Selasa, Juni 30, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Gie dan Zaman yang Tak Mau Mendengar

by Tabooo
Oktober 11, 2025
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Soe Hok Gie meninggal di puncak Gunung Semeru tahun 1969. Satu hari sebelum ulang tahunnya yang ke-27, ia menghirup gas beracun dan pergi dalam diam.

Ironisnya, lebih dari setengah abad kemudian, namanya malah jadi legenda, muncul di kaus anak kampus, kutipan TikTok, dan mural dinding kota: “Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.”

Kata-kata itu viral lagi, tapi dengan konteks yang berubah. Dulu ia ditulis dengan darah dan kesepian, sekarang dikutip sambil ngopi di co-working space.

Si Anak Gunung, Si Anak Zaman

Gie bukan sekadar aktivis atau sejarawan; ia adalah content creator nurani di era sebelum internet.

Tulisan-tulisannya di koran mahasiswa “Mahasiswa Indonesia” jadi viral-nya masa itu. Bedanya, Gie tak sedang mencari likes, dia sedang melawan ketakutan nasional bernama tirani.

Ini Belum Selesai

From Reality to Narrative: Mengubah Tradisi Menjadi Karya

Raden Ronggo Prawirodirjo III: Api Perlawanan dari Madiun

Sebagai Tionghoa di era penuh prasangka, ia tahu resikonya: surat kebencian, ancaman, hingga pengucilan. Tapi Gie tetap menulis. Ia bukan ingin dianggap pahlawan, tapi manusia yang jujur.

Dari Orde Lama ke Orde Baru

Yang bikin Gie langka: dia menolak jadi alat siapa pun. Dia melawan Sukarno karena kediktatoran. Dia juga menolak tunduk pada Soeharto karena korupsi dan pembunuhan politik.
Ia berdiri sendirian di tengah dua kubu yang sama-sama menganggap dirinya benar.

Kalau Gie hidup sekarang? Mungkin dia bakal di-report karena “toxic positivity” atau diserang netizen karena “kurang nasionalis”. Tapi itulah bedanya, Gie bicara untuk bangsa, bukan algoritma.

Antara Nurani dan Branding Moral

Generasi sekarang hidup di zaman keterbukaan, tapi juga kepalsuan. Kita bisa bicara apa saja, tapi tetap takut kehilangan pengikut.

Gie menulis tanpa filter, tanpa engagement rate, tanpa “collab post.” Integritasnya bukan brand positioning, tapi cara hidup.

Kita sering bilang rindu sosok jujur seperti Gie, tapi jujur saja, kalau ada Gie hari ini, banyak dari kita mungkin tak tahan dibaca tulisannya.

Alam Sebagai Pelarian

Gie mendirikan Mapala UI bukan sekadar untuk jalan-jalan, tapi mencari udara bersih, secara harfiah dan batin. Baginya, alam adalah satu-satunya ruang jujur yang tersisa.

Menurutnya, di sana tak ada propaganda, tak ada komentar sinis. Hanya langit, batu, dan kesunyian yang tak bisa dibohongi.

Salah satu puisi hasil perenungannya yang begitu romantik berjudul Mandalawangi-Pangrango yang ditulisnya pada 19 Juli 1966, ketika demonstrasi mahasiswa menentang Presiden Sukarno sedang marak di Indonesia.

Senja ini…

Ketika matahari turun

Ke dalam jurang-jurangmu

Aku datang kembali

Ke dalam ribaanmu, dalam sepimu

Dan dalam dinginmu

Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna

Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan

Dan aku terima kau dalam keberadaanmu

Seperti kau terima daku

Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi

Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada

Hutanmu adalah misteri segala

Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

Malam itu ketika dingin dan kebisuan

Menyelimuti Mandalawangi

Kau datang kembali

Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

“hidup adalah soal keberanian,

Menghadapi yang tanda tanya

Tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar

Terimalah, dan hadapilah”

Dan antara ransel-ransel kosong

Dan api unggun yang membara

Aku terima itu semua

Melampaui batas-batas hutanmu

Aku cinta padamu Pangrango

Karena aku cinta pada keberanian hidup

Puisi itu terasa seperti meditasi. Sebuah logout dari dunia penuh bising dan topeng digital.

Kita Masih Punya Gie di Dalam Diri

Soe Hok Gie bukan sekadar nama dalam buku sejarah, tapi simbol tentang keberanian bicara di dunia yang penuh sensor sosial. Ia mengingatkan bahwa “menjadi baik” sering berarti “tidak disukai.”

Dan mungkin, untuk tetap manusia, kita memang harus siap kehilangan tepuk tangan.

Gie masih hidup!

Gie sudah pergi, tapi setiap kali seseorang memilih jujur walau sendirian, di situ Gie masih hidup. Karena idealisme tidak mati, ia cuma pindah bentuk: dari buku catatan ke postingan, dari puncak gunung ke layar kecil.

Pertanyaannya cuma satu: Apakah kita masih berani menulis, bahkan saat dunia tidak mau mendengar? @tabooo

Tags: AktivisSejarahSoe Hok Gie

Kamu Melewatkan Ini

Ki Ngabehi Soerodiwirjo dan Rahasia di Balik Lahirnya Setia Hati

Ki Ngabehi Soerodiwirjo dan Rahasia di Balik Lahirnya Setia Hati

by dimas
Juni 21, 2026

Ki Ngabehi Soerodiwirjo menempuh perjalanan panjang melintasi Nusantara untuk mencari jati diri. Dari pencarian itulah lahir Persaudaraan Setia Hati, warisan...

Bersih Desa: Tradisi Jawa yang Lahir dari Wabah, Kehilangan, dan Harapan

Bersih Desa: Tradisi Jawa yang Lahir dari Wabah, Kehilangan, dan Harapan

by dimas
Juni 14, 2026

Tradisi Bersih Desa ternyata berakar dari legenda wabah Kerajaan Gilingaya, kisah kehilangan seorang ibu, dan harapan yang menyatukan masyarakat Jawa....

Malam 1 Suro dan Jejak Sultan Agung Menyatukan Peradaban Jawa

Malam 1 Suro dan Jejak Sultan Agung Menyatukan Peradaban Jawa

by dimas
Juni 13, 2026

Malam 1 Suro bukan sekadar kisah mistis. Di baliknya tersimpan sejarah Sultan Agung menyatukan Jawa melalui budaya, tradisi, dan kalender...

Next Post
Budaya Diam: Ketika Luka Sosial Disembunyikan Dengan Uang

Budaya Diam, Ketika Luka Sosial Disembunyikan Dengan Uang

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id