Dua ribu tahun setelah kisah Solferino yang menjadi titik awal gerakan kemanusiaan modern, dunia masih terus mengulang satu pertanyaan yang sama: mengapa manusia harus belajar lagi cara menolong sesamanya?
Tidak ada medan perang yang terlihat. Tidak ada denting senjata yang terdengar jelas. Namun di balik krisis, bencana, dan konflik yang terus datang silih berganti, selalu muncul pola yang sama tubuh-tubuh yang lebih dulu terlupakan, lalu baru diingat ketika semuanya sudah terlambat.
Tabooo.id: Deep – Pada titik ini, 8 Mei tidak lagi sekadar tanggal dalam kalender kemanusiaan global. Justru, ia menjadi pengingat sunyi bahwa gagasan pertolongan tanpa batas lahir dari satu momen ketika seorang manusia bernama Henry Dunant memilih untuk tidak berpaling dari penderitaan. Sejak saat itu, dunia sesungguhnya tidak sedang merayakan tanggal, melainkan menguji ulang kemampuan paling dasar: tetap menjadi manusia di tengah penderitaan manusia lain.
Namun, semua itu berawal dari satu peristiwa yang tidak pernah direncanakan.
Seorang pengusaha Swiss, Henry Dunant, pada 1859 justru “tersesat” ke medan perang Solferino di Italia. Di sana, ia tidak menemukan kemenangan. Sebaliknya, ia menemukan ribuan tubuh yang ditinggalkan tanpa bantuan, tanpa nama, dan tanpa sistem yang peduli.
Solferino: Ketika Kemanusiaan Kehilangan Bahasa
Perang Solferino tidak hanya tercatat sebagai konflik militer. Lebih jauh dari itu, ia menjadi titik ketika bahasa kemanusiaan kehilangan maknanya.
Dalam satu hari, lebih dari 40 ribu tentara terluka. Sayangnya, sistem medis tidak mampu menjangkau mereka. Selain itu, tidak ada jalur evakuasi yang berjalan. Bahkan, otoritas pun tidak hadir secara efektif di lapangan.
Akibatnya, yang tersisa hanyalah tanah yang basah oleh darah, jeritan yang tidak lagi dibedakan, dan kesunyian panjang di antara tubuh-tubuh yang perlahan ditinggalkan.
Di tengah situasi itu, Dunant tidak memilih diam. Sebaliknya, ia bergerak. Ia mengajak warga sekitar untuk membantu tanpa struktur, tanpa perintah, dan tanpa membedakan siapa kawan atau lawan.
Dengan cara itu, ia menghapus batas yang biasanya ditetapkan perang. Setiap orang yang terluka hanya memiliki satu identitas: manusia yang sedang sekarat.
Sejak momen itu, perang tidak lagi berdiri sebagai soal kemenangan. Sebaliknya, ia berubah menjadi cermin paling telanjang tentang apa yang terjadi ketika empati hilang dari sistem konflik.
Dari Kesaksian Menjadi Gerakan Dunia
Setelah kembali dari Solferino, Dunant tidak bisa melepaskan apa yang ia lihat. Karena itu, ia menuliskan semuanya dalam A Memory of Solferino.
Namun, tulisan itu bukan sekadar laporan. Lebih dari itu, ia berubah menjadi gugatan terhadap dunia yang membiarkan penderitaan berlangsung tanpa sistem penolong.
Melalui refleksi itu, Dunant mengajukan pertanyaan yang sederhana, tetapi mengguncang:
mengapa tidak ada lembaga netral yang hadir untuk menyelamatkan manusia di tengah perang?
Pertanyaan tersebut kemudian melahirkan International Committee of the Red Cross pada 1863. Selanjutnya, dunia mulai bergerak menuju Konvensi Jenewa pertama pada 1864.
Untuk pertama kalinya, perang tidak sepenuhnya tanpa aturan. Sebaliknya, muncul prinsip baru: korban harus dirawat, tenaga medis harus dilindungi, dan kemanusiaan tetap harus diberi ruang, bahkan di tengah kehancuran.
Simbol yang Tidak Memihak Siapa Pun
Dari perubahan itu, lahirlah simbol sederhana: palang merah di atas latar putih.
Simbol ini tidak membawa ideologi. Tidak pula membawa kekuasaan. Bahkan, ia tidak mewakili negara mana pun.
Sebaliknya, simbol ini membawa satu pesan yang sangat tegas: jangan tembak orang ini, karena ia sedang menolong manusia lain.
Kemudian, di berbagai wilayah, simbol ini beradaptasi menjadi bulan sabit merah. Meski bentuknya berbeda, maknanya tetap sama: netralitas dalam kemanusiaan harus dijaga di atas segalanya.
Dengan demikian, simbol ini tidak hanya menjadi tanda. Ia menjadi batas moral di tengah kekacauan.
Hari Ini: Dunia yang Berubah, Luka yang Sama
Lebih dari satu setengah abad kemudian, dunia memang telah berubah secara drastis. Namun demikian, pola penderitaan tetap berulang dalam bentuk yang berbeda.
Perang tidak lagi selalu berbentuk garis depan. Sebaliknya, krisis kemanusiaan muncul dalam wujud bencana alam, konflik sipil, hingga gelombang pengungsian yang terus meluas.
Meskipun demikian, satu hal tidak berubah: selalu ada kelompok manusia yang paling cepat kehilangan akses terhadap pertolongan.
Oleh karena itu, gerakan kemanusiaan yang lahir dari Solferino tetap bekerja hingga hari ini. Relawan bergerak bukan ketika keadaan aman, tetapi justru saat risiko meningkat. Mereka hadir ketika banyak pihak memilih menjauh.
Dengan kata lain, mereka meneruskan logika yang sama seperti yang dimulai Dunant: tidak ada kondisi yang cukup buruk untuk menghentikan kemanusiaan.
Henry Dunant: Dari Dilupakan hingga Diingat Kembali
Ironisnya, sejarah tidak langsung mengangkat nama Dunant.
Sebaliknya, ia pernah hidup dalam kesunyian dan kemiskinan. Dunia sempat melupakan gagasan yang ia perjuangkan, meskipun gagasan itu terus hidup dan berkembang.
Namun demikian, waktu akhirnya mengoreksi ingatan manusia. Pada 1901, ia menerima Nobel Perdamaian pertama.
Walau datang terlambat, pengakuan itu menegaskan satu hal ide tentang kemanusiaan tidak pernah benar-benar mati, bahkan ketika penciptanya terlupakan.
Penutup: Pertanyaan yang Tidak Pernah Usai
Pada akhirnya, 8 Mei bukan hanya tentang mengenang satu nama atau satu sejarah.
Lebih jauh dari itu, ia menjadi cermin untuk melihat kembali diri kita sendiri di tengah dunia yang terus bergerak cepat, keras, dan penuh ketidakpastian.
Karena itu, pertanyaannya tetap sama, dan tidak pernah selesai:
Ketika manusia lain jatuh, apakah kita masih memilih untuk berhenti sejenak dan tetap menjadi manusia bagi manusia lain? @dimas







