Ki Ngabehi Soerodiwirjo menempuh perjalanan panjang melintasi Nusantara untuk mencari jati diri. Dari pencarian itulah lahir Persaudaraan Setia Hati, warisan spiritual dan pencak silat yang terus hidup hingga kini.
Tabooo.id – Ini bukan sekadar kisah lahirnya sebuah perguruan pencak silat. Ini adalah perjalanan panjang seorang manusia yang menembus batas wilayah, budaya, dan keyakinan untuk menjawab pertanyaan paling sulit dalam hidup: siapa sebenarnya dirinya?
Kabut pagi masih menggantung ketika seorang anak bernama Masdan lahir pada Sabtu Pahing tahun 1869. Ia tumbuh dalam keluarga priyayi Jawa yang memiliki garis keturunan hingga Batoro Katong di Ponorogo, tokoh yang dipercaya sebagai putra Prabu Brawijaya dari Majapahit. Namun sejarah menunjukkan bahwa darah bangsawan tidak selalu membuat seseorang lebih cepat menemukan jati dirinya.
Masdan justru memilih jalan yang panjang dan berliku.
Kelak, dunia mengenalnya sebagai Ki Ngabehi Soerodiwirjo, tokoh yang menanam benih Persaudaraan Setia Hati Winongo Madiun. Namun sebelum namanya tercatat dalam sejarah pencak silat, ia lebih dahulu menjalani hidup sebagai pengembara yang terus mencari makna.
Setelah menyelesaikan Sekolah Rakyat pada usia 14 tahun, Masdan mengikuti berbagai penempatan pekerjaan di lingkungan pemerintahan Hindia Belanda. Kariernya membawanya berpindah dari Jombang ke Bandung, lalu ke Betawi, Bengkulu, Padang, hingga Aceh.
Perjalanan itu ternyata bukan sekadar perpindahan tugas.
Di setiap daerah, ia mencari guru. Di setiap pertemuan, ia menyerap ilmu. Dari setiap pengalaman, ia merangkai pemahaman baru tentang manusia dan kehidupan.
Pencak Silat sebagai Peta Kebudayaan Nusantara
Bandung menjadi salah satu titik penting dalam pencarian tersebut. Di tanah Priangan, Masdan mempelajari berbagai aliran seperti Cimande, Cikalong, Cipetir, Cibeduyut, Cimelaya, Ciampas, dan Sumedangan.
Ketika melanjutkan perjalanan ke Betawi, ia memperdalam jurus Kwitang, Betawen, Monyetan, hingga permainan toya. Langkahnya kemudian berlanjut ke Sumatra Barat. Di sana, ia mempelajari Lintau, Bungus, Alang-Lawas, Simpai, dan sejumlah teknik lain yang berkembang dalam tradisi Minangkabau.
Perjalanan lintas daerah itu memperlihatkan satu kenyataan menarik.
Jauh sebelum Indonesia berdiri sebagai negara, pencak silat sudah menjadi bahasa budaya yang menghubungkan berbagai wilayah Nusantara.
Masdan tidak hanya menghafal jurus. Ia juga mempelajari nilai yang hidup di balik setiap gerakan. Ia mengamati cara masyarakat memaknai keberanian, kehormatan, dan hubungan manusia dengan Sang Pencipta.
Pencarian itu mencapai babak baru saat ia bertemu Datuk Raja Betua di Padang. Sang pendekar tidak hanya mengajarkan teknik bertarung, tetapi juga membuka pintu menuju dunia kebatinan.
Sejak saat itu, pencak silat tidak lagi sekadar menjadi seni bela diri.
Pencak silat berubah menjadi jalan untuk memahami diri sendiri.
Pertanyaan yang Mengubah Jalan Hidup
Tahun 1897 menjadi titik balik yang menentukan.
Pada usia 28 tahun, Masdan jatuh cinta kepada seorang gadis Padang, putri seorang ahli tasawuf. Namun cinta itu datang bersama sebuah tantangan yang tidak biasa.
Sebelum menerima pinangannya, sang gadis mengajukan dua pertanyaan.
“Siapakah sesungguhnya Masdan?”
“Siapakah sesungguhnya saya?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun bagi Masdan, pertanyaan tersebut mengguncang seluruh fondasi pemikirannya.
Ia tidak menemukan jawabannya melalui pendidikan formal, jabatan, maupun pengalaman hidup yang telah dijalani. Karena itu, ia kembali mencari guru yang mampu membimbingnya memahami hakikat kehidupan.
Pencarian tersebut mempertemukannya dengan Nyoman Ida Gempol, seorang bangsawan Bali yang menjalani pembuangan di Sumatra akibat kebijakan kolonial Belanda. Dari tokoh inilah Masdan memperdalam ilmu kebatinan dan filsafat kehidupan.
