Tabooo.id: Global – Hamas memastikan juru bicara sayap bersenjatanya, Abu Obeida, serta mantan pemimpin Hamas di Gaza, Mohammed Sinwar, tewas dalam perang melawan Israel awal tahun ini. Kepastian itu disampaikan melalui video resmi Brigade al-Qassam pada Senin (29/12/2025). Bersamaan dengan pengumuman itu, Hamas memperkenalkan juru bicara baru yang tampil bertopeng.
Juru bicara baru membocorkan identitas asli Abu Obeida untuk pertama kalinya. Nama aslinya adalah Hudhayfah Samir Abdullah al-Kahlout.
“Kami mengumumkan dengan bangga gugurnya pemimpin besar Abu Obeida. Kami telah mewarisi gelarnya,” ujarnya, menegaskan kesinambungan kepemimpinan meski kehilangan tokoh penting.
Abu Obeida dan Komandan Hamas Lain yang Gugur
Abu Obeida selama ini menjadi suara utama Hamas di Gaza. Ia rutin mengeluarkan pernyataan tentang perkembangan medan tempur, dugaan pelanggaran gencatan senjata, dan negosiasi pertukaran tawanan dengan Israel. Pernyataan terakhirnya muncul pada awal September, ketika Israel memulai serangan militer tahap awal ke Kota Gaza, menimbulkan ratusan bangunan rusak dan gelombang pengungsian massal.
Selain Abu Obeida, Brigade al-Qassam juga mengonfirmasi kematian komandan senior lainnya, termasuk Mohammed Shabanah, kepala Brigade