Sabtu, Mei 16, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Gie dan Zaman yang Tak Mau Mendengar

by Tabooo
Oktober 11, 2025
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Soe Hok Gie meninggal di puncak Gunung Semeru tahun 1969. Satu hari sebelum ulang tahunnya yang ke-27, ia menghirup gas beracun dan pergi dalam diam.

Ironisnya, lebih dari setengah abad kemudian, namanya malah jadi legenda, muncul di kaus anak kampus, kutipan TikTok, dan mural dinding kota: “Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.”

Kata-kata itu viral lagi, tapi dengan konteks yang berubah. Dulu ia ditulis dengan darah dan kesepian, sekarang dikutip sambil ngopi di co-working space.

Si Anak Gunung, Si Anak Zaman

Gie bukan sekadar aktivis atau sejarawan; ia adalah content creator nurani di era sebelum internet.

Tulisan-tulisannya di koran mahasiswa “Mahasiswa Indonesia” jadi viral-nya masa itu. Bedanya, Gie tak sedang mencari likes, dia sedang melawan ketakutan nasional bernama tirani.

Ini Belum Selesai

Soeharto Mundur dan Jakarta yang Pernah Menjadi Neraka Terbuka

Anak Muda yang Belum Selesai Menjadi Manusia

Sebagai Tionghoa di era penuh prasangka, ia tahu resikonya: surat kebencian, ancaman, hingga pengucilan. Tapi Gie tetap menulis. Ia bukan ingin dianggap pahlawan, tapi manusia yang jujur.

Dari Orde Lama ke Orde Baru

Yang bikin Gie langka: dia menolak jadi alat siapa pun. Dia melawan Sukarno karena kediktatoran. Dia juga menolak tunduk pada Soeharto karena korupsi dan pembunuhan politik.
Ia berdiri sendirian di tengah dua kubu yang sama-sama menganggap dirinya benar.

Kalau Gie hidup sekarang? Mungkin dia bakal di-report karena “toxic positivity” atau diserang netizen karena “kurang nasionalis”. Tapi itulah bedanya, Gie bicara untuk bangsa, bukan algoritma.

Antara Nurani dan Branding Moral

Generasi sekarang hidup di zaman keterbukaan, tapi juga kepalsuan. Kita bisa bicara apa saja, tapi tetap takut kehilangan pengikut.

Gie menulis tanpa filter, tanpa engagement rate, tanpa “collab post.” Integritasnya bukan brand positioning, tapi cara hidup.

Kita sering bilang rindu sosok jujur seperti Gie, tapi jujur saja, kalau ada Gie hari ini, banyak dari kita mungkin tak tahan dibaca tulisannya.

Alam Sebagai Pelarian

Gie mendirikan Mapala UI bukan sekadar untuk jalan-jalan, tapi mencari udara bersih, secara harfiah dan batin. Baginya, alam adalah satu-satunya ruang jujur yang tersisa.

Menurutnya, di sana tak ada propaganda, tak ada komentar sinis. Hanya langit, batu, dan kesunyian yang tak bisa dibohongi.

Salah satu puisi hasil perenungannya yang begitu romantik berjudul Mandalawangi-Pangrango yang ditulisnya pada 19 Juli 1966, ketika demonstrasi mahasiswa menentang Presiden Sukarno sedang marak di Indonesia.

Senja ini…

Ketika matahari turun

Ke dalam jurang-jurangmu

Aku datang kembali

Ke dalam ribaanmu, dalam sepimu

Dan dalam dinginmu

Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna

Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan

Dan aku terima kau dalam keberadaanmu

Seperti kau terima daku

Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi

Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada

Hutanmu adalah misteri segala

Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

Malam itu ketika dingin dan kebisuan

Menyelimuti Mandalawangi

Kau datang kembali

Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

“hidup adalah soal keberanian,

Menghadapi yang tanda tanya

Tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar

Terimalah, dan hadapilah”

Dan antara ransel-ransel kosong

Dan api unggun yang membara

Aku terima itu semua

Melampaui batas-batas hutanmu

Aku cinta padamu Pangrango

Karena aku cinta pada keberanian hidup

Puisi itu terasa seperti meditasi. Sebuah logout dari dunia penuh bising dan topeng digital.

Kita Masih Punya Gie di Dalam Diri

Soe Hok Gie bukan sekadar nama dalam buku sejarah, tapi simbol tentang keberanian bicara di dunia yang penuh sensor sosial. Ia mengingatkan bahwa “menjadi baik” sering berarti “tidak disukai.”

Dan mungkin, untuk tetap manusia, kita memang harus siap kehilangan tepuk tangan.

Gie masih hidup!

Gie sudah pergi, tapi setiap kali seseorang memilih jujur walau sendirian, di situ Gie masih hidup. Karena idealisme tidak mati, ia cuma pindah bentuk: dari buku catatan ke postingan, dari puncak gunung ke layar kecil.

Pertanyaannya cuma satu: Apakah kita masih berani menulis, bahkan saat dunia tidak mau mendengar? @tabooo

Tags: AktivisSejarahSoe Hok Gie

Kamu Melewatkan Ini

Kenapa Dunia Tidak Pernah Stabil? – Madilog Series #1.7

Kenapa Dunia Tidak Pernah Stabil? – Madilog Series #1.7

by Tabooo
Mei 13, 2026

Kenapa Dunia Tidak Pernah Stabil? Karena realitas terus bergerak, sementara manusia terus mencoba mempertahankan sesuatu agar tetap sama. Sistem berubah,...

Celurit Ke Layar Global: Identitas, Estetika, dan Siapa yang Sebenarnya Bercerita?

Celurit Ke Layar Global: Identitas, Estetika, dan Siapa yang Sebenarnya Bercerita?

by teguh
Mei 5, 2026

Seorang aktor Indonesia berdiri tegap di sebuah frame, menggenggam celurit dengan tenang. Namun, ia tidak berada di ladang Madura. Bukan...

Rambut yang Gugur, Kehormatan yang Bangkit

Rambut yang Gugur, Kehormatan yang Bangkit

by teguh
Mei 5, 2026

Pagi itu tidak ada gemuruh meriam. Tidak ada teriakan perang yang memekakkan telinga. Yang ada hanya sunyi sunyi yang berat,...

Next Post
Budaya Diam: Ketika Luka Sosial Disembunyikan Dengan Uang

Budaya Diam, Ketika Luka Sosial Disembunyikan Dengan Uang

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Mei 15, 2026

Disekap dan Diperkosa: Ironi Mahasiswi Makassar Saat Mencari Pekerjaan

Mei 15, 2026

“Sepatu Kekecilan” dan Tragedi Siswa SMK Samarinda yang Mengguncang Publik

Mei 15, 2026

300 Rumah Terendam Saat Warga Tidur: Banjir Lumajang Datang dari Hulu

Mei 15, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id