• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Minggu, Maret 22, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home News Global

Isu Greenland Picu Wacana Boikot Piala Dunia 2026 oleh Jerman

Januari 19, 2026
in Global, News
A A
Dari Venezuela ke Greenland: Peta Ambisi Geopolitik Donald Trump

Pemandangan es dan pegunungan di Greenland, pulau strategis yang kini menjadi pusat perhatian geopolitik AS di bawah Donald Trump. (Foto istimewa)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Global – Pemerintah Jerman mulai membuka opsi memboikot Piala Dunia 2026 jika Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump benar-benar menganeksasi Greenland. Wacana itu muncul sebagai sinyal tekanan politik, bukan sekadar protes simbolik.

Juru bicara kebijakan luar negeri fraksi CDU/CSU di parlemen Jerman, Jurgen Hardt, menegaskan bahwa boikot hanya akan menjadi langkah terakhir. Menurutnya, langkah ekstrem itu ditujukan untuk memaksa Trump berpikir ulang soal Greenland, wilayah otonom milik Denmark.

Piala Dunia 2026 dijadwalkan berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026. Amerika Serikat menjadi tuan rumah utama bersama Kanada dan Meksiko. Turnamen ini melibatkan 48 tim dan diproyeksikan sebagai pesta sepak bola terbesar sepanjang sejarah FIFA.

Namun, ambisi geopolitik Washington mulai mengusik euforia tersebut.

Greenland, Trump, dan Ambisi Arktik

Donald Trump kembali mengangkat isu Greenland setelah kembali ke Gedung Putih pada awal 2024. Ia sebelumnya pernah menyatakan minat membeli pulau itu saat menjabat presiden pada periode 2017-2021.

Trump menilai Greenland memiliki nilai strategis bagi pertahanan Amerika Serikat. Ia ingin menempatkan sistem pertahanan rudal Golden Dome di wilayah Arktik tersebut. Trump juga mengklaim Greenland perlu berada di bawah kendali AS untuk mencegah pengaruh Rusia dan China.

Sejumlah laporan media menyebut Washington siap membeli Greenland dengan nilai hingga 700 miliar dolar AS. Opsi penggunaan kekuatan militer juga sempat mencuat dalam diskursus politik AS.

Langkah ini memicu reaksi keras dari Eropa. Denmark menegaskan Greenland bukan komoditas geopolitik. Negara-negara Eropa lain mulai membaca manuver Trump sebagai ancaman terhadap stabilitas kawasan.

Tekanan Publik Menguat di Jerman

Tekanan terhadap boikot tidak hanya datang dari elite politik. Survei INSA Sociological Institute menunjukkan 47 persen warga Jerman mendukung boikot Piala Dunia 2026 jika AS mencaplok Greenland secara paksa.

RelatedPosts

MotoGP Brasil 2026: Semua Nol Lagi, Tapi Marquez Punya Satu Keunggulan

Pemerintah Resmi Tetapkan Idul Fitri 1447 H pada Sabtu 21 Maret 2026

Sebanyak 35 persen responden menolak boikot. Sisanya memilih tidak menjawab. Survei tersebut melibatkan 1.002 responden dan dilakukan pada 15–16 Januari 2026.

Dukungan publik ini menunjukkan perubahan sikap. Sepak bola tidak lagi dipandang netral ketika politik global bergerak agresif. Bagi sebagian warga Jerman, boikot menjadi alat moral untuk menyampaikan pesan diplomatik.

Siapa yang Paling Terdampak?

Jika boikot benar-benar terjadi, dampaknya tidak berhenti di ruang parlemen. Industri olahraga, pariwisata, dan ekonomi kreatif langsung ikut terdampak.

Pelaku usaha kecil, pekerja sektor pariwisata, hingga penonton yang sudah membeli tiket menghadapi ketidakpastian. Sponsor, penyiar, dan penyelenggara turnamen juga menanggung risiko finansial besar.

Piala Dunia selama ini menjadi mesin ekonomi global. Ketika politik masuk ke dalam stadion, jutaan orang yang menggantungkan hidup pada event ini ikut menanggung akibatnya.

Sepak Bola di Persimpangan Politik

Ancaman boikot dari Jerman menegaskan satu hal sepak bola semakin sulit berdiri di luar konflik global. Turnamen yang seharusnya menyatukan negara justru terancam menjadi alat tawar geopolitik.

Jika Piala Dunia 2026 berubah menjadi medan tarik-menarik kekuasaan, publik layak bertanya apakah sepak bola masih milik fans, atau sudah sepenuhnya menjadi properti politik negara besar?

Di tengah sorak sorai yang belum dimulai, satu hal sudah pasti bola belum bergulir, tapi kepentingan sudah saling menendang. @dimas

Tags: Amerika SerikatdiplomasiDuniaGeopolitikGlobalGreenlandHubunganInternasionalJermanPiala Dunia 2026PolitikSepak Bola
Next Post
Salah Timing, Bukan Salah Orang: Makna Lagu Waktu yang Salah

Salah Timing, Bukan Salah Orang: Makna Lagu Waktu yang Salah

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Legian: Ketika Malam Tidak Pernah Tidur

    Legian: Ketika Malam Tidak Pernah Tidur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Legian: Jalan yang Tidak Pernah Benar-Benar Tidur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sedap Malam: Ketika Ogoh-Ogoh Tidak Lagi Sekadar Dibakar, Tapi Mengingatkan Luka yang Belum Selesai

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kiamat Tidak Menunggu Zona Waktu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pantai yang Kita Banggakan, atau yang Kita Abaikan?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.