• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Rabu, Maret 25, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Talk

Bantargebang dan Ilusi Solusi Sampah di Indonesia

Maret 13, 2026
in Talk
A A
Bantargebang dan Ilusi Solusi Sampah di Indonesia

Petugas mengoperasikan alat berat untuk mengangkut tumpukan sampah di TPST Bantargebang, Bekasi. (Foto istimewa)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Talk – Pernahkah kamu bertanya, mengapa setiap tragedi di tempat pembuangan sampah selalu berujung pada wacana lahan baru atau teknologi modern? Mengapa diskusi jarang menyentuh akar masalahnya?

Longsor di TPST Bantargebang beberapa waktu lalu kembali menunjukkan satu hal penting Indonesia belum mengelola sampah secara menyeluruh. Kita terlalu sibuk memperbaiki akhir cerita, tetapi jarang memikirkan awalnya.

RelatedPosts

Lebaran Beda Hari, Antara Ilmu, Ego, dan Toleransi

Sunyi dan Ramai Bertemu: Seberapa Siap Kita Hidup dalam Perbedaan?

Dengan kata lain, kita fokus pada gunungan sampah di TPA, namun mengabaikan proses yang membuat sampah itu menumpuk sejak awal.

Sampah, Ekonomi Sirkular, dan Pelajaran dari Jepang

Beberapa bulan lalu, saya menghadiri seminar tentang ekonomi sirkular di Jepang. Di sana, pengelolaan sampah tidak dimulai dari truk pengangkut atau tempat pembuangan akhir. Sebaliknya, mereka memulainya dari meja desain produk.

Produsen sejak awal mempertimbangkan satu pertanyaan sederhana: apakah kemasan produk ini bisa didaur ulang?

Karena itu, barang yang beredar di pasar memang dirancang agar bisa diproses kembali setelah digunakan. Sistem ini berjalan bertahap, tetapi dampaknya sangat besar terhadap pengurangan sampah.

Sebaliknya, kondisi di Indonesia masih jauh berbeda. Sebagian besar plastik sekali pakai langsung berakhir di TPA atau TPST. Selain itu, pemerintah belum memetakan aliran material secara menyeluruh. Pengawasan terhadap produsen juga masih lemah, sementara pemerintah daerah sering kewalahan menangani volume sampah.

Akibatnya, ketika gunungan sampah longsor di Bantargebang, kita hanya melihat gejala di permukaan: tanah bergerak, korban muncul, dan volume sampah melonjak. Padahal masalah utamanya jauh lebih kompleks.

Solusi Instan dan Risiko

Sebagian orang mungkin menawarkan solusi cepat. Misalnya menambah lahan TPA, membangun insinerator, atau mempercepat proyek PSEL.

Memang, langkah tersebut bisa membantu dalam jangka pendek. Namun solusi itu tidak menyentuh akar persoalan.

Tanpa desain produk yang mendukung daur ulang, tanpa edukasi masyarakat yang konsisten, dan tanpa dukungan fiskal bagi pemerintah daerah, volume sampah akan terus meningkat. Pada akhirnya, TPA hanya menjadi simbol dari rangkaian keputusan yang keliru selama bertahun-tahun.

Tabooo Bicara: Kritik yang Tetap Empatik

Kita perlu bersikap jujur. Masalah sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi atau petugas kebersihan.

Sebaliknya, persoalan ini melibatkan seluruh sistem. Produsen harus bertanggung jawab atas produknya. Konsumen harus mengubah kebiasaan. Sementara itu, pemerintah perlu membangun kerangka hukum yang jelas dan tegas.

Tanpa regulasi kuat dan kesadaran kolektif, tragedi seperti di Bantargebang akan terus terulang. Kebijakan yang bersifat reaktif hanya memadamkan gejala, bukan menyelesaikan penyebabnya.

Karena itu, kita membutuhkan pendekatan yang lebih preventif.

Refleksi Akhir: Mulai dari Meja Desain

Ekonomi sirkular sebenarnya dimulai dari keputusan yang sangat awal: desain produk.

Artinya, produsen harus merancang kemasan yang dapat didaur ulang. Pemerintah perlu memetakan aliran material secara jelas. Di sisi lain, masyarakat harus konsisten memilah sampah sejak dari rumah.

Dengan pendekatan seperti itu, TPA tidak lagi menjadi solusi utama. Sebaliknya, TPA hanya menjadi konsekuensi dari keputusan yang menumpuk selama bertahun-tahun.

Jadi, setiap kali kita melihat foto longsor Bantargebang, kita perlu mengingat satu hal masalahnya bukan hanya di TPA, tetapi sejak produk itu dirancang.

Lalu, kamu berada di kubu mana?
Masih fokus memperbesar TPA, atau mulai menuntut perubahan dari meja desain produk? @dimas

Tags: BantargebangBebasDaur UlangEkonomiIndonesiaKebijakanKrisisLingkunganLingkungan HidupPengelolaanplastikSampahSirkularSolusi
Next Post
BMKG Jelaskan Penyebab Udara Panas di Jateng: Pergerakan Semu Matahari

BMKG Jelaskan Penyebab Udara Panas di Jateng: Pergerakan Semu Matahari

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • SSD Lebih Awet dari HDD? Atau Kita yang Makin Takut Kehilangan Data?

    SSD Lebih Awet dari HDD? Atau Kita yang Makin Takut Kehilangan Data?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kuta Not Crime: Kenapa Muncul di Tembok Poppies?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga Bitcoin Melemah di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KPK Buka Peluang Tahanan Rumah, Kasus Yaqut Jadi Sorotan Publik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Trump Beri Ultimatum 48 Jam ke Iran untuk Buka Selat Hormuz

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.