Senin, Agustus 24, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Prabowo, Jokowi, Gibran Duduk Bersama: Protokol atau Pesan Politik?

by dimas
Agustus 18, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on Facebook
Share on Twitter
Prabowo, Jokowi, dan Gibran duduk bersama di Istana saat HUT ke-81 RI. Protokol kenegaraan atau pesan politik di tengah isu keretakan?

Tabooo.id – Ada satu pemandangan yang mencuri perhatian dalam peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin, 17 Agustus 2026.

Presiden Prabowo Subianto tersenyum di panggung kehormatan. Presiden ke-7 RI Joko Widodo duduk di sebelah kanannya. Sementara Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berada di sebelah kiri Prabowo.

Tiga nama itu berada dalam satu bingkai.

Sekilas, pemandangan tersebut tampak biasa.

Namun, politik jarang sesederhana tata tempat.

Ini Belum Selesai

Pati Menagih, Bangkalan Membela: Dua Suara Daerah Menuju Jakarta

Gempa NTT Belum Usai, 87 Tewas dan 150 Ribu Mengungsi

Prabowo kini memimpin pemerintahan Indonesia. Jokowi pernah memimpin negeri ini selama dua periode dan memainkan peran penting dalam perjalanan politik Prabowo menuju Istana. Gibran sendiri merupakan putra Jokowi yang kini mendampingi Prabowo sebagai wakil presiden.

Karena itu, posisi ketiganya memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar susunan kursi.

Gambar itu menjadi sebuah pesan politik.

Pertanyaannya, pesan seperti apa?

Sebuah Gambar di Tengah Narasi Keretakan

Kamera beberapa kali menangkap Prabowo dan Jokowi berbincang.

Keduanya juga terlihat tertawa ketika menyaksikan pertunjukan hiburan rakyat setelah prosesi utama. Gibran berada di antara rangkaian momen yang berlangsung di panggung kehormatan tersebut.

Tidak ada pidato khusus tentang hubungan mereka.

Prabowo juga tidak memberikan pernyataan mengenai isu keretakan dengan Jokowi.

Akan tetapi, publik memperoleh sesuatu yang sering kali lebih kuat daripada pernyataan politik.

Publik memperoleh gambar.

Pada momentum kenegaraan sebesar peringatan kemerdekaan, gambar semacam itu memiliki daya politik tersendiri.

Apalagi, ruang publik beberapa waktu terakhir ramai dengan spekulasi mengenai hubungan Prabowo dan Jokowi.

Apakah keduanya mulai berjarak?

Apakah Prabowo mulai membangun orbit politiknya sendiri?

Lalu, apakah dinamika politik Gibran ikut memengaruhi hubungan dua tokoh tersebut?

Pertanyaan itu tidak muncul begitu saja.

Berbagai dinamika setelah Prabowo menjadi presiden ikut menyuburkan tafsir tersebut. Komunikasi Prabowo dengan sejumlah kekuatan politik juga memunculkan pembacaan baru mengenai arah politik pemerintahannya.

Sikap Prabowo terhadap sejumlah isu yang berkaitan dengan Gibran turut menjadi bahan perdebatan.

Dari sana, muncul satu narasi besar hubungan Prabowo dan Jokowi mungkin mulai berubah.

Tetapi narasi belum tentu fakta.

Dari Rival Menjadi Mitra

Untuk memahami hubungan Prabowo dan Jokowi, kita perlu kembali ke masa lalu.

Keduanya bukan pasangan politik sejak awal.

Pada Pilpres 2014, Prabowo dan Jokowi bertarung sebagai rival. Lima tahun kemudian, persaingan itu kembali terjadi.

Dua kali Prabowo kalah.

Namun, kekalahan tersebut tidak mengakhiri perjalanan politiknya menuju kekuasaan.

Setelah Pilpres 2019, Prabowo justru masuk ke pemerintahan Jokowi sebagai Menteri Pertahanan.

Keputusan itu mengubah peta hubungan keduanya.

Rivalitas bergeser menjadi kerja sama.

Dua tokoh yang sebelumnya berdiri di kubu berbeda kemudian bekerja dalam satu pemerintahan.

Transformasi tersebut menjadi salah satu episode politik paling menarik dalam perjalanan demokrasi Indonesia.

Hubungan kerja itu kemudian berkembang.

Pada Pilpres 2024, Prabowo maju bersama Gibran.

Putra Jokowi itu akhirnya menjadi wakil presiden.

Jika seluruh perjalanan tersebut kita rangkai, hubungan politik mereka membentuk sebuah garis yang tidak sederhana:

Rival, mitra, satu pemerintahan dan satu pasangan politik.

Karena itu, publik perlu berhati-hati saat membaca satu adegan sebagai tanda berakhirnya sebuah hubungan.

