Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Gibran ke NTT, Trauma Korban Jadi Ujian Pascabencana

by dimas
Agustus 20, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on Facebook
Share on Twitter
Gibran bertolak ke NTT untuk meninjau penanganan pascabencana dan memastikan pemulihan warga, termasuk trauma healing dengan melibatkan mahasiswa UI.

Tabooo.id: Nusa Tenggara Timur – Wakil Presiden Gibran Rakabuming bertolak menuju Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (20/8/2026). Ia menjalankan tugas negara sekaligus mengecek langsung penanganan dan pemulihan pascabencana.

Gibran juga mengajak perwakilan mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI). Mereka akan ikut membantu pendampingan psikologis bagi warga terdampak bencana.

Kunjungan tersebut menyasar Kabupaten Sikka, Manggarai, dan Manggarai Timur. Gibran akan melihat lokasi terdampak serta fasilitas layanan dasar masyarakat.

Bencana Tidak Berakhir Saat Bantuan Datang

Pemerintah menghadapi tantangan besar dalam penanganan bencana di NTT. Medan yang berat dapat menghambat distribusi logistik dan memperlambat pemenuhan kebutuhan warga.

Namun, persoalan bencana tidak berhenti pada makanan, obat, tempat tinggal, atau akses jalan.

Ini Belum Selesai

Kapolda Sulsel Usul Arena Tawuran 10 Lawan 10, Polisi Bidik Produsen Busur

BBM Belum Normal, ASN Jember WFH: Siapa Menjamin Layanan Publik Tetap Jalan?

Ada persoalan lain yang sering luput dari perhatian trauma.

Warga yang kehilangan rumah, harta, pekerjaan, atau anggota keluarga membutuhkan proses pemulihan yang panjang.

Kebutuhan itu tidak selalu terlihat dari jumlah bantuan yang masuk.

Karena itu, Gibran mengajak mahasiswa psikologi dalam kunjungan ke NTT. Keahlian mereka dapat membantu pemerintah memahami kondisi psikologis warga.

Pendampingan juga dapat membantu korban menghadapi tekanan setelah bencana.

Anak Muda Tidak Cukup Menjadi Penonton

Gibran membuka ruang bagi mahasiswa untuk ikut membantu korban bencana. Ia mendorong anak muda mengubah kepedulian menjadi tindakan nyata.

Menurut Gibran, keterlibatan mahasiswa mencerminkan semangat gotong royong dalam menghadapi bencana.

Langkah tersebut memperlihatkan bahwa penanganan bencana membutuhkan banyak pihak.

Pemerintah membutuhkan tenaga medis dan petugas lapangan. Masyarakat juga membutuhkan relawan dengan kemampuan yang sesuai.

Anak-anak membutuhkan ruang aman. Orang dewasa membutuhkan kepastian tentang kehidupan mereka setelah bencana.

Di titik itu, kampus memiliki peran penting.

Pengetahuan di ruang kelas dapat berubah menjadi aksi sosial. Mahasiswa dapat menggunakan keahlian mereka untuk membantu masyarakat menghadapi situasi sulit.

Persoalan Terbesar Muncul Setelah Sorotan Pergi

Kunjungan pejabat negara biasanya menarik perhatian publik. Bantuan dapat bergerak lebih cepat ketika pemerintah turun langsung.

Aparat ikut bergerak. Relawan berdatangan. Media meliput kondisi warga.

Namun, perhatian publik tidak selalu bertahan lama.

Ketika kamera pergi, warga tetap harus membangun kembali rumah mereka. Anak-anak harus kembali belajar. Pedagang harus kembali mencari penghasilan.

Keluarga juga harus menghadapi kehilangan yang tidak selesai dalam satu hari.

Di sinilah pemerintah menghadapi ujian yang lebih berat.

Pemulihan tidak cukup dengan memastikan bantuan tiba. Pemerintah juga harus memastikan warga mampu kembali menjalani kehidupan.

Trauma Healing Jangan Berhenti di Seremoni

Keterlibatan mahasiswa psikologi membawa pesan penting. Pemulihan korban membutuhkan perhatian terhadap kondisi mental, bukan hanya kebutuhan fisik.

Namun, pendampingan psikologis tidak boleh berhenti sebagai agenda dalam kunjungan pejabat.

Korban membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan. Pemerintah juga perlu memetakan kebutuhan kelompok rentan secara lebih serius.

Anak-anak, lansia, dan keluarga yang kehilangan anggota keluarga membutuhkan pendekatan berbeda.

Karena itu, trauma healing harus masuk dalam agenda pemulihan. Pemerintah perlu memastikan program tersebut berjalan setelah fase tanggap darurat berakhir.

Ini Bukan Sekadar Kunjungan, Ini Ujian Negara

Gibran ingin pemerintah memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi. Ia juga ingin generasi muda ikut berkontribusi sesuai kapasitas dan keahlian mereka.

Pesan itu menunjukkan satu hal penting.

Pemulihan bencana tidak bisa menjadi pekerjaan satu institusi.

Pemerintah membutuhkan dukungan kampus, relawan, tenaga profesional, dan masyarakat. Semua pihak harus bekerja dengan koordinasi yang jelas.

Sebab, bencana memiliki waktu kejadian. Dampaknya bisa bertahan jauh lebih lama.

Rumah dapat dibangun kembali. Jalan dapat diperbaiki. Bantuan dapat dikirim.

Namun, luka psikologis membutuhkan proses yang berbeda.

Kunjungan Gibran ke NTT akhirnya menghadirkan pertanyaan yang lebih besar berapa lama negara akan mendampingi warga setelah status darurat berakhir?

Pertanyaan itu penting karena keberhasilan penanganan bencana tidak cukup diukur dari kecepatan bantuan.

Ukuran akhirnya adalah kemampuan warga untuk kembali berdiri dan menjalani hidup. @dimas

Tags: Gibran RakabumingNTTPascabencanaTrauma Healing

Kamu Melewatkan Ini

Pemakzulan Gibran: Kritik Konstitusional atau Sekadar Amarah Politik?

Pemakzulan Gibran: Kritik Konstitusional atau Sekadar Amarah Politik?

by eko
Oktober 9, 2026

Wacana pemakzulan Gibran memicu perdebatan. Kritik boleh keras, tetapi prosesnya tetap harus mengikuti mekanisme konstitusi. Tabooo.id - Wacana pemakzulan Gibran...

Jokowi: Jika Ingin Makzulkan Gibran, Ikuti Mekanisme Konstitusi

Jokowi: Jika Ingin Makzulkan Gibran, Ikuti Mekanisme Konstitusi

by eko
Oktober 8, 2026

Jokowi menegaskan pemakzulan Gibran harus mengikuti mekanisme demokrasi dan konstitusi setelah putusan MK terkait syarat pendidikan. Tabooo.id: Surakarta - Presiden...

Program Bantuan Smart TV Sudah Sampai, Listriknya Kapan?

Program Bantuan Smart TV Sudah Sampai, Listriknya Kapan?

by teguh
September 14, 2026

Ada satu pemandangan yang membuat program digitalisasi pendidikan terasa seperti sedang berjalan dengan dua kecepatan. Di SD Negeri Mboeng, Manggarai...

Next Post
Ayam Tembus Rp42.000, Warga Sukoharjo Minta Harga Distabilkan

Ayam Tembus Rp42.000, Warga Sukoharjo Minta Harga Distabilkan

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id