Selanjutnya, ia menyatukan pelajaran dari Nyoman Ida Gempol dengan ajaran Datuk Raja Betua serta pengalaman panjangnya dalam dunia pencak silat.
Dari proses itu lahirlah fondasi ajaran Setia Hati.
Ketika Kekuatan Tidak Lagi Berarti Kekerasan
Ajaran yang dirumuskan Soerodiwirjo membawa pendekatan yang berbeda dari banyak perguruan silat pada zamannya.
Ia memperkenalkan sebuah prinsip yang kemudian menjadi pegangan utama:
“Gerak lahir luluh dengan gerak batin.”
“Gerak batin tercermin oleh gerak lahir.”
Prinsip tersebut mengajarkan bahwa kemampuan fisik tidak boleh berjalan tanpa kedewasaan batin.
Kekuatan sejati tidak terletak pada kemampuan mengalahkan lawan.
Kekuatan sejati lahir ketika seseorang mampu mengendalikan dirinya sendiri.
Pandangan itu terasa revolusioner pada masa kolonial. Ketika banyak orang memandang pencak silat sebagai alat pertarungan, Soerodiwirjo justru melihatnya sebagai sarana pembentukan karakter.
Ia menempatkan pencak silat sebagai jalan pendidikan manusia.
Silat bukan sekadar soal menang atau kalah.
Silat adalah proses mengenali diri, menata emosi, dan menjaga kehormatan.
Mengapa Disebut Persaudaraan?
Pada 1903, Soerodiwirjo mendirikan organisasi yang kemudian berkembang menjadi Persaudaraan Setia Hati. Setelah menetap di Winongo, Madiun, ia mengembangkan ajaran tersebut hingga menyebar ke berbagai daerah.
Menariknya, ia tidak memilih istilah “perkumpulan” atau “organisasi” untuk menyebut wadah yang dibangunnya.
Ia memilih kata “persaudaraan”.
Pilihan itu bukan kebetulan.
Soerodiwirjo meyakini bahwa manusia tidak bisa tumbuh sendirian. Hubungan antarmanusia harus berdiri di atas rasa saling menghormati, bukan dominasi.
Karena itu, ia tidak bertujuan menciptakan pendekar yang gemar bertarung.
Ia ingin membentuk manusia yang mampu menjaga persatuan, menghormati sesama, dan mengendalikan dirinya.
Warisan yang Melampaui Jurus
Pada tahun 1944, Ki Ngabehi Soerodiwirjo memberikan pelajaran terakhirnya di Balong, Ponorogo. Tidak lama kemudian, kondisi kesehatannya terus menurun.
Ia mengembuskan napas terakhir pada Jumat Legi, 10 November 1944, di kediamannya di Winongo, Madiun.
Menjelang akhir hayatnya, ia tidak meninggalkan pesan tentang jurus rahasia ataupun kesaktian luar biasa.
Sebaliknya, ia menyampaikan pesan yang sangat sederhana.
“Tetap bersatu hati dan tetap rukun lahir batin.”
Pesan tersebut terasa relevan hingga hari ini.
Masyarakat modern hidup dalam era yang penuh perpecahan. Perbedaan politik, identitas, dan kepentingan sering kali memisahkan manusia satu sama lain.
Dalam situasi seperti itu, warisan terbesar Soerodiwirjo mungkin bukan terletak pada jurus yang ia ajarkan kepada murid-muridnya.
Warisan terbesarnya justru terletak pada gagasan bahwa manusia harus mengenal dirinya terlebih dahulu sebelum berusaha mengalahkan orang lain.
Ini Bukan Sekadar Sejarah Pencak Silat
Banyak orang memandang kisah Ki Ngabehi Soerodiwirjo sebagai sejarah berdirinya Persaudaraan Setia Hati Winongo.
Padahal, ada lapisan yang jauh lebih dalam.
Kisah ini berbicara tentang pencarian identitas, kegelisahan batin, dan perjalanan panjang untuk memahami makna kehidupan.
Lebih dari satu abad lalu, Masdan berkelana dari satu daerah ke daerah lain demi menemukan jawaban atas pertanyaan sederhana siapa sebenarnya saya?
Ironisnya, pertanyaan yang sama masih menghantui manusia modern saat ini.
Di tengah derasnya media sosial dan kebutuhan untuk terus menunjukkan citra diri, banyak orang mengenal dunia luar dengan sangat baik, tetapi gagal memahami dirinya sendiri.
Di situlah warisan Soerodiwirjo menemukan maknanya.
Ini bukan sekadar cerita tentang pencak silat.
Ini adalah kisah tentang manusia yang berani menempuh perjalanan paling sulit dalam hidupnya perjalanan menuju dirinya sendiri. @dimas







