Minggu, Agustus 23, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Bantargebang Berbenah, Ribuan Pemulung Cemas Kehilangan Nafkah

by dimas
Agustus 5, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on Facebook
Share on Twitter
Ribuan pemulung Bantargebang menghadapi ketidakpastian ketika Jakarta mempercepat penghentian open dumping dan mengubah sistem pengelolaan sampah.

Tabooo.id – Setiap pagi, ribuan orang mendaki bukit sampah di TPST Bantargebang bukan untuk membuang sesuatu. Mereka datang mencari plastik, logam, dan barang bekas agar keluarga tetap bisa makan. Kini, gunungan sampah mulai menyusut. Bersamaan dengan itu, kecemasan ribuan pemulung ikut membesar. Kisah ini bersumber dari laporan yang Anda lampirkan.

Bagi banyak orang, penghentian sistem open dumping menjadi kabar baik bagi lingkungan. Namun bagi sekitar 6.000 pemulung Bantargebang, kebijakan itu justru memunculkan satu pertanyaan sederhana: besok mereka harus mencari nafkah di mana?

Hidup yang Tumbuh Bersama Sampah

Badarudin, 45 tahun, mengenal gunungan sampah sejak kecil. Bantargebang membesarkannya, lalu memberinya pekerjaan sebagai pemulung. Setiap hari ia memungut barang bekas yang masih memiliki nilai jual.

Empat bulan terakhir, ritme hidupnya berubah. Longsor yang sempat terjadi membuat Jakarta mengirim lebih sedikit sampah ke Bantargebang. Akibatnya, Badarudin harus berjalan lebih jauh dan bekerja lebih lama untuk memperoleh hasil yang semakin kecil.

Sebelumnya, ia bisa membawa pulang sekitar Rp100 ribu setiap hari. Kini ia hanya mengantongi Rp50 ribu hingga Rp70 ribu, meski menghabiskan lebih banyak tenaga di bawah terik matahari dan bau menyengat.

Ini Belum Selesai

Lewat Karnaval, SD Tarakanita Tumbuhkan Kreativitas Anak

Ketika Jadi Camat Berarti Harus Menjawab 21.171 Orang Sekaligus

“Kami tidak menolak. Tapi tolong pikirkan nasib kami, kami cuma orang kecil,” ujar Badarudin.

Bantargebang Mewariskan Profesi

Di Bantargebang, banyak keluarga mewariskan profesi pemulung kepada anak-anaknya. Mereka tumbuh di tengah gunungan sampah, lalu meneruskan pekerjaan orang tua karena hampir tidak memiliki pilihan lain.

Andi, 32 tahun, membangun usaha pengepulan plastik di kawasan itu. Ia mempekerjakan 15 pemulung untuk mencari dan memilah plastik berdasarkan warna serta jenisnya.

Dulu, Andi mampu mengumpulkan tujuh hingga sepuluh ton plastik setiap hari. Sekarang ia hanya memperoleh sekitar 2,5 ton. Penurunan itu langsung memangkas pendapatan para pekerjanya. Upah harian yang dulu mencapai Rp140 ribu hingga Rp160 ribu kini turun menjadi Rp40 ribu hingga Rp70 ribu.

Lingkungan Perlu Diselamatkan, Manusia Juga

Pemerintah Provinsi Jakarta menargetkan penghentian total praktik open dumping di TPST Bantargebang pada 2029.

Untuk mencapai target itu, pengelola TPST mulai menerapkan sistem controlled landfill. Petugas menata dan memadatkan sampah, kemudian menutupnya dengan material tertentu serta geomembran. Langkah itu membantu mengurangi pencemaran, menekan risiko longsor, dan mencegah kebakaran. Pada saat yang sama, Pemerintah Provinsi Jakarta mewajibkan warga memilah sampah sejak dari rumah sehingga hanya residu yang masuk ke Bantargebang.

Kebijakan tersebut membawa manfaat besar bagi lingkungan. Namun kebijakan yang sama juga mengubah kehidupan ribuan keluarga yang selama puluhan tahun menggantungkan penghasilan pada sampah.

Transisi Harus Mengajak Semua Orang

Indonesia memang membutuhkan sistem pengelolaan sampah yang lebih modern. Namun pemerintah juga harus memastikan perubahan itu tidak memutus mata pencaharian kelompok yang paling rentan.

Selama puluhan tahun, para pemulung membantu memilah sampah yang masih memiliki nilai ekonomi. Mereka ikut mengurangi beban lingkungan, meski sering luput dari perhatian.

Kini sistem berubah. Karena itu, mereka berharap pemerintah tidak meninggalkan mereka dalam proses transisi tersebut.

Bagi para pemulung Bantargebang, yang mereka perjuangkan bukan hanya pekerjaan. Mereka sedang mempertahankan sumber penghasilan, masa depan keluarga, dan harapan yang selama ini tumbuh di antara gunungan sampah. @dimas

Tags: BantargebangKeadilan SosialOpen DumpingPemulungPengelolaan Sampah

Kamu Melewatkan Ini

Wacana Dwikewarganegaraan, Siapa yang Diuntungkan?

Wacana Dwikewarganegaraan, Siapa yang Diuntungkan?

by dimas
Agustus 20, 2026

Wacana dwikewarganegaraan terbatas membuka peluang bagi diaspora, tetapi juga memunculkan pertanyaan tentang keadilan, privilese, dan posisi warga yang tetap memegang...

Dian 19 Tahun: Prestasi Akademik IP 4.0 Tak Menjamin Kuliah Aman

Dian 19 Tahun: Prestasi Akademik IP 4.0 Tak Menjamin Kuliah Aman

by teguh
Agustus 16, 2026

Prestasi akademik IP 4.0 tak menjamin kuliah aman. Biaya kuliah tetap menjadi tembok bagi mahasiswa dari keluarga rentan. Ada mahasiswa...

Bantargebang Penuh, Sampah Jakarta ke Mana?

Bantargebang Penuh, Sampah Jakarta ke Mana?

by dimas
Agustus 16, 2026

Bantargebang penuh, Jakarta mulai membatasi sampah. Mengapa krisis sampah harus dimulai dari rumah dan kebiasaan kita? Tabooo.id - Setiap pagi,...

Next Post
Saat Warung Kopi Diganti Coffee Shop, Apa yang Sebenarnya Hilang?

Saat Warung Kopi Diganti Coffee Shop, Apa yang Sebenarnya Hilang?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id