumpuk selama bertahun-tahun.
Jadi, setiap kali kita melihat foto longsor Bantargebang, kita perlu mengingat satu hal masalahnya bukan hanya di TPA, tetapi sejak produk itu dirancang.
Lalu, kamu berada di kubu mana?
Masih fokus memperbesar TPA, atau mulai menuntut perubahan dari meja desain produk? @dimas




