Ribuan pemulung Bantargebang menghadapi ketidakpastian ketika Jakarta mempercepat penghentian open dumping dan mengubah sistem pengelolaan sampah.
Tabooo.id – Setiap pagi, ribuan orang mendaki bukit sampah di TPST Bantargebang bukan untuk membuang sesuatu. Mereka datang mencari plastik, logam, dan barang bekas agar keluarga tetap bisa makan. Kini, gunungan sampah mulai menyusut. Bersamaan dengan itu, kecemasan ribuan pemulung ikut membesar. Kisah ini bersumber dari laporan yang Anda lampirkan.
Bagi banyak orang, penghentian sistem open dumping menjadi kabar baik bagi lingkungan. Namun bagi sekitar 6.000 pemulung Bantargebang, kebijakan itu justru memunculkan satu pertanyaan sederhana: besok mereka harus mencari nafkah di mana?
Hidup yang Tumbuh Bersama Sampah
Badarudin, 45 tahun, mengenal gunungan sampah sejak kecil. Bantargebang membesarkannya, lalu memberinya pekerjaan sebagai pemulung. Setiap hari ia memungut barang bekas yang masih memiliki nilai jual.
Empat bulan terakhir, ritme hidupnya berubah. Longsor yang sempat terjadi membuat Jakarta mengirim lebih sedikit sampah ke Bantargebang. Akibatnya, Badarudin harus berjalan lebih jauh dan bekerja lebih lama untuk memperoleh hasil yang semakin kecil.
Sebelumnya, ia bisa membawa pulang sekitar Rp100 ribu setiap hari. Kini ia hanya mengantongi Rp50 ribu hingga Rp70 ribu, meski menghabiskan lebih banyak tenaga di bawah terik matahari dan bau menyengat.
“Kami tidak menolak. Tapi tolong pikirkan nasib kami, kami cuma orang kecil,” ujar Badarudin.
Bantargebang Mewariskan Profesi
Di Bantargebang, banyak keluarga mewariskan profesi pemulung kepada anak-anaknya. Mereka tumbuh di tengah gunungan sampah, lalu meneruskan pekerjaan orang tua karena hampir tidak memiliki pilihan lain.
Andi, 32 tahun, membangun usaha pengepulan plastik di kawasan itu. Ia mempekerjakan 15 pemulung untuk mencari dan memilah plastik berdasarkan warna serta jenisnya.
Dulu, Andi mampu mengumpulkan tujuh hingga sepuluh ton plastik setiap hari. Sekarang ia hanya memperoleh sekitar 2,5 ton. Penurunan itu langsung memangkas pendapatan para pekerjanya. Upah harian yang dulu mencapai Rp140 ribu hingga Rp160 ribu kini turun menjadi Rp40 ribu hingga Rp70 ribu.
Lingkungan Perlu Diselamatkan, Manusia Juga
Pemerintah Provinsi Jakarta menargetkan penghentian total praktik open dumping di TPST Bantargebang pada 2029.
Untuk mencapai target itu, pengelola TPST mulai menerapkan sistem controlled landfill. Petugas menata dan memadatkan sampah, kemudian menutupnya dengan material tertentu serta geomembran. Langkah itu membantu mengurangi pencemaran, menekan risiko longsor, dan mencegah kebakaran. Pada saat yang sama, Pemerintah Provinsi Jakarta mewajibkan warga memilah sampah sejak dari rumah sehingga hanya residu yang masuk ke Bantargebang.
Kebijakan tersebut membawa manfaat besar bagi lingkungan. Namun kebijakan yang sama juga mengubah kehidupan ribuan keluarga yang selama puluhan tahun menggantungkan penghasilan pada sampah.
Transisi Harus Mengajak Semua Orang
Indonesia memang membutuhkan sistem pengelolaan sampah yang lebih modern. Namun pemerintah juga harus memastikan perubahan itu tidak memutus mata pencaharian kelompok yang paling rentan.
Selama puluhan tahun, para pemulung membantu memilah sampah yang masih memiliki nilai ekonomi. Mereka ikut mengurangi beban lingkungan, meski sering luput dari perhatian.
Kini sistem berubah. Karena itu, mereka berharap pemerintah tidak meninggalkan mereka dalam proses transisi tersebut.
Bagi para pemulung Bantargebang, yang mereka perjuangkan bukan hanya pekerjaan. Mereka sedang mempertahankan sumber penghasilan, masa depan keluarga, dan harapan yang selama ini tumbuh di antara gunungan sampah. @dimas








