Tabooo.id: Vibes – Soe Hok Gie meninggal di puncak Gunung Semeru tahun 1969. Satu hari sebelum ulang tahunnya yang ke-27, ia menghirup gas beracun dan pergi dalam diam.
Ironisnya, lebih dari setengah abad kemudian, namanya malah jadi legenda, muncul di kaus anak kampus, kutipan TikTok, dan mural dinding kota: “Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.”
Kata-kata itu viral lagi, tapi dengan konteks yang berubah. Dulu ia ditulis dengan darah dan kesepian, sekarang dikutip sambil ngopi di co-working space.
Si Anak Gunung, Si Anak Zaman
Gie bukan sekadar aktivis atau sejarawan; ia adalah content creator nurani di era sebelum internet.
Tulisan-tulisannya di koran mahasiswa “Mahasiswa Indonesia” jadi viral-nya masa itu. Bedanya, Gie tak sedang mencari likes, dia sedang melawan ketakutan nasional bernama tirani.
Sebagai Tionghoa di era penuh prasangka, ia tahu resikonya: surat kebencian, ancaman, hingga pengucilan. Tapi Gie tetap menulis. Ia bukan ingin dianggap pahlawan, tapi manusia yang jujur.
Dari Orde Lama ke Orde Baru
Yang bikin Gie langka: dia menolak jadi alat siapa pun. Dia melawan Sukarno karena kediktatoran. Dia juga menolak tunduk pada Soeharto karena korupsi dan pembunuhan politik.
Ia berdiri sendirian di tengah dua kubu yang sama-sama menganggap dirinya benar.
Kalau Gie hidup sekarang? Mungkin dia bakal di-report karena “toxic positivity” atau diserang netizen karena “kurang nasionalis”. Tapi itulah bedanya, Gie bicara untuk bangsa, bukan algoritma.
Antara Nurani dan Branding Moral
Generasi sekarang hidup di zaman keterbukaan, tapi juga kepalsuan. Kita bisa bicara apa saja, tapi tetap takut kehilangan pengikut.
Gie menulis tanpa filter, tanpa engagement rate, tanpa “collab post.” Integritasnya bukan brand positioning, tapi cara hidup.
Kita sering bilang rindu sosok jujur seperti Gie, tapi jujur saja, kalau ada Gie hari ini, banyak dari kita mungkin tak tahan dibaca tulisannya.
Alam Sebagai Pelarian
Gie mendirikan Mapala UI bukan sekadar untuk jalan-jalan, tapi mencari udara bersih, secara harfiah dan batin. Baginya, alam adalah satu-satunya ruang jujur yang tersisa.
Menurutnya, di sana tak ada propaganda, tak ada komentar sinis. Hanya langit, batu, dan kesunyian yang tak bisa dibohongi.
Salah satu puisi hasil perenungannya yang begitu romantik berjudul Mandalawangi-Pangrango yang ditulisnya pada 19 Juli 1966, ketika demonstrasi mahasiswa menentang Presiden Sukarno sedang marak di Indonesia.
Senja ini…
Ketika matahari turun
Ke dalam jurang-jurangmu
Aku datang kembali
Ke dalam ribaanmu, dalam sepimu
Dan dalam dinginmu
Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
Seperti kau terima daku
Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta
Malam itu ketika dingin dan kebisuan
Menyelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua
“hidup adalah soal keberanian,
Menghadapi yang tanda tanya
Tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar
Terimalah, dan hadapilah”
Dan antara ransel-ransel kosong
Dan api unggun yang membara
Aku terima itu semua
Melampaui batas-batas hutanmu
Aku cinta padamu Pangrango
Karena aku cinta pada keberanian hidup
Puisi itu terasa seperti meditasi. Sebuah logout dari dunia penuh bising dan topeng digital.
Kita Masih Punya Gie di Dalam Diri
Soe Hok Gie bukan sekadar nama dalam buku sejarah, tapi simbol tentang keberanian bicara di dunia yang penuh sensor sosial. Ia mengingatkan bahwa “menjadi baik” sering berarti “tidak disukai.”
Dan mungkin, untuk tetap manusia, kita memang harus siap kehilangan tepuk tangan.
Gie masih hidup!
Gie sudah pergi, tapi setiap kali seseorang memilih jujur walau sendirian, di situ Gie masih hidup. Karena idealisme tidak mati, ia cuma pindah bentuk: dari buku catatan ke postingan, dari puncak gunung ke layar kecil.
Pertanyaannya cuma satu: Apakah kita masih berani menulis, bahkan saat dunia tidak mau mendengar? @tabooo





