Di Dukuh Kebakan, sampah pernah hilang dari pandangan dengan cara sederhana: dibakar. Namun, asap, bau, dan jelaga justru datang kembali ke kehidupan warga.
Tabooo.id – Kini, warga Dukuh Kebakan, Desa Sapen, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, mencoba mengubah cara itu.
Mereka bekerja bersama tim peneliti Universitas Sebelas Maret (UNS). Kolaborasi ini melahirkan Smart Incinerator Minim Abu, Asap, dan Jelaga atau Smartin-Aja.
Program tersebut mendapat dukungan dari Pemberdayaan Desa Binaan UNS.
Dulu Ada Tempat Sampah dan Pembakaran Terbuka
Perwakilan tim pengembang sekaligus dosen UNS, Ristu Saptono, mengatakan lokasi itu sebelumnya menjadi tempat sampah terbuka.
Warga juga membakar sampah di lokasi tersebut.
Cara itu memang membantu mengurangi tumpukan. Namun, pembakaran memunculkan masalah baru bagi lingkungan sekitar.
“Asap, bau, dan jelaga menjadi keluhan warga,” kata Ristu.
Menurut dia, jelaga bahkan kerap terselip dan menempel di genteng rumah warga.
“Akibat pembakaran tersebut, warga mengeluhkan bau, asap, dan jelaga yang terselip di genteng-genteng,” ungkapnya.
Masalah sampah akhirnya tidak berhenti di tempat pembakaran.
Dampaknya ikut menyebar ke rumah-rumah warga.
Keluhan Mendorong Warga Mencari Solusi
Kesadaran untuk berubah kemudian tumbuh dari masyarakat.
Ketua RW dan unsur pemerintah desa ikut mendukung upaya mencari cara pengolahan sampah yang lebih baik.
Tim UNS bersama warga lalu mulai melakukan survei.
Mereka mempelajari sejumlah tempat pengolahan sampah organik. Tim juga melihat beberapa sistem pembakaran yang menggunakan insinerator.
Namun, mereka menemukan persoalan dalam sejumlah sistem tersebut.
“Beberapa tempat mengalami kerusakan karena pencampuran sampah kering dan basah,” terang Ristu.
Persoalan itu dekat dengan kondisi sampah rumah tangga.
Warga tidak selalu menghasilkan sampah dalam kondisi yang sama. Sampah basah dan kering sering bercampur sejak awal.
Karena itu, tim mencari sistem yang dapat menghadapi kondisi tersebut.
Smartin-Aja Mengolah Sampah dalam Satu Sistem
Dari proses itu, tim mengembangkan Smartin-Aja.
Ristu menjelaskan sistem ini menggunakan insinerator satu pintu. Sistem tersebut menggabungkan sampah basah dan kering dalam proses pengolahan.
Tim memulai proses dengan pembakaran awal.
Setelah itu, sistem melanjutkan proses pengolahan sampah.
Konsep ini lahir dari pengalaman tim saat mempelajari berbagai sistem insinerator.
Tim tidak hanya ingin membuat mesin yang bekerja dalam kondisi ideal.
Mereka ingin sistem tersebut menjawab persoalan yang benar-benar warga hadapi setiap hari.
Uji Coba Capai 30 Kilogram per Jam
Tim menjalankan uji coba Smartin-Aja sejak 31 Juli hingga 14 Agustus 2026.
Selama pengujian, sistem menunjukkan kemampuan menangkap asap dan jelaga secara signifikan.
Pada tahap pengujian keempat, tim juga mencatat waktu pembakaran menjadi lebih singkat.
Kapasitas yang terukur mencapai sekitar 30 kilogram sampah basah per jam.
Ristu mengatakan tim masih akan mengembangkan sistem tersebut.
“Pada pengujian tahap keempat, durasi pembakaran menjadi lebih singkat dengan kapasitas terukur sekitar 30 kilogram sampah basah per jam,” jelasnya.
Ke depan, tim menargetkan kapasitas optimal sekitar 50 kilogram sampah per jam.
“Target pengembangan sistem ini diarahkan untuk mencapai kapasitas optimal sekitar 50 kilogram per jam,” lanjut Ristu.
Insinerator Hadir di Tengah Permukiman
Smartin-Aja berdiri di tengah lingkungan warga.
Karena itu, tim juga memikirkan bentuk bangunan dan suasana di sekitarnya.
Mereka tidak ingin fasilitas pengolahan sampah itu memperkuat kesan kumuh.
Tim kemudian menghias fasad bangunan dengan mural berukuran 7 x 5 meter.
Dosen Seni Rupa Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) UNS, Sigit Purnomo Adi, mengoordinasikan pengerjaan mural tersebut.
“Kami samarkan bangunan ini dengan mural,” kata Ristu.
Menurut dia, mural membantu membuat bangunan lebih menyatu dengan lingkungan.
Fasilitas itu juga berada di area publik yang warga gunakan untuk berbagai kegiatan.
Pernah Ganggu Hajatan Warga
Ristu mengatakan pembakaran sampah terbuka sebelumnya pernah mengganggu kegiatan warga.
Saat warga menggelar hajatan, asap dari pembakaran bisa muncul dan mengganggu suasana.
“Pernah terjadi ketika warga ada hajat, di sini beroperasi pembakaran sampah terbuka dan akhirnya mengganggu warga,” terangnya.
Pengalaman itu menjadi salah satu alasan penting bagi tim untuk mencari solusi baru.
Sampah memang menjadi persoalan sehari-hari.
Namun, dampaknya bisa masuk ke banyak ruang kehidupan.
Asap bisa mengganggu rumah warga.
Bau bisa menyebar ke lingkungan.
Jelaga bisa menempel di bangunan.
Bahkan, pembakaran sampah dapat mengganggu kegiatan sosial masyarakat.
Saat Sampah Menjadi Urusan Bersama
Apa yang terjadi di Dukuh Kebakan menunjukkan satu kenyataan sederhana.
Sampah mungkin berasal dari rumah masing-masing. Namun, dampak pengelolaannya bisa warga rasakan bersama.
Ketika seseorang membakar sampah, asap tidak berhenti di atas rumahnya.
Asap bergerak mengikuti udara.
Bau juga tidak mengenal batas pagar.
Karena itu, persoalan sampah tidak selesai ketika seseorang membuangnya.
Masalah justru bisa berubah bentuk setelah sampah keluar dari rumah.
Inilah realitasnya: sampah bisa habis terbakar, tetapi warga tetap menanggung akibatnya.
Melalui Smartin-Aja, warga Kebakan bersama UNS mencoba mengubah pola tersebut.
Mereka tidak hanya mencari cara untuk mengurangi tumpukan sampah.
Mereka juga mencoba mengurangi gangguan yang selama ini muncul setelah api menyala.
Dari tempat pembakaran terbuka, kini muncul sebuah upaya untuk membangun sistem pengolahan yang lebih terukur.
Hasil akhirnya mungkin masih terus berkembang.
Namun, perubahan sudah dimulai dari masalah yang paling dekat dengan warga: ketika sampah dibakar, satu kampung bisa kebagian asap.@eko








