Washington ingin mendorong gencatan senjata Gaza ke tahap berikutnya. Benjamin Netanyahu menahan laju itu dengan satu syarat keras, yakni Israel tidak akan mundur sebelum Hamas sepenuhnya dilucuti. Di tengah diplomasi yang makin sibuk, bom belum benar-benar berhenti.
Tabooo.id: Global – Washington menginginkan gencatan senjata Gaza bergerak ke tahap berikutnya. Namun, Benjamin Netanyahu punya hitungan lain.
Perdana Menteri Israel itu menolak bagian penting dari roadmap Gaza yang didorong Donald Trump. Israel tidak akan meninggalkan posisi militernya sebelum Hamas sepenuhnya dilucuti.
Di atas kertas, perbedaannya terlihat seperti urusan urutan. Akan tetapi, pada prakteknya, urutan itu menentukan apakah perang benar-benar mereda atau cuma berganti jeda.
Washington Mau Pelucutan Senjata Berjalan Bersama Penarikan Pasukan
Rencana terbaru Amerika Serikat tumbuh dari kesepakatan gencatan senjata Oktober 2025. Kesepakatan tersebut menghentikan operasi militer besar Israel dan membawa pulang seluruh sandera yang tersisa.
Namun bagian politik dan keamanan setelahnya macet.
Dalam roadmap 15 poin, Hamas diminta melepaskan persenjataan secara bertahap. Pada saat yang sama, militer Israel menghentikan serangan dan mulai mundur dari Gaza.
Pemerintahan sipil Palestina yang didukung Amerika Serikat nantinya mengelola wilayah tersebut. Pasukan stabilisasi internasional juga direncanakan masuk ke area yang ditinggalkan tentara Israel.
Hamas menerima kerangka itu dengan syarat. Kelompok tersebut mengaitkan penyerahan senjata terberat dengan terbentuknya negara Palestina.
Pemerintah Israel menolak gagasan itu.
Netanyahu juga menolak menarik pasukan sebelum pelucutan selesai. Saat ini, tentara Israel menguasai sekitar 60 persen wilayah Gaza.
Perbedaan tersebut kecil kalau dibaca dari meja konferensi.
Bagi dua juta warga Gaza yang hidup di antara puing, persoalannya jauh lebih konkret.
Rekonstruksi, pengerahan pasukan internasional, hingga tata pemerintahan baru ikut tertahan selama kedua pihak belum menyepakati mekanismenya.
Netanyahu Juga Sedang Berhadapan dengan Kotak Suara
Menolak Washington bukan pengalaman baru bagi Netanyahu.
Ia pernah berseberangan dengan Bill Clinton dalam isu Palestina. Bertahun-tahun kemudian, ia melawan Barack Obama terkait kesepakatan nuklir Iran.
Kali ini situasinya lebih sempit.
Israel akan menggelar pemilu nasional pada 27 Oktober 2026. Netanyahu harus mempertahankan pemilih sekaligus menjaga kemungkinan membentuk pemerintahan bersama kelompok kanan yang mengambil sikap keras terhadap Gaza.
Serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 juga belum keluar dari politik Israel.
Banyak warga masih mengaitkan pemerintahan Netanyahu dengan kegagalan keamanan yang memungkinkan serangan tersebut terjadi. Di sisi lain, ia menjadikan pencapaian militer Israel setelah 7 Oktober sebagai bagian penting kampanye.
Masalahnya, kemenangan total yang pernah ia janjikan di Gaza belum datang.
Bagi sekutu sayap kanannya, mundur sebelum Hamas kehilangan seluruh kemampuan bersenjata bisa dibaca sebagai kelemahan. Bagi Washington, menunggu sampai semua senjata hilang justru berpotensi membekukan skema damai.
Netanyahu berada di tengah dua tekanan yang tidak menawarkan banyak ruang nyaman.
Trump Juga Punya Jam Politik Sendiri
Donald Trump bukan datang tanpa kepentingan.
Ia ingin menampilkan dirinya sebagai pemimpin yang mampu mengakhiri konflik, ketika kebuntuan dengan Iran belum selesai dan tekanan ekonomi ikut menghantui politik Amerika menjelang pemilu Kongres November.
Karena itu, Gaza menjadi lebih dari persoalan Israel dan Hamas.
