Sabtu, Agustus 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Sejarah PSHW: Persaudaraan, Jurus, dan Budi Pekerti Luhur

by dimas
Juni 20, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Sejarah PSHW perjalanan dari jurus pencak silat menuju pembentukan budi pekerti luhur yang diwariskan lintas generasi dari Winongo.

Tabooo.id – Pagi masih basah ketika para peziarah melangkah memasuki kawasan makam Winongo di Madiun. Di tempat sederhana itu, waktu seolah berjalan lebih lambat. Di sanalah Ki Ngabei Soerodiwirjo beristirahat, sosok yang namanya terus hidup dalam ingatan ribuan warga dan pesilat hingga hari ini.

Sebagian orang mengenalnya sebagai pendiri Persaudaraan Setia Hati. Namun, bagi banyak pengikut ajarannya, ia lebih dari sekadar guru pencak silat. Ia mewariskan pandangan hidup yang menempatkan budi pekerti di atas kekuatan fisik.

Pada 1903, ketika Indonesia masih berada di bawah kolonialisme Belanda, Ki Ngabei Soerodiwirjo merintis Persaudaraan Setia Hati. Ia tidak hanya mengajarkan jurus dan teknik bertarung. Sebaliknya, ia membangun jalan hidup yang memadukan olah raga, olah batin, disiplin, serta pengabdian kepada Tuhan dan sesama manusia.

Ajaran itu berangkat dari keyakinan sederhana. Tubuh yang kuat harus berjalan seiring dengan hati yang bersih. Karena itulah Setia Hati menempatkan pencak silat sebagai sarana pembentukan karakter, bukan sekadar alat untuk menunjukkan kehebatan.

Selain itu, ajaran Setia Hati mampu menjangkau berbagai kalangan. Perbedaan suku, agama, maupun latar belakang sosial tidak menjadi penghalang. Persaudaraan ini justru menghadirkan ruang yang menyatukan manusia melalui penghormatan, kedisiplinan, dan pengendalian diri.

Ini Belum Selesai

AMPB Tinggalkan DPR, Mengapa Warga Pati Memilih Mengalah?

Apa Itu Masyarakat Prismatik dan Mengapa Masih Relevan?

Ketika Warisan Hampir Kehilangan Penerus

Meski memiliki akar sejarah yang kuat, Persaudaraan Setia Hati sempat menghadapi ujian berat.

Memasuki dekade 1960-an, aktivitas organisasi mulai melemah. Banyak saudara tua memasuki usia senja. Sementara itu, regenerasi berjalan lambat dan jumlah anggota baru terus menurun. Satu per satu tokoh senior berpulang tanpa banyak penerus yang siap melanjutkan ajaran tersebut.

Akibatnya, kekhawatiran mulai muncul di kalangan anggota. Jika kondisi itu terus berlangsung, Setia Hati berisiko hilang bersama generasi yang selama ini menjaganya.

Di tengah situasi tersebut, R. Djimat Hendro Soewarno memilih bergerak. Pada 15 Oktober 1965, ia menghidupkan kembali berbagai kegiatan Persaudaraan Setia Hati. Kemudian, ia mengajak generasi muda berlatih, memperkuat pembinaan, dan menanamkan kembali nilai-nilai yang diwariskan Ki Ngabei Soerodiwirjo.

Langkah itu segera menarik perhatian masyarakat. Banyak pemuda tertarik mengikuti latihan. Selain itu, dukungan masyarakat terus mengalir. Perlahan tetapi pasti, api yang hampir padam kembali menyala.

Silat yang Mengajarkan Cara Menjadi Manusia

Banyak orang memandang pencak silat sebagai olahraga bela diri. Akan tetapi, Winongo Tunas Muda melihatnya lebih jauh daripada sekadar kemampuan bertarung.

Latihan fisik berjalan beriringan dengan pembinaan rohani. Para anggota belajar tentang kesetiaan, tanggung jawab, cinta kasih, dan penghormatan terhadap sesama manusia. Bahkan, filosofi Jawa yen dijiwit kroso loro ojo njiwit liyan menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Jika dicubit terasa sakit, maka jangan menyakiti orang lain.

Di sisi lain, berbagai ajaran kemanusiaan di banyak budaya juga menyampaikan pesan yang serupa. Manusia harus memperlakukan sesamanya sebagaimana ia ingin diperlakukan.