Akrab Tidak Selalu Berarti Sepakat

Di titik ini, kita perlu memisahkan dua hal.

Ada hubungan personal.

Ada pula kepentingan politik.

Keduanya tidak selalu bergerak dalam arah yang sama.

Prabowo dapat tetap menghormati Jokowi meski mengambil keputusan politik yang berbeda. Jokowi juga dapat mempertahankan hubungan baik tanpa harus menyetujui seluruh kebijakan pemerintahan Prabowo.

Begitu pula dengan Gibran.

Posisinya sebagai wakil presiden membuat dirinya memiliki kepentingan politik dan tanggung jawab kenegaraan sendiri.

Maka, perbedaan sikap tidak otomatis berarti permusuhan.

Komunikasi dengan kelompok politik lain juga tidak otomatis berarti pengkhianatan.

Begitu pula sikap diam tidak selalu menunjukkan keretakan.

Politik memiliki terlalu banyak lapisan untuk dibaca hanya melalui satu gestur.

Tetapi Mengapa Gambar Ini Tetap Penting?

Pertanyaan itu justru membawa kita ke lapisan yang lebih menarik.

Jika posisi duduk tersebut hanya persoalan protokol, mengapa publik tetap memperhatikannya?

Jawabannya sederhana.

Karena simbol memiliki kekuatan dalam politik.

Ketika seorang presiden duduk bersama mantan presiden dan wakil presidennya dalam satu panggung, publik akan membaca hubungan di antara ketiganya.

Terlebih ketika kamera terus merekam interaksi mereka.

Senyum Prabowo.

Percakapan dengan Jokowi.

Tawa di tengah pertunjukan.

Semua adegan itu membentuk sebuah cerita visual.

Cerita tersebut tidak otomatis membuktikan hubungan mereka tetap harmonis. Namun, adegan itu juga tidak mendukung kesimpulan sederhana bahwa keduanya telah retak.

Di sinilah gambar dari Istana menjadi menarik.

Ia tidak memberikan jawaban. Ia justru mengganggu narasi yang sudah telanjur berkembang.

Politik Tidak Selalu Berbicara Lewat Pidato

Kekuasaan sering menyampaikan pesan tanpa menggunakan banyak kata.

Siapa yang hadir dalam sebuah acara dapat menjadi pesan.

Siapa yang duduk bersebelahan juga dapat menjadi pesan.

Bahkan, siapa yang terlihat berbicara dan tertawa bersama dapat membentuk persepsi publik.

Karena itu, visual politik tidak boleh kita anggap remeh.

Namun, publik juga tidak boleh menjadikannya sebagai bukti tunggal.

Posisi duduk bisa saja mengikuti protokol. Percakapan dapat berlangsung secara spontan. Tawa juga mungkin tidak memiliki agenda politik tertentu.

Kita tidak mengetahui isi percakapan mereka.

Kita juga tidak mengetahui kalkulasi politik di balik setiap gestur.

Maka, batas antara fakta dan tafsir harus tetap jelas.

Faktanya: mereka duduk bersama.

Tafsirnya: publik membaca kedekatan politik.

Spekulasinya: hubungan mereka mengalami keretakan atau justru kembali menguat.

Ketiganya bukan hal yang sama.

Masalahnya Bukan Siapa yang Tertawa

Perdebatan publik sering terjebak pada pertanyaan sederhana: apakah Prabowo dan Jokowi masih akrab?

Pertanyaan itu sebenarnya terlalu kecil.

Ada pertanyaan yang jauh lebih penting.

Apa yang terjadi ketika hubungan personal elite bertemu dengan kepentingan negara?

Seorang presiden tidak hanya mengelola hubungan dengan orang-orang yang pernah mendukungnya.

Ia harus berhadapan dengan partai politik, parlemen, birokrasi, kelompok kepentingan, masyarakat sipil, dunia usaha, hingga publik yang terus mengawasi.

Prabowo tentu memiliki kalkulasi politik sendiri.

Jokowi pun memiliki pengalaman dan kepentingan politik yang membentuk cara pandangnya.

Gibran berada dalam posisi yang berbeda karena ia kini menjadi bagian langsung dari pemerintahan.

Perbedaan kepentingan seperti itu merupakan sesuatu yang wajar dalam politik.

Persoalannya muncul ketika kepentingan elite mulai menggeser kepentingan publik.

Ketika Publik Terlalu Cepat Membaca Kode

Politik digital membuat proses itu semakin cepat.

Satu foto dapat berubah menjadi narasi.

Satu pernyataan dapat menjadi potongan video.

Potongan video kemudian berubah menjadi perdebatan.

Dari sana, publik membangun kesimpulan.

Masalahnya, kesimpulan sering kali muncul sebelum fakta lengkap tersedia.

