Harga daging ayam di Pasar Ir. Soekarno Sukoharjo tembus Rp42.000 per kg. Warga meminta pemerintah segera menstabilkan harga sembako.
Tabooo.id: Sukoharjo – Warga dan pedagang di Pasar Ir. Soekarno, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, mengeluhkan mahalnya sejumlah bahan kebutuhan pokok. Harga daging ayam bahkan mencapai Rp42.000 per kilogram.
Keluhan itu muncul saat Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengunjungi Pasar Ir. Soekarno, Kamis (20/8/2026). Budi menilai harga sejumlah komoditas di pasar tersebut masih relatif stabil.
Namun, pedagang dan warga merasakan kondisi berbeda. Kenaikan harga membuat uang belanja yang mereka bawa hanya mampu membeli lebih sedikit kebutuhan.
Rp100.000 Hanya Dapat Sedikit
Tuminem (52), pedagang asal Kelurahan Joho, Kecamatan Sukoharjo, mengatakan uang Rp100.000 kini tidak lagi cukup untuk membeli banyak kebutuhan sekaligus.
“(Rp100.000) itu buat beli gula, gandum, minyak goreng. Sekarang ya cuma dapat sedikit toh. Kalau dulu masih murah ya banyak,” kata Tuminem dikutip Kompas.com, Kamis (20/8/2026).
Ia juga mengeluhkan harga daging ayam yang mencapai Rp42.000 per kilogram. Menurut Tuminem, kenaikan harga kebutuhan sehari-hari membuat warga semakin kesulitan mengatur pengeluaran.
“Ayam Rp42.000 loh, tiap hari naik kok. Ya semua murah gitu yang diminta warga. Biar enggak pusing mikir sembako, cari uang angel (susah),” ujarnya.
Sebagai pedagang tauge, Tuminem juga merasakan tekanan dari harga kecambah kacang hijau yang mencapai Rp40.000 per kilogram.
Ia mengatakan harga tersebut sudah berlangsung sekitar tiga tahun dan terus menyulitkan penjualan. Tuminem berharap pemerintah dapat menekan harga kecambah hingga sekitar Rp20.000 per kilogram.
“Dulu itu masih Rp20.000 ke bawah gitu, sekarang naik terus, sudah lama tiga tahunan ini Rp40.000 terus, naik naik naik terus. Susah jualnya,” katanya.
Beras Rp15.000, Minyak hingga Rp20.000
Keluhan serupa disampaikan Hariyanti, warga yang berbelanja di Pasar Ir. Soekarno.
Ia menyebut harga daging ayam paling murah mencapai Rp40.000 per kilogram. Sementara itu, harga beras mencapai Rp15.000 per kilogram dan minyak goreng berada di kisaran Rp19.000 hingga Rp20.000 per liter.
“Rata-rata semua mahal. Beras mahal, terus ayam naik, minyak, telur, semuanya. Harga ayam sering naik. Tiap hari naik,” kata Hariyanti.
Hariyanti berharap pemerintah dapat menjaga harga berbagai kebutuhan pokok agar tetap terjangkau.
“Iya, semoga distabilkan harganya, Mbak, kasihan sama rakyatnya,” ujarnya.
Mendag Sebut Harga Sejumlah Komoditas Masih Bagus
Sementara itu, Mendag Budi Santoso menilai harga sejumlah komoditas di Pasar Ir. Soekarno masih relatif bagus.
Budi menyebut harga bawang putih mencapai Rp38.000 per kilogram, sedangkan harga acuannya Rp40.000. Harga cabai rawit berada di angka Rp45.000 per kilogram, sementara harga acuannya Rp57.000.
Harga telur bahkan berada di angka Rp23.000 per kilogram.
“Kalau Rp23.000 itu terlalu rendah ya, jadi kasihan peternaknya. Telur itu harga acuannya kan Rp30.000,” ujar Budi.
Menurut Budi, harga acuan merupakan hasil pertemuan antara produsen dan pembeli yang pemerintah tetapkan bersama asosiasi terkait. Karena itu, harga yang mendekati harga acuan dinilai lebih ideal bagi keberlangsungan produsen.
Selain telur, harga bawang merah juga berada di bawah harga acuan. Budi menyebut bawang merah dijual Rp33.000 per kilogram, sedangkan harga acuannya mencapai Rp41.500.
Harga Ayam Rp42.000 Dinilai Relatif Stabil
Untuk daging ayam, Budi menemukan harga sekitar Rp40.000 hingga Rp42.000 per kilogram. Ia menyebut harga acuan daging ayam berada di angka Rp40.000 per kilogram.
Budi menilai harga Rp42.000 masih relatif stabil karena perbedaan kualitas daging yang dijual pedagang.
“Tadi yang harga Rp42.000 memang, berbeda gitu ya, daging ayamnya berbeda. Tapi yang harga Rp40.000 ya standar, standar ayam yang bagus juga. Jadi relatif stabil,” jelasnya.
Budi juga memastikan pasokan bahan pokok, termasuk beras dan minyak goreng MinyaKita, tersedia di Pasar Ir. Soekarno.
“Jadi harga-harga cukup stabil dan pasokan terjamin ya. Jadi kita terus akan menjaga kebutuhan bahan pokok terjamin, distribusinya lancar, dan harga terjangkau oleh masyarakat,” katanya.
Pemerintah Akan Jaga Pasokan dan Distribusi
Kementerian Perdagangan akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah jika menemukan harga komoditas yang meningkat atau pasokan berkurang di pasar.
Budi mengatakan pemerintah akan menjaga pasokan dan distribusi agar harga tidak melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET).
“Jadi kalau yang ini harga supaya tidak melebihi HET ya kita jaga pasokannya dan distribusinya. Jadi pasokannya yang penting harus terjamin, distribusinya harus lancar,” ujarnya.
Harga Stabil, Daya Beli Tetap Diuji
Perbedaan pandangan antara pemerintah dan warga memperlihatkan bahwa stabilitas harga memiliki ukuran yang berbeda.
Pemerintah melihat harga melalui acuan, pasokan, dan kelancaran distribusi. Sementara warga merasakannya dari kemampuan uang belanja memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Harga daging ayam Rp40.000-Rp42.000 per kilogram mungkin masih berada di sekitar harga acuan. Namun bagi warga yang harus membagi Rp100.000 untuk membeli beras, minyak, gula, tepung, dan kebutuhan lain, kenaikan beberapa ribu rupiah tetap terasa.
Begitu pula dengan pedagang. Ketika bahan baku seperti kecambah kacang hijau mencapai Rp40.000 per kilogram, kenaikan harga tidak hanya memengaruhi pembeli, tetapi juga membuat pedagang harus menghadapi risiko penjualan yang semakin sulit.
Karena itu, persoalannya bukan hanya apakah harga komoditas masih berada dalam batas acuan pemerintah. Pertanyaan berikutnya adalah apakah daya beli masyarakat mampu mengikuti harga kebutuhan pokok yang terus bergerak?
Bagi warga Pasar Ir. Soekarno, jawaban atas pertanyaan itu sederhana: mereka ingin harga kebutuhan pokok lebih terjangkau agar uang yang sama tidak terus-menerus membeli barang yang semakin sedikit. @dimas








