Selasa, Oktober 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Bantargebang Berbenah, Ribuan Pemulung Cemas Kehilangan Nafkah

by dimas
Agustus 5, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on Facebook
Share on Twitter
Ribuan pemulung Bantargebang menghadapi ketidakpastian ketika Jakarta mempercepat penghentian open dumping dan mengubah sistem pengelolaan sampah.

Tabooo.id – Setiap pagi, ribuan orang mendaki bukit sampah di TPST Bantargebang bukan untuk membuang sesuatu. Mereka datang mencari plastik, logam, dan barang bekas agar keluarga tetap bisa makan. Kini, gunungan sampah mulai menyusut. Bersamaan dengan itu, kecemasan ribuan pemulung ikut membesar. Kisah ini bersumber dari laporan yang Anda lampirkan.

Bagi banyak orang, penghentian sistem open dumping menjadi kabar baik bagi lingkungan. Namun bagi sekitar 6.000 pemulung Bantargebang, kebijakan itu justru memunculkan satu pertanyaan sederhana: besok mereka harus mencari nafkah di mana?

Hidup yang Tumbuh Bersama Sampah

Badarudin, 45 tahun, mengenal gunungan sampah sejak kecil. Bantargebang membesarkannya, lalu memberinya pekerjaan sebagai pemulung. Setiap hari ia memungut barang bekas yang masih memiliki nilai jual.

Empat bulan terakhir, ritme hidupnya berubah. Longsor yang sempat terjadi membuat Jakarta mengirim lebih sedikit sampah ke Bantargebang. Akibatnya, Badarudin harus berjalan lebih jauh dan bekerja lebih lama untuk memperoleh hasil yang semakin kecil.

Sebelumnya, ia bisa membawa pulang sekitar Rp100 ribu setiap hari. Kini ia hanya mengantongi Rp50 ribu hingga Rp70 ribu, meski menghabiskan lebih banyak tenaga di bawah terik matahari dan bau menyengat.

Ini Belum Selesai

Americano: Sehat atau Cuma Gaya?

Kebijakan Pemerintah Berubah, Kehidupan Warga Ikut Berubah?

“Kami tidak menolak. Tapi tolong pikirkan nasib kami, kami cuma orang kecil,” ujar Badarudin.

Bantargebang Mewariskan Profesi

Di Bantargebang, banyak keluarga mewariskan profesi pemulung kepada anak-anaknya. Mereka tumbuh di tengah gunungan sampah, lalu meneruskan pekerjaan orang tua karena hampir tidak memiliki pilihan lain.

Andi, 32 tahun, membangun usaha pengepulan plastik di kawasan itu. Ia mempekerjakan 15 pemulung untuk mencari dan memilah plastik berdasarkan warna serta jenisnya.

Dulu, Andi mampu mengumpulkan tujuh hingga sepuluh ton plastik setiap hari. Sekarang ia hanya memperoleh sekitar 2,5 ton. Penurunan itu langsung memangkas pendapatan para pekerjanya. Upah harian yang dulu mencapai Rp140 ribu hingga Rp160 ribu kini turun menjadi Rp40 ribu hingga Rp70 ribu.

Lingkungan Perlu Diselamatkan, Manusia Juga

Pemerintah Provinsi Jakarta menargetkan penghentian total praktik open dumping di TPST Bantargebang pada 2029.

Untuk mencapai target itu, pengelola TPST mulai menerapkan sistem controlled landfill. Petugas menata dan memadatkan sampah, kemudian menutupnya dengan material tertentu serta geomembran. Langkah itu membantu mengurangi pencemaran, menekan risiko longsor, dan mencegah kebakaran. Pada saat yang sama, Pemerintah Provinsi Jakarta mewajibkan warga memilah sampah sejak dari rumah sehingga hanya residu yang masuk ke Bantargebang.

Kebijakan tersebut membawa manfaat besar bagi lingkungan. Namun kebijakan yang sama juga mengubah kehidupan ribuan keluarga yang selama puluhan tahun menggantungkan penghasilan pada sampah.

Transisi Harus Mengajak Semua Orang

Indonesia memang membutuhkan sistem pengelolaan sampah yang lebih modern. Namun pemerintah juga harus memastikan perubahan itu tidak memutus mata pencaharian kelompok yang paling rentan.

Selama puluhan tahun, para pemulung membantu memilah sampah yang masih memiliki nilai ekonomi. Mereka ikut mengurangi beban lingkungan, meski sering luput dari perhatian.

Kini sistem berubah. Karena itu, mereka berharap pemerintah tidak meninggalkan mereka dalam proses transisi tersebut.

Bagi para pemulung Bantargebang, yang mereka perjuangkan bukan hanya pekerjaan. Mereka sedang mempertahankan sumber penghasilan, masa depan keluarga, dan harapan yang selama ini tumbuh di antara gunungan sampah. @dimas

Tags: BantargebangKeadilan SosialOpen DumpingPemulungPengelolaan Sampah

Kamu Melewatkan Ini

Sampah Jadi BBM: Kreativitas Warga di Tengah Tantangan Industri

Sampah Jadi BBM: Kreativitas Warga di Tengah Tantangan Industri

by dimas
Oktober 12, 2026

Benny Haryanto merakit mesin pirolisis sederhana untuk mengolah sampah plastik menjadi cairan menyerupai BBM. Inovasinya menguji dukungan bagi penemu lokal....

Api Padam, Panas Belum Pergi: Apa yang Sebenarnya Terjadi di TPA Putri Cempo?

Api Padam, Panas Belum Pergi: Apa yang Sebenarnya Terjadi di TPA Putri Cempo?

by teguh
September 25, 2026

Api kembali muncul di TPA Putri Cempo, Solo, Kamis 24/9/2026. Petugas sebelumnya terus membasahi titik panas setelah kebakaran besar melanda...

Pendapatan Pemulung Anjlok, DLH Solo Petakan Peluang Alih Profesi

TPA Putri Cempo Terbakar, 90 Persen Sampah Mojosongo Menumpuk

by dimas
September 9, 2026

TPA Putri Cempo terbakar, membuat 90 persen sampah warga Mojosongo belum terangkut. Warga sudah bayar, tetapi pembuangan masih terbatas. Tabooo.id...

Next Post
Saat Warung Kopi Diganti Coffee Shop, Apa yang Sebenarnya Hilang?

Saat Warung Kopi Diganti Coffee Shop, Apa yang Sebenarnya Hilang?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id