Rabu, Mei 13, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Anak-Anak Pejuang Kanker Hadapi Dampak Penonaktifan BPJS PBI

by dimas
Februari 10, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Sore itu, matahari menyelip pelan di antara jendela Rumah Pejuang Kanker Ambu di Bandung. Cahaya jingga memantul di lantai yang dipenuhi sepatu kecil dan mainan berserakan. Di ruang itu, Dewi Nurjanah yang semua orang kenal sebagai Ambu melangkah perlahan. Pandangannya tertuju pada Afzal Atalah, bocah tiga tahun asal Garut, yang menggenggam jemarinya sendiri sambil menunggu giliran berobat. Setiap detik terasa menggantung, seolah ruangan itu menahan napas, berharap keajaiban datang tepat waktu.

Namun, kekhawatiran tidak pernah benar-benar pergi dari wajah Ambu.

“Baru satu pasien yang ketahuan. Waktu mau ke rumah sakit, BPJS PBI-nya sudah tidak aktif. Jangan sampai ada lagi yang terdampak,” ujarnya. Suaranya serak, menahan gelombang cemas yang saban hari menghampirinya.

Afzal menjadi korban pertama dari kebijakan penonaktifan kepesertaan Penerima Bantuan Iuran (PBI) JKN BPJS Kesehatan. Bagi Ambu, satu anak yang tersingkir dari sistem sudah terlalu banyak. Ia melihat satu kasus sebagai sinyal bahaya bagi ribuan anak lain yang sedang bertarung melawan kanker anak-anak yang tidak punya waktu untuk menunggu perbaikan administrasi.

Jejak Anak-Anak yang Tidak Bisa Menunggu

Saat ini, Rumah Pejuang Kanker Ambu menampung 23 anak dan delapan remaja. Setiap tahun, ratusan pasien datang dan pergi, meninggalkan jejak tawa, tangis, dan doa di setiap sudut ruangan. Mereka berdatangan dari berbagai daerah di Jawa Barat dengan rujukan dari RSHS, Welas Asih, Cicendo, Hermina, hingga Sentosa.

Ini Belum Selesai

Sekolah Rakyat dan Mimpi Anak Miskin: Pendidikan Putus Rantai Kemiskinan?

Hustle Culture Gen Z: Agar Sukses atau Terlihat Sukses?

Ambu mengenal hampir semua cerita mereka.

“Semua pasien di sini menderita kanker, leukemia, atau tumor. Rata-rata mereka mengandalkan BPJS PBI untuk pengobatan,” kata Ambu sambil menenangkan seorang ibu yang menunggu di ruang singgah.

Bagi anak-anak ini, BPJS bukan sekadar kartu. Setiap jadwal kemoterapi yang awalnya berlangsung seminggu sekali selama delapan hingga sembilan bulan, lalu berlanjut menjadi dua hingga lima minggu sekali menjadi pertaruhan hidup. Menunda satu sesi saja dapat membahayakan nyawa. Karena itu, Ambu menandai kalender dengan cermat. Setiap tanggal baginya bukan sekadar angka, melainkan harapan hidup.

Konflik yang Tak Pernah Masuk Data

Sebagian besar pasien berasal dari keluarga kurang mampu. Ketika kebijakan mendorong mereka beralih ke kepesertaan mandiri, biaya bulanan langsung menghimpit kondisi ekonomi yang sudah rapuh.

“Kalau mandiri itu berat. Harus bayar tiap bulan, sementara pengobatannya panjang, Jangan dinonaktifkan. Kasihan anak-anak yang sedang kemoterapi.” ujar Ambu.

Di rumah singgah, ketegangan tidak pernah tercatat di laporan resmi. Seorang anak meringkuk menahan sakit pasca-kemoterapi. Orang tua memeriksa kartu BPJS berulang kali, berharap sistem tidak menambah beban baru. Sementara itu, Ambu bergerak cepat dari satu pasien ke pasien lain, memastikan jadwal pengobatan tetap berjalan.

Ketika satu kartu menjadi nonaktif, seluruh jaringan harapan ikut terguncang. Orang tua mulai mempertimbangkan jeda pengobatan. Anak-anak menghadapi risiko besar dalam terapi. Rumah singgah pun menanggung beban moral yang tidak ringan.

Apa yang Tidak Terlihat oleh Sistem

Di balik kebijakan teknis dan angka kepesertaan PBI, tersembunyi kisah manusia yang jarang terdengar. Sistem administrasi mungkin tampak rapi di layar komputer, tetapi anak-anak dengan kanker tidak bisa menunggu tombol “aktif” menyala kembali.

Ambu menegaskan bahwa kemoterapi tidak mengenal kompromi waktu.

“Pasien sudah dijadwalkan dokter. Tidak boleh lewat. Kalau ada kendala, seharusnya langsung konsultasi,” tegasnya.

