Selasa, Agustus 25, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

AS di Ambang Serang Iran, Trump Tinggal Tekan Tombol Perang

by dimas
Februari 19, 2026
in Global, Reality
A A
Home Reality Global
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Global – Militer Amerika Serikat dilaporkan bersiap memasuki status siaga penuh untuk kemungkinan melancarkan serangan terhadap Iran mulai Sabtu, 20 Februari 2026. Informasi ini muncul dari sejumlah pejabat keamanan nasional senior yang telah memberikan pengarahan langsung kepada Presiden AS, Donald Trump. Namun, hingga kini Trump belum mengetuk palu keputusan akhir. Ia masih menimbang, berdiskusi, dan menghitung konsekuensi baik militer maupun politik dari sebuah langkah yang bisa mengubah wajah Timur Tengah.

Situasi ini menempatkan Gedung Putih dalam posisi genting. Pemerintah AS tidak hanya mempertimbangkan efektivitas serangan, tetapi juga risiko eskalasi yang dapat memicu perang regional lebih luas. Ketegangan terus meningkat, bahkan ketika jalur diplomasi antara Washington dan Teheran masih berlangsung di Jenewa, Swiss. Diplomasi berjalan, tetapi mesin perang juga dipanaskan.

Ultimatum Trump dan Sinyal Serangan

Trump tidak lagi menyembunyikan frustrasinya. Melalui platform Truth Social, ia melontarkan peringatan terbuka yang bernada keras. Ia menyatakan bahwa jika Iran menolak membuat kesepakatan, AS dapat menggunakan pangkalan militer strategis seperti Diego Garcia dan Fairford untuk melumpuhkan potensi ancaman dari Teheran.

Nada ultimatum itu bukan sekadar retorika politik. Seorang penasihat Trump bahkan mengungkapkan bahwa presiden mulai kehilangan kesabaran. Lingkaran dalam Gedung Putih kini terbelah. Sebagian mendorong diplomasi, tetapi sebagian lain melihat serangan sebagai opsi yang semakin nyata.

Beberapa media AS juga melaporkan bahwa jika operasi militer benar-benar terjadi, serangan itu tidak akan bersifat simbolis. Washington kemungkinan akan melancarkan kampanye militer besar-besaran selama berminggu-minggu, bahkan berkoordinasi dengan Israel. Artinya, ini bukan sekadar serangan terbatas, melainkan awal dari konfrontasi terbuka.

Ini Belum Selesai

BEM Undip Tagih Pemerintah: Mengapa Karhutla Terus Berulang?

Desil Timbul Lompat dari 1 ke 9, Kuliah Anak Tukang Becak Terancam

Momentum militer juga terus bergerak. Kapal induk USS Gerald Ford dilaporkan segera tiba di Mediterania Timur. Kehadiran kapal perang ini bukan sekadar patroli rutin. Kapal induk selalu menjadi simbol kesiapan tempur, dan kehadirannya sering kali menjadi sinyal bahwa opsi militer benar-benar berada di atas meja.

Pada saat yang sama, Pentagon mulai menarik sebagian personelnya dari Timur Tengah ke wilayah yang lebih aman seperti Eropa dan daratan AS. Langkah ini menunjukkan satu hal yang jelas Washington bersiap bukan hanya untuk menyerang, tetapi juga untuk menghadapi kemungkinan balasan.

Diplomasi yang Jalan di Tempat

Sementara itu, meja perundingan di Jenewa belum menghasilkan terobosan berarti. Delegasi AS yang dipimpin Jared Kushner dan Steve Witkoff telah bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi selama tiga jam. Kedua pihak mengakui adanya kemajuan kecil, tetapi jurang perbedaan masih terlalu lebar untuk dijembatani.

Wakil Presiden JD Vance secara terbuka mengakui bahwa negosiasi menghadapi hambatan serius. Ia menegaskan bahwa Trump telah menetapkan garis merah yang tidak bisa dinegosiasikan. Iran, di sisi lain, belum menunjukkan tanda-tanda akan menerima tuntutan tersebut.