Karena itu, kemenangan terbesar dalam ajaran Setia Hati bukanlah kemenangan atas lawan. Sebaliknya, kemenangan sejati hadir ketika seseorang mampu mengendalikan amarah, menjaga perilaku, dan tetap rendah hati saat memiliki kekuatan.

Dari Tradisi Menjadi Persaudaraan yang Bertahan

Kebangkitan yang dimulai pada pertengahan 1960-an kemudian membawa perubahan besar. Generasi muda yang tumbuh dalam lingkungan Persaudaraan Setia Hati mulai membangun identitas organisasi melalui berbagai musyawarah dan pembenahan kelembagaan.

Proses tersebut kemudian melahirkan Persaudaraan Setia Hati Winongo Tunas Muda. Selanjutnya, organisasi itu memperoleh pengakuan resmi dari KONI, IPSI, serta berbagai instansi pemerintah terkait.

Meski demikian, legalitas bukan alasan utama yang membuat organisasi ini bertahan hingga sekarang.

Sebaliknya, kisah para guru, nilai persaudaraan, dan semangat pengabdian menjadi fondasi yang menjaga keberlangsungannya. Setiap generasi menerima warisan yang sama, lalu meneruskannya kepada generasi berikutnya.

Api yang Tetap Menyala

Dunia terus berubah. Kini, generasi muda hidup di tengah media sosial, budaya instan, dan arus informasi yang bergerak tanpa henti. Akibatnya, banyak nilai lama perlahan memudar karena dianggap tidak lagi relevan.

Namun, Setia Hati Winongo Tunas Muda menunjukkan kenyataan yang berbeda.

Warisan budaya dapat bertahan ketika sebuah komunitas terus merawat maknanya. Tradisi tidak hidup karena usianya yang panjang. Sebaliknya, tradisi hidup karena selalu menemukan generasi yang bersedia menjaganya.

Itulah sebabnya nama Ki Ngabei Soerodiwirjo terus hidup lebih dari satu abad setelah ajarannya lahir. Sejarah memang mencatat namanya, tetapi ribuan orang menjaga warisan itu dengan terus mempraktikkan nilai yang ia tinggalkan.

Pada akhirnya, kisah Setia Hati Winongo Tunas Muda bukan hanya cerita tentang organisasi pencak silat.

Lebih dari itu, kisah ini menunjukkan bagaimana sebuah warisan mampu bertahan di tengah perubahan zaman. Selain itu, kisah ini memperlihatkan bagaimana persaudaraan mampu mengalahkan jarak antargenerasi. Dan yang terpenting, kisah ini membuktikan bahwa api kecil yang dijaga dengan kesetiaan dapat terus menerangi perjalanan sebuah bangsa. @dimas

Tags: Budaya JawaKi Ngabei SoerodiwirjoPencak SilatPersaudaraan Setia HatiPSHW Tunas MudaSejarah PSHWSetia Hati Winongo

Kamu Melewatkan Ini

Sego Wiwit: Makanan yang Mengajarkan Orang Jawa Cara Bersyukur

Sego Wiwit: Makanan yang Mengajarkan Orang Jawa Cara Bersyukur

by Anisa
Agustus 3, 2026

Sego Wiwit menyimpan cerita yang jauh lebih panjang daripada cita rasanya. Orang Jawa tidak menciptakan hidangan ini untuk mengisi meja...

Wiwitan, Cara Dusun Kweden Menjaga Akar di Tengah Modernisasi

Wiwitan, Cara Dusun Kweden Menjaga Akar di Tengah Modernisasi

by Anisa
Agustus 3, 2026

Wiwitan kembali menghidupkan sawah Dusun Kweden, Kalurahan Trirenggo, Bantul, pada Minggu (2/8/2026). Ratusan warga berkumpul dengan busana petani Jawa tempo...

Pecel Bukan Lahir di Madiun? Jejak Sejarahnya Justru Berawal dari Tanah Mataram

Pecel Bukan Lahir di Madiun? Jejak Sejarahnya Justru Berawal dari Tanah Mataram

by jeje
Juli 16, 2026

Bagaimana jika selama ini kita salah mengenal asal-usul pecel? Madiun memang sukses membangun reputasi nasi pecel sebagai identitas daerah. Namun,...

Next Post
Roy Suryo dan dr Tifa Ditahan, Perang Narasi Berujung Proses Hukum

Roy Suryo dan dr Tifa Ditahan, Perang Narasi Berujung Proses Hukum

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id