Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Ketika Jadi Camat Berarti Harus Menjawab 21.171 Orang Sekaligus

by teguh
Agustus 22, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on Facebook
Share on Twitter
Suara Agustinus Supratman meninggi di tengah perdebatan soal bantuan. Camat Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, itu sedang berhadapan dengan petugas BNPB dalam sebuah pertemuan pada Jumat, 21/08/2026. Itu Karena dia harus Menjawab 21.171 orang.

Tabooo.id – Rekaman percakapan tersebut kemudian menyebar di media sosial. Namun, persoalannya bukan sekadar video seorang pejabat yang marah. Di balik suara keras itu terdapat tekanan yang jauh lebih manusiawi. Sebelas desa membutuhkan bantuan dan Agustinus harus menjawab 21.171 pertanyaan orang sekaligus yang menunggu kepastian.

Pada saat bersamaan, Agustinus mengatakan jumlah logistik yang tersedia belum sebanding dengan kebutuhan.

“Saya merasa tertekan sekali, terbebani. Saya harus membagi ke 11 desa, tapi bukan begitu caranya,” ujar Agustinus dalam rekaman tersebut.

Kemudian, ia menjelaskan sumber tekanan yang datang dari masyarakat.

“Semua desa sekarang protes ke saya, semua bertanya di mana bantuannya.” Kalimat tersebut terdengar sederhana.

Ini Belum Selesai

Americano: Sehat atau Cuma Gaya?

Kebijakan Pemerintah Berubah, Kehidupan Warga Ikut Berubah?

Tetapi, bagi seorang pejabat yang berdiri di garis depan bencana, pertanyaan itu bisa datang berkali-kali dalam sehari.

Ketika Bantuan Tidak Cukup Menjawab 21.171 Orang Sekaligus

Secara teori, pembagian logistik terlihat sederhana. Kenyataan di lapangan justru jauh lebih rumit.

Sebelas desa tidak selalu menghadapi tingkat kerusakan yang sama. Jumlah warga terdampak pun berbeda.

Karena itu, membagi bantuan secara sama rata belum tentu menghasilkan keadilan dan Agustinus mempersoalkan pola tersebut.

“Bapak bilang bantuan banyak sekali, padahal yang ada hanya ini. Saya tidak suka ditekan untuk membagi rata ke 11 desa padahal jumlahnya sedikit,” katanya.

Tekanan lain juga terus datang, “Saya stres, laporan ke kementerian dan telepon dari mana-mana terus masuk. Saya tidak tahan lagi.”

Pernyataan itu membuat persoalan distribusi berubah menjadi cerita tentang manusia.

Seorang camat bukan hanya berhadapan dengan angka. Ia berhadapan dengan warga yang sedang kehilangan rasa aman.

Camat di Antara Negara dan Warga

Pemerintah pusat mempunyai data, BNPB mengatur distribusi dan Pemerintah daerah menjalankan koordinasi. Namun, masyarakat membutuhkan jawaban yang lebih dekat.

Di titik tersebut, camat menjadi salah satu wajah pemerintah yang paling mudah ditemui. Keluhan kepala desa bisa sampai ke mejanya. Dia harus menjawab 21.171 Orang yang bisa juga Datang langsung kepadanya

Bahkan, petugas lapangan membutuhkan keputusan dari tingkat daerah. Karena itu, posisi camat menjadi sangat berat ketika bencana terjadi.

Ia tidak menentukan seluruh kebijakan nasional. Tetapi warga tetap mengharapkan solusi darinya.

Bagi keluarga yang menunggu makanan, batas kewenangan birokrasi terasa jauh. Pertanyaannya tetap sama, “Bantuan kapan datang?”

Flores Masih Bergetar

Tekanan tersebut muncul ketika situasi seismik Flores belum sepenuhnya tenang.

Gempa M7,7 mengguncang wilayah Flores, NTT, pada Sabtu, 15/08/2026 pukul 04.58.23 WIB.

BMKG mencatat episenter berada sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo dengan kedalaman 15 kilometer. Gempa itu sempat memicu peringatan dini tsunami.

Peringatan tsunami berakhir pada pukul 07.31 WIB. Akan tetapi, aktivitas susulan tetap tinggi.

Hingga 20/08/2026 pukul 05.00 WIB, BMKG mencatat 3.394 gempa susulan dengan magnitudo 1,1 hingga 6,2.

Situasi tersebut membuat proses pemulihan berjalan dalam kondisi yang belum stabil.

Warga masih mengungsi, Rumah masih mengalami kerusakan dan Petugas juga masih harus bergerak. Sementara itu, kebutuhan dasar terus bertambah.

Angka Besar, Beban Lebih Besar

BNPB mencatat hingga Jumat, 21/08/2026 pukul 16.00 WIB, sebanyak 83 orang meninggal dunia.

Korban luka mencapai 986 jiwa dan Jumlah pengungsi menembus 110.785 jiwa.

Kerusakan rumah tercatat mencapai 45.006 unit. Dalam kondisi seperti itu, bantuan harus bergerak cepat.