Gedung Putih tetap mencoba menjaga keseimbangan antara ancaman dan diplomasi. Juru bicara Karoline Leavitt menegaskan bahwa Trump masih memprioritaskan kesepakatan damai. Namun ia juga mengingatkan bahwa opsi militer tetap tersedia jika Iran tidak mengubah sikapnya.

Pernyataan itu mencerminkan strategi klasik tekanan maksimum berbicara damai sambil memegang palu.

Iran Menolak Mundur

Teheran tidak tinggal diam menghadapi tekanan tersebut. Kepala Organisasi Energi Atom Iran, Mohammad Eslami, menegaskan bahwa negaranya tidak akan menyerah pada tuntutan AS, terutama terkait program pengayaan nuklir.

Ia menyebut pengayaan sebagai fondasi industri nuklir Iran dan menegaskan bahwa program tersebut berjalan sesuai aturan internasional. Iran memandang teknologi nuklir sebagai hak kedaulatan, bukan ancaman.

Pernyataan itu memperjelas posisi Iran. Teheran tidak melihat alasan untuk mundur, bahkan di bawah bayang-bayang ancaman militer terbesar di dunia.

Dunia yang Bisa Ikut Terbakar

Jika AS benar-benar menyerang, dampaknya tidak akan berhenti di Iran. Konflik ini berpotensi mengguncang harga minyak global, memperburuk inflasi, dan memicu instabilitas ekonomi dunia. Negara-negara di Timur Tengah bisa terseret, jalur perdagangan energi bisa terganggu, dan masyarakat sipil akan menjadi korban pertama.

Bagi warga Amerika sendiri, perang berarti pajak meningkat, anggaran militer membengkak, dan risiko korban jiwa kembali menghantui.

Saat ini, dunia berada di titik tunggu. Satu keputusan dari Gedung Putih bisa mengubah arah sejarah dalam hitungan jam.

Dan seperti biasa, perang selalu dimulai oleh keputusan segelintir orang tetapi konsekuensinya harus ditanggung oleh jutaan orang yang tidak pernah diminta pendapatnya. @dimas

Tags: ASdiplomasiDonald TrumpDuniaGeopolitikGlobalInternasionalKeteganganKonflik DuniaKrisis GlobalMiliterperangPerang IranPolitik IndonesiaTimur Tengah

Kamu Melewatkan Ini

81 Tahun Kemerdekaan Indonesia, Merdeka untuk Siapa?

81 Tahun Kemerdekaan Indonesia, Merdeka untuk Siapa?

by Tabooo
Agustus 20, 2026

Sehari setelah perayaan HUT ke-81 RI, mahasiswa turun ke jalan membawa delapan tuntutan. Di sana, makna kemerdekaan kembali dipertanyakan lewat...

Prabowo, Jokowi, Gibran Duduk Bersama: Protokol atau Pesan Politik?

Prabowo, Jokowi, Gibran Duduk Bersama: Protokol atau Pesan Politik?

by dimas
Agustus 18, 2026

Prabowo, Jokowi, dan Gibran duduk bersama di Istana saat HUT ke-81 RI. Protokol kenegaraan atau pesan politik di tengah isu...

Roadmap Damai Gaza: Netanyahu Ajukan Syarat Sendiri

Roadmap Damai Gaza: Netanyahu Ajukan Syarat Sendiri

by Tabooo
Agustus 17, 2026

Washington ingin roadmap damai Gaza bergerak. Netanyahu punya syarat berbeda: Hamas harus dilucuti sepenuhnya sebelum pasukan Israel mundur.

Next Post
Dari Kapolres ke Tersangka: AKBP Didik Terancam Pidana Seumur Hidup

Akhir Tragis Eks Kapolres Bima Kota, Dipecat karena Narkoba

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id