Seseorang berbicara dengan kelompok lain dianggap berpindah kubu. Seorang tokoh tidak muncul dalam sebuah acara dianggap sedang menjauh. Bahkan ekspresi wajah dapat berubah menjadi bahan analisis politik.

Cara membaca seperti itu membuat politik tampak sederhana.

Padahal, kekuasaan bekerja melalui jaringan yang jauh lebih kompleks.

Karena itu, publik perlu membedakan antara apa yang terlihat, apa yang diketahui, dan apa yang hanya diduga.

Pembedaan tersebut penting agar kritik tetap tajam tanpa kehilangan pijakan fakta.

Ini Bukan Sekadar Foto. Ini Pertarungan Narasi

Pemandangan Prabowo, Jokowi, dan Gibran di Istana pada 17 Agustus 2026 akhirnya tidak bisa menjawab seluruh pertanyaan tentang hubungan mereka.

Namun, gambar tersebut menunjukkan satu hal penting.

Narasi keretakan belum selesai.

Ia masih berada di wilayah tafsir.

Sebab sampai saat ini, publik melihat dua hal yang berjalan beriringan.

Di satu sisi, muncul spekulasi mengenai perubahan hubungan Prabowo dan Jokowi.

Di sisi lain, publik melihat keduanya tetap berbincang dan tertawa bersama dalam momentum kenegaraan.

Dua fakta itu tidak harus saling meniadakan.

Hubungan politik bisa berubah tanpa berubah menjadi permusuhan. Perbedaan kepentingan juga dapat muncul tanpa menghapus rasa hormat.

Justru kemampuan mengelola perbedaan itulah yang seharusnya menjadi ukuran kedewasaan politik.

Republik Jangan Sampai Menjadi Latar Belakang

Pada akhirnya, persoalan terbesar bukan apakah Prabowo dan Jokowi masih dekat.

Bukan pula apakah Gibran tetap menjadi jembatan di antara keduanya.

Pertanyaan yang lebih penting menyangkut posisi Republik dalam seluruh konfigurasi tersebut.

Apakah kepentingan negara tetap berada di atas kepentingan kelompok?

Apakah kekuasaan mampu bekerja tanpa menjadikan hubungan personal sebagai pusat keputusan?

Dan apakah publik dapat menilai pemerintahan berdasarkan kebijakan, bukan sekadar kedekatan antar-elite?

Peringatan 81 tahun kemerdekaan seharusnya membawa pertanyaan itu ke depan.

Sebab Indonesia tidak dibangun untuk melayani hubungan personal para penguasanya.

Republik dibangun untuk kepentingan rakyat.

Maka, gambar Prabowo, Jokowi, dan Gibran di Istana boleh saja kita baca sebagai simbol.

Kita boleh melihatnya sebagai tanda keakraban.

Kita juga boleh mempertanyakan pesan politik di baliknya.

Namun, jangan berhenti pada foto.

Yang jauh lebih penting adalah apa yang mereka lakukan setelah kamera berhenti merekam.

Di situlah hubungan politik diuji.

Di situlah kepentingan Republik seharusnya terlihat.

Dan di situlah publik memiliki hak untuk terus mengawasi.

Karena pada akhirnya, politik bukan soal siapa duduk di sebelah siapa. Politik adalah soal untuk siapa kekuasaan bekerja. @dimas

Tags: Gibran RakabumingJoko WidodoPolitik IndonesiaPrabowo SubiantoRelasi Kekuasaan

Kamu Melewatkan Ini

Korporasi Diduga Main Api, Prabowo: Tindak Tegas Kalau Terbukti!

Korporasi Diduga Main Api, Prabowo: Tindak Tegas Kalau Terbukti!

by dimas
Agustus 22, 2026

Korporasi diduga terlibat karhutla di Kalimantan. Prabowo menegaskan akan menindak tegas jika keterlibatan mereka terbukti secara hukum. Tabooo.id - Negara...

Gibran ke NTT, Trauma Korban Jadi Ujian Pascabencana

Gibran ke NTT, Trauma Korban Jadi Ujian Pascabencana

by dimas
Agustus 20, 2026

Gibran bertolak ke NTT untuk meninjau penanganan pascabencana dan memastikan pemulihan warga, termasuk trauma healing dengan melibatkan mahasiswa UI. Tabooo.id:...

81 Tahun Kemerdekaan Indonesia, Merdeka untuk Siapa?

81 Tahun Kemerdekaan Indonesia, Merdeka untuk Siapa?

by Tabooo
Agustus 20, 2026

Sehari setelah perayaan HUT ke-81 RI, mahasiswa turun ke jalan membawa delapan tuntutan. Di sana, makna kemerdekaan kembali dipertanyakan lewat...

Next Post
BEM UI Turun ke HI: 8 Tuntutan di Tengah Perayaan Kemerdekaan

BEM UI Turun ke HI: 8 Tuntutan di Tengah Perayaan Kemerdekaan

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id