Sejarah PSHW perjalanan dari jurus pencak silat menuju pembentukan budi pekerti luhur yang diwariskan lintas generasi dari Winongo.
Tabooo.id – Pagi masih basah ketika para peziarah melangkah memasuki kawasan makam Winongo di Madiun. Di tempat sederhana itu, waktu seolah berjalan lebih lambat. Di sanalah Ki Ngabei Soerodiwirjo beristirahat, sosok yang namanya terus hidup dalam ingatan ribuan warga dan pesilat hingga hari ini.
Sebagian orang mengenalnya sebagai pendiri Persaudaraan Setia Hati. Namun, bagi banyak pengikut ajarannya, ia lebih dari sekadar guru pencak silat. Ia mewariskan pandangan hidup yang menempatkan budi pekerti di atas kekuatan fisik.
Pada 1903, ketika Indonesia masih berada di bawah kolonialisme Belanda, Ki Ngabei Soerodiwirjo merintis Persaudaraan Setia Hati. Ia tidak hanya mengajarkan jurus dan teknik bertarung. Sebaliknya, ia membangun jalan hidup yang memadukan olah raga, olah batin, disiplin, serta pengabdian kepada Tuhan dan sesama manusia.
Ajaran itu berangkat dari keyakinan sederhana. Tubuh yang kuat harus berjalan seiring dengan hati yang bersih. Karena itulah Setia Hati menempatkan pencak silat sebagai sarana pembentukan karakter, bukan sekadar alat untuk menunjukkan kehebatan.
Selain itu, ajaran Setia Hati mampu menjangkau berbagai kalangan. Perbedaan suku, agama, maupun latar belakang sosial tidak menjadi penghalang. Persaudaraan ini justru menghadirkan ruang yang menyatukan manusia melalui penghormatan, kedisiplinan, dan pengendalian diri.
Ketika Warisan Hampir Kehilangan Penerus
Meski memiliki akar sejarah yang kuat, Persaudaraan Setia Hati sempat menghadapi ujian berat.
Memasuki dekade 1960-an, aktivitas organisasi mulai melemah. Banyak saudara tua memasuki usia senja. Sementara itu, regenerasi berjalan lambat dan jumlah anggota baru terus menurun. Satu per satu tokoh senior berpulang tanpa banyak penerus yang siap melanjutkan ajaran tersebut.
Akibatnya, kekhawatiran mulai muncul di kalangan anggota. Jika kondisi itu terus berlangsung, Setia Hati berisiko hilang bersama generasi yang selama ini menjaganya.
Di tengah situasi tersebut, R. Djimat Hendro Soewarno memilih bergerak. Pada 15 Oktober 1965, ia menghidupkan kembali berbagai kegiatan Persaudaraan Setia Hati. Kemudian, ia mengajak generasi muda berlatih, memperkuat pembinaan, dan menanamkan kembali nilai-nilai yang diwariskan Ki Ngabei Soerodiwirjo.
Langkah itu segera menarik perhatian masyarakat. Banyak pemuda tertarik mengikuti latihan. Selain itu, dukungan masyarakat terus mengalir. Perlahan tetapi pasti, api yang hampir padam kembali menyala.
Silat yang Mengajarkan Cara Menjadi Manusia
Banyak orang memandang pencak silat sebagai olahraga bela diri. Akan tetapi, Winongo Tunas Muda melihatnya lebih jauh daripada sekadar kemampuan bertarung.
Latihan fisik berjalan beriringan dengan pembinaan rohani. Para anggota belajar tentang kesetiaan, tanggung jawab, cinta kasih, dan penghormatan terhadap sesama manusia. Bahkan, filosofi Jawa yen dijiwit kroso loro ojo njiwit liyan menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Jika dicubit terasa sakit, maka jangan menyakiti orang lain.
Di sisi lain, berbagai ajaran kemanusiaan di banyak budaya juga menyampaikan pesan yang serupa. Manusia harus memperlakukan sesamanya sebagaimana ia ingin diperlakukan.
Karena itu, kemenangan terbesar dalam ajaran Setia Hati bukanlah kemenangan atas lawan. Sebaliknya, kemenangan sejati hadir ketika seseorang mampu mengendalikan amarah, menjaga perilaku, dan tetap rendah hati saat memiliki kekuatan.
Dari Tradisi Menjadi Organisasi yang Bertahan
Kebangkitan yang dimulai pada pertengahan 1960-an kemudian membawa perubahan besar. Generasi muda yang tumbuh dalam lingkungan Persaudaraan Setia Hati mulai membangun identitas organisasi melalui berbagai musyawarah dan pembenahan kelembagaan.
Proses tersebut kemudian melahirkan Persaudaraan Setia Hati Winongo Tunas Muda. Selanjutnya, organisasi itu memperoleh pengakuan resmi dari KONI, IPSI, serta berbagai instansi pemerintah terkait.
Meski demikian, legalitas bukan alasan utama yang membuat organisasi ini bertahan hingga sekarang.
Sebaliknya, kisah para guru, nilai persaudaraan, dan semangat pengabdian menjadi fondasi yang menjaga keberlangsungannya. Setiap generasi menerima warisan yang sama, lalu meneruskannya kepada generasi berikutnya.
Api yang Tetap Menyala
Dunia terus berubah. Kini, generasi muda hidup di tengah media sosial, budaya instan, dan arus informasi yang bergerak tanpa henti. Akibatnya, banyak nilai lama perlahan memudar karena dianggap tidak lagi relevan.
Namun, Setia Hati Winongo Tunas Muda menunjukkan kenyataan yang berbeda.
Warisan budaya dapat bertahan ketika sebuah komunitas terus merawat maknanya. Tradisi tidak hidup karena usianya yang panjang. Sebaliknya, tradisi hidup karena selalu menemukan generasi yang bersedia menjaganya.
Itulah sebabnya nama Ki Ngabei Soerodiwirjo terus hidup lebih dari satu abad setelah ajarannya lahir. Sejarah memang mencatat namanya, tetapi ribuan orang menjaga warisan itu dengan terus mempraktikkan nilai yang ia tinggalkan.
Pada akhirnya, kisah Setia Hati Winongo Tunas Muda bukan hanya cerita tentang organisasi pencak silat.
Lebih dari itu, kisah ini menunjukkan bagaimana sebuah warisan mampu bertahan di tengah perubahan zaman. Selain itu, kisah ini memperlihatkan bagaimana persaudaraan mampu mengalahkan jarak antargenerasi. Dan yang terpenting, kisah ini membuktikan bahwa api kecil yang dijaga dengan kesetiaan dapat terus menerangi perjalanan sebuah bangsa. @dimas







