Sabtu, Agustus 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Dari Tumpukan Sampah ke Asap yang Tak Punya Batas

by eko
Agustus 18, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Dulu, warga membakar sampah agar halaman kembali bersih. Namun, asap tidak pernah benar-benar tahu batas halaman. Ia naik ke udara, masuk ke lingkungan, lalu meninggalkan bau dan jelaga di rumah-rumah warga.

Tabooo.id – Persoalan itu pernah menjadi bagian dari kehidupan di Dukuh Kebakan, Desa Sapen, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo.

Kini, warga bersama tim peneliti Universitas Sebelas Maret (UNS) mencoba mencari jalan lain. Mereka membangun Smart Incinerator Minim Abu, Asap, dan Jelaga atau Smartin-Aja.

Mesin ini hadir bukan sekadar untuk membakar sampah lebih cepat.

Ia lahir dari keluhan warga yang terlalu lama hidup berdampingan dengan dampak pembakaran terbuka.

Ketika Sampah Hilang, Masalah Baru Muncul

Dulu, lokasi tersebut menjadi tempat pembuangan dan pembakaran sampah terbuka.

Ini Belum Selesai

OTT KPK Rektor Unsoed, Dugaan Suap Buka Celah Korupsi Kampus

30 Menit Melawan Jarak: Ketika Akses Buku Belum Merata di Sekolah Pelosok

Cara itu memang terlihat sederhana.

Sampah menumpuk. Api menyala. Tumpukan perlahan habis.

Namun, masalah tidak ikut hilang.

Perwakilan tim pengembang Smartin-Aja sekaligus dosen UNS, Ristu Saptono, mengatakan warga mulai mengeluhkan dampak pembakaran tersebut.

“Akibat pembakaran tersebut, warga mengeluhkan bau, asap, dan jelaga yang terselip di genteng-genteng,” kata Ristu.

Di sinilah persoalan sampah menunjukkan wajah aslinya.

Seseorang mungkin merasa selesai setelah membuang sampah. Namun, lingkungan belum tentu merasakan hal yang sama.

Sampah memang keluar dari rumah. Setelah itu, asap justru masuk ke ruang hidup bersama.

Keluhan Warga Berubah Menjadi Kesadaran

Warga akhirnya mulai melihat bahwa pembakaran terbuka bukan solusi jangka panjang.

Kesadaran itu tumbuh dari lingkungan sendiri.

Ketua RW dan unsur pemerintah desa ikut mendukung langkah untuk mencari sistem pengolahan yang lebih baik.

Tim UNS kemudian bergerak bersama warga.

Mereka melakukan survei ke sejumlah tempat. Tim mempelajari pengolahan sampah organik dan melihat langsung beberapa sistem pembakaran yang memakai insinerator.

Namun, pencarian solusi itu tidak langsung berjalan mulus.

Ristu mengatakan beberapa sistem yang mereka pelajari mengalami masalah.

“Terjadi kerusakan karena pencampuran sampah yang kering dan basah,” terangnya.

Masalah ini penting karena sampah rumah tangga tidak datang dalam kondisi ideal.

Warga tidak selalu memilah setiap sampah.

Sampah basah dan kering sering bercampur sejak dari rumah.

Karena itu, tim membutuhkan sistem yang bisa menghadapi kondisi nyata tersebut.

Mesin yang Menghadapi Sampah Apa Adanya

Dari proses itu, lahirlah konsep insinerator satu pintu.

Sistem Smartin-Aja menggabungkan pengolahan sampah basah dan kering. Tim memulai proses dengan pembakaran awal sebelum sistem melanjutkan proses berikutnya.

Konsep tersebut mencoba menjawab persoalan yang tim temukan di lapangan.

Teknologi tidak bisa hanya bekerja baik ketika semua kondisi sempurna.

Ia juga harus menghadapi kebiasaan manusia.

Dan sampah, seperti kehidupan, jarang datang dalam keadaan rapi.

Ini Bukan Sekadar Soal Mesin

Di sinilah Tabooo Twist-nya.

Masalah sampah bukan hanya soal ke mana kita membuangnya. Masalah sebenarnya dimulai dari apa yang terjadi setelah sampah itu meninggalkan tangan kita.

Selama ini, banyak orang menganggap urusan selesai ketika kantong sampah keluar dari rumah.

Padahal, sampah tidak menghilang.

Ia hanya berpindah tempat.

Jika masuk ke pembakaran terbuka, ia berubah menjadi asap.

Jika pengelolaannya buruk, dampaknya kembali lagi kepada manusia.

Warga Kebakan pernah mengalami putaran itu.

Karena itu, Smartin-Aja mencoba memutusnya.

Uji Coba Mengarah ke Kapasitas Lebih Besar

Tim menjalankan uji coba Smartin-Aja sejak 31 Juli hingga 14 Agustus 2026.

Dalam pengujian tersebut, sistem menunjukkan kemampuan menangkap asap dan jelaga secara signifikan.

Pada tahap pengujian keempat, proses pembakaran berlangsung lebih singkat.

Tim mencatat kapasitas sekitar 30 kilogram sampah basah per jam.

Namun, tim belum berhenti di angka itu.

Ristu mengatakan mereka menargetkan kapasitas optimal sekitar 50 kilogram per jam pada tahap pengembangan berikutnya.