Keberhasilan roadmap memberi Washington kemenangan diplomatik. Kegagalan akan memperlihatkan keterbatasan pengaruh Amerika terhadap salah satu sekutu terdekatnya.
Hubungan pribadi Trump dan Netanyahu selama bertahun-tahun membantu keduanya. Presiden AS itu pernah mendapat dukungan luas di Israel setelah memindahkan Kedutaan Amerika ke Yerusalem. Pada periode berikutnya, kedekatan tersebut ikut membantu Netanyahu membangun citra domestiknya.
Sekarang kebutuhan mereka tidak selalu bertemu.
Washington ingin menurunkan suhu kawasan. Pemerintah Israel masih menempatkan kebebasan militernya sebagai syarat keamanan.
Dulu kedekatan mereka merupakan aset politik. Kini hubungan yang sama mulai menjadi ujian.
Serangan Berkurang, Tetapi Belum Hilang
Ada sinyal kompromi kecil.
Militer Israel sempat mengurangi intensitas serangan. Media Israel juga melaporkan kewenangan melancarkan serangan dibatasi lebih ketat kepada pucuk komando militer.
Seorang pejabat Board of Peace mengatakan perhatian mereka tertuju pada tindakan, bukan retorika atau politik. Ia menyebut terdapat hasil di lapangan, termasuk pembatasan serangan dan perubahan prosedur militer.
Namun ketenangan itu rapuh.
Pada 16 Agustus, serangan udara Israel kembali berlangsung di Gaza. Serangan mengenai Khan Younis dan Nuseirat. Sejumlah warga Palestina terluka dan satu orang kemudian meninggal akibat lukanya, menurut petugas medis setempat. Israel menyatakan targetnya adalah anggota Hamas dan Jihad Islam.
Diplomat bicara soal penghentian perang.
Pesawat tempur belum sepenuhnya diam.
Kushner Bicara dengan Hamas, Lalu Netanyahu
Tekanan diplomatik sekarang bergerak lebih terang.
Pada 16 Agustus, Jared Kushner bertemu pemimpin Hamas Khalil al-Hayya selama lebih dari dua jam di Mesir. Perwakilan Mesir, Qatar dan Turki juga terlibat dalam rangkaian pembicaraan tersebut.
Sehari kemudian, Kushner menemui Netanyahu di Yerusalem. Tony Blair dan Direktur Board of Peace Nickolay Mladenov ikut hadir dalam pertemuan itu.
Washington sedang mencoba menjembatani masalah yang sebenarnya sederhana untuk diucapkan, tetapi sulit dijalankan.
Hamas ingin penarikan Israel ikut bergerak ketika proses penyerahan senjata dimulai.
Netanyahu meminta kebalikannya.
Lucuti semuanya lebih dulu. Setelah itu, baru bicara mundur.
Di sinilah roadmap damai berubah menjadi pertarungan mengenai siapa yang harus mengambil risiko pertama.
Sekutu Dekat, Kepentingan Berbeda
Netanyahu masih membutuhkan Amerika Serikat.
Israel menghadapi tekanan diplomatik yang lebih berat setelah rangkaian operasi militernya di Gaza dan konflik regional lainnya. Pada kondisi tersebut, dukungan Washington menjadi semakin sulit digantikan.
Namun sang perdana menteri juga membutuhkan kemenangan pada 27 Oktober.
Itulah yang membuat keputusan Gaza tidak pernah murni soal medan perang.
Pertimbangannya bukan cuma keamanan nasional. Hubungan dengan Gedung Putih ikut dipertaruhkan, sementara trauma 7 Oktober masih kuat di tengah publik Israel. Netanyahu juga harus menjaga mitra koalisinya sambil menghadapi pemilih yang sebentar lagi masuk bilik suara.
Trump ingin sebuah kesepakatan bergerak.
Netanyahu ingin memastikan kesepakatan itu tidak membuatnya terlihat menyerah kepada Hamas.
Hamas, sementara itu, mencoba menunjukkan bahwa mereka telah menerima kerangka yang diajukan dan melempar tekanan kembali kepada Israel.
Semua pihak sekarang bisa mengatakan mereka mendukung perdamaian.
Yang belum mereka sepakati justru bagian paling menentukan: damai versi siapa, dimulai oleh siapa, dan siapa yang berani bergerak terlebih dahulu. @tabooo