Kalimat itu sederhana, tetapi ironinya tajam. Sistem mengatur kepesertaan, namun tidak pernah benar-benar mengatur kehidupan. Setiap kartu nonaktif berarti risiko nyata. Anak-anak tidak memikirkan prosedur; mereka hanya butuh infus tepat waktu, obat yang tersedia, dan tangan yang menenangkan di samping ranjang.

Refleksi: Angka Mengalahkan Empati

Penonaktifan PBI bukan sekadar persoalan anggaran. Ia menyentuh wilayah moral dan kemanusiaan. Ambu berharap pemerintah melihat dampak yang tidak tercermin dalam data: ketakutan anak-anak, kecemasan orang tua, dan rapuhnya kepercayaan terhadap sistem kesehatan.

“Jangan dinonaktifkan. Dampaknya ke keluarga pasien. Anak-anak kasihan, Mereka sudah minta maaf karena tidak mampu. Untuk obat saja banyak yang tidak tercover. Ini malah dinonaktifkan.” jelasnya.

Tabooo melihat paradoks yang nyata. Negara menjanjikan perlindungan kesehatan, tetapi kebijakan administratif justru menciptakan celah yang meminggirkan mereka yang paling rapuh. Anak-anak penderita kanker menjadi bukti paling jujur tentang kegagalan sistem yang kehilangan empati.

Ketegangan yang Terus Mengikat

Di rumah singgah, setiap langkah anak-anak menyimpan cerita. Afzal tersenyum tipis meski baru tahu kartu BPJS-nya tidak aktif. Seorang remaja menahan nyeri, berjuang untuk sesi kemoterapi berikutnya. Orang tua menghitung biaya, mencoba menutup celah sistem dengan donasi kecil atau pinjaman darurat.

Hidup mereka berjalan di tepi jurang. Satu kesalahan administrasi dapat menunda pengobatan. Karena itu, rumah singgah berusaha menambal celah itu dengan disiplin jadwal, kehangatan, dan perhatian. Setiap hari menjadi perlawanan melawan sakit, melawan sistem, dan melawan ketakutan yang tidak kasat mata.

Penutup: Harapan yang Tidak Bisa Dihitung

Saat matahari menutup hari, langit Bandung memantulkan jingga lembut di halaman Rumah Pejuang Kanker Ambu. Anak-anak tertawa sebentar, mengayuh sepeda kecil, meski kecemasan belum sepenuhnya pergi.

Solidaritas dari Ambu dan jejaring pendukung, termasuk Tabooo Network Indonesia, mungkin belum cukup. Namun kepedulian itu menyalakan harapan: bahwa di tengah sistem yang kaku, manusia masih bisa memilih untuk peduli.

Pertanyaannya kini menggantung bagaimana jika setiap kebijakan kesehatan benar-benar menimbang manusia di balik angka? Bagaimana jika empati menjadi bagian dari prosedur, bukan sekadar slogan?

Di rumah singgah itu, jawabannya hadir dalam tawa anak-anak, napas lega orang tua, dan kerja sunyi Ambu yang terus menjaga satu keyakinan bahwa kesehatan bukan sekadar hak administratif, melainkan perjuangan hidup yang harus dirawat dengan hati. @dimas

Tags: bpjsEmpatiJKNKemanusiaanKesehatanPBISolidaritas

Kamu Melewatkan Ini

8 Mei dan Semangat Kemanusiaan: Kisah di Balik Hari Palang Merah Internasional

8 Mei dan Semangat Kemanusiaan: Kisah di Balik Hari Palang Merah Internasional

by dimas
Mei 8, 2026

Peringatan Hari Palang Merah Internasional dan Bulan Sabit Merah Internasional setiap 8 Mei menjadi pengingat penting bagi masyarakat dunia tentang...

Hari Palang Merah Internasional: Kemanusiaan yang Lahir dari Kekacauan Perang

Hari Palang Merah Internasional: Kemanusiaan yang Lahir dari Kekacauan Perang

by dimas
Mei 7, 2026

Dua ribu tahun setelah kisah Solferino yang menjadi titik awal gerakan kemanusiaan modern, dunia masih terus mengulang satu pertanyaan yang...

Cek Fakta: Semakin Jarang Ejakulasi, Semakin Sehat Mitos atau Fakta?

Cek Fakta: Semakin Jarang Ejakulasi, Semakin Sehat Mitos atau Fakta?

by eko
Mei 5, 2026

Orang bicara soal ejakulasi dengan nada pelan. Setengah malu, setengah percaya mitos. Padahal, di saat yang sama, klaim soal “menahan...

Next Post
DTKS Hanya Melihat Angka, Menutup Mata pada Kehidupan Nyata

DTKS Hanya Melihat Angka, Menutup Mata pada Kehidupan Nyata

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

Rupiah Anjlok ke Rp 17.500 per Dolar AS, Investor Mulai Kehilangan Kepercayaan

Mei 12, 2026

Kuota Tanpa Batas? Nyaman Buat Kamu, Tapi Jaringan Bisa Kewalahan

Mei 8, 2026

Sekolah Rakyat di Kupang: Jalan Baru Anak Miskin Keluar dari Batas Pendidikan?

Mei 12, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id