BNPB menyebut pemerintah telah menyalurkan 778 ton bantuan pangan dan nonpangan sejak 15/08/2026.

Pada 21 Agustus, pemerintah juga mengirim 65 ton logistik melalui jalur udara. Data tersebut menunjukkan skala respons pemerintah.

Namun, statistik tidak bisa menggambarkan wajah orang yang menunggu bantuan. Laporan juga tidak bisa merekam telepon yang masuk berkali-kali.

Di situlah kisah Agustinus mendapatkan makna lain. Ia memperlihatkan manusia di balik sistem penanggulangan bencana.

“Saya Stres” dan Beban yang Tidak Terlihat

Ungkapan Agustinus tentang stres seharusnya tidak berhenti sebagai potongan video viral. Ada konteks kesehatan mental yang perlu diperhatikan.

Center for Public Mental Health Fakultas Psikologi UGM menjelaskan pada 15/08/2026 bahwa situasi darurat dapat menimbulkan tekanan psikologis.

Sebagian besar orang mampu pulih secara alami. Namun, dukungan psikososial tetap penting pada fase awal kedaruratan.

UGM juga menekankan Psychological First Aid bagi petugas dan relawan dalam situasi krisis.

Pesannya jelas, Orang yang membantu korban juga membutuhkan dukungan, Petugas tidak kebal terhadap tekanan dan Relawan juga memiliki batas tenaga.

Begitu pula pejabat yang harus menjadi penghubung antara masyarakat dan pemerintah.

Yang Runtuh Bukan Cuma Rumah

Gempa menghancurkan bangunan namun, tekanan bisa menghantam orang-orang yang berdiri paling dekat dengan korban.

Camat menjadi penghubung pada saat yang sama, ia menjadi tempat bertemunya berbagai tuntutan. Warga meminta bantuan, Pemerintah meminta laporan dan Petugas membutuhkan koordinasi.

Semua kepentingan tersebut bertemu dalam situasi yang serba terbatas. Agustinus harus menjawab 21.171 Orang, Akhirnya dia mengucapkan kalimat paling manusiawi dalam rekaman itu.

“Saya stres.”

Kalimat tersebut tidak seharusnya menjadi bahan olok-olok. Sebaliknya, ucapan itu bisa menjadi alarm. Siapa yang menjaga orang-orang yang bertugas menjaga warga?

Jangan Biarkan Garis Depan Sendirian

Gempa M7,7 terjadi pada 15/08/2026 namun, bagi warga Flores, bencana belum selesai. Getaran susulan masih muncul., Pengungsi masih membutuhkan bantuan sedangkan petugas masih bekerja.

Sementara itu, orang-orang di garis depan juga menghadapi tekanan. Karena itu, keberhasilan penanganan bencana tidak cukup diukur dari tonase logistik.

Transparansi juga penting, Koordinasi harus berjalan sedangkan distribusi harus sesuai kebutuhan.

Selain itu, petugas lapangan membutuhkan dukungan psikologis. Sebab, di balik 110.785 pengungsi, ada 110.785 cerita manusia.

Di balik 83 korban meninggal, ada keluarga yang kehilangan. Dan di balik seorang camat yang berkata “saya stres”, ada manusia yang sedang berusaha bertahan.

Bencana memang menguji bangunan. Tetapi, lebih jauh lagi, bencana menguji apakah negara mampu menjaga manusia yang sedang menjaga manusia lain. @teguh

Tags: Agustinus SupratmanBantuan BencanaBNPBCamat ManggaraiGempa FloresGempa NTTLamba Leda UtaraManggarai TimurNTT

Kamu Melewatkan Ini

Dana Karhutla Ikut Dikorupsi, KPK Telusuri Pengadaan HT BNPB

Dana Karhutla Ikut Dikorupsi, KPK Telusuri Pengadaan HT BNPB

by dimas
Oktober 16, 2026

Dana karhutla diduga ikut dikorupsi dalam perkara Dana Siap Pakai BNPB. KPK menelusuri pengadaan alat komunikasi HT untuk penanganan kebakaran...

Korupsi Dana Darurat Bencana, Ketika Perlindungan Warga Dipertaruhkan

Korupsi Dana Darurat Bencana, Ketika Perlindungan Warga Dipertaruhkan

by dimas
Oktober 16, 2026

Dugaan korupsi dana darurat BNPB memicu sorotan terhadap perlindungan warga dan hak atas lingkungan sehat. Rieke mendesak pengusutan hingga ke...

Korban Bencana Masih Berjuang, Dana Bantuan Diduga Dikorupsi

Korban Bencana Masih Berjuang, Dana Bantuan Diduga Dikorupsi

by dimas
Oktober 14, 2026

Korban bencana masih berjuang untuk pulih saat KPK mengusut dugaan korupsi pengadaan di BNPB. Siapa yang mengawasi dana kebencanaan? Tabooo.id...

Next Post
Korporasi Diduga Main Api, Prabowo: Tindak Tegas Kalau Terbukti!

Korporasi Diduga Main Api, Prabowo: Tindak Tegas Kalau Terbukti!

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id