“Pada pengujian tahap keempat, durasi pembakaran menjadi lebih singkat dengan kapasitas terukur sekitar 30 kilogram sampah basah per jam. Ke depan, target pengembangan sistem ini diarahkan untuk mencapai kapasitas optimal sekitar 50 kilogram per jam,” jelasnya.

Artinya, Smartin-Aja masih terus berkembang.

Warga dan peneliti tidak sekadar membangun fasilitas.

Mereka juga terus menguji apakah sistem tersebut benar-benar bisa menjawab persoalan di lingkungan mereka.

Tempat Sampah Tidak Harus Terlihat Kumuh

Ada satu keputusan menarik dalam proyek ini.

Tim tidak membiarkan bangunan insinerator tampil seperti fasilitas yang harus dijauhi.

Mereka justru menghias fasadnya dengan mural raksasa berukuran 7 x 5 meter.

Dosen Seni Rupa FSRD UNS, Sigit Purnomo Adi, mengoordinasikan pengerjaan mural tersebut.

“kami samarkan bangunan ini dengan mural,” kata Ristu.

Tujuannya sederhana.

Warga tidak perlu melihat fasilitas pengolahan sampah sebagai tempat kumuh.

Bangunan itu berdiri di area publik.

Karena itu, tim ingin membuatnya lebih menyatu dengan lingkungan sekitar.

Seni kemudian masuk ke ruang yang biasanya hanya bicara soal limbah.

Mural memberi wajah baru pada tempat yang sebelumnya identik dengan tumpukan sampah dan pembakaran.

Asap Tak Lagi Ikut Datang ke Hajatan

Masalah pembakaran terbuka juga pernah mengganggu kegiatan sosial warga.

Ketika warga mengadakan hajatan, pembakaran sampah di lokasi tersebut tetap bisa menghasilkan asap.

Akibatnya, kegiatan masyarakat dan persoalan sampah bertemu dalam ruang yang sama.

“Pernah terjadi ketika warga ada hajat, di sini beroperasi pembakaran sampah terbuka dan akhirnya mengganggu warga,” terang Ristu.

Pengalaman itu menunjukkan satu hal.

Persoalan lingkungan tidak selalu terasa sebagai isu besar.

Kadang, ia hadir dalam bentuk yang sangat dekat.

Bau yang masuk ke rumah.

Jelaga yang menempel di genteng.

Atau asap yang muncul ketika warga sedang berkumpul.

Dari Tempat Pembakaran ke Ruang Bersama

Smartin-Aja lahir dari masalah sederhana yang selama ini dianggap biasa.

Sampah menumpuk, lalu orang membakarnya.

Namun, kebiasaan sederhana itu membawa konsekuensi yang lebih luas.

Asap tidak memilih rumah mana yang harus terkena.

Bau juga tidak mengenal batas pagar.

Karena itu, solusi sampah tidak bisa hanya bicara tentang bagaimana seseorang menyingkirkan limbah dari rumahnya.

Solusi harus memikirkan ruang hidup bersama.

Inovasi di Dukuh Kebakan menunjukkan bagaimana warga bisa memulai perubahan dari persoalan yang mereka rasakan sendiri.

UNS membawa riset.

Warga membawa pengalaman nyata.

Pemerintah desa memberi dukungan.

Sementara itu, seni memberi wajah baru bagi fasilitas yang selama ini identik dengan kesan kumuh.

Sampah memang bisa berubah menjadi abu. Tetapi masalah tidak otomatis ikut lenyap.

Di Kebakan, warga mencoba mencari cara agar sesuatu yang keluar dari rumah tidak kembali sebagai gangguan bagi tetangga.

Dan mungkin, di situlah persoalan sampah sebenarnya dimulai: bukan saat kita membuangnya, tetapi saat kita berhenti peduli pada ke mana ia pergi.@eko

Tags: inceneratorKebakanpembakaran sampahSmartinAjasukoharjoUNS

Kamu Melewatkan Ini

Ayam Tembus Rp42.000, Warga Sukoharjo Minta Harga Distabilkan

Ayam Tembus Rp42.000, Warga Sukoharjo Minta Harga Distabilkan

by dimas
Agustus 20, 2026

Harga daging ayam di Pasar Ir. Soekarno Sukoharjo tembus Rp42.000 per kg. Warga meminta pemerintah segera menstabilkan harga sembako. Tabooo.id:...

UNS dan Warga Kebakan Bangun Insinerator Minim Asap

UNS dan Warga Kebakan Bangun Insinerator Minim Asap

by eko
Agustus 18, 2026

Di Dukuh Kebakan, sampah pernah hilang dari pandangan dengan cara sederhana: dibakar. Namun, asap, bau, dan jelaga justru datang kembali...

Upacara Kemerdekaan di Gerbang Sritex: Saat Buruh Masih Menunggu Haknya

Upacara HUT RI di Gerbang Sritex: Saat Buruh Masih Menunggu Haknya

by dimas
Agustus 17, 2026

Upacara HUT RI ke-81 di gerbang Sritex menjadi momen eks karyawan menuntut pesangon dan THR yang belum terselesaikan. Tabooo.id: Sukoharjo...

Next Post
Ritek Surakarta Kenalkan Jaranan Sentherewe di Pakuwon Mall Solo

Ritek Surakarta Kenalkan Jaranan Sentherewe di Pakuwon Mall Solo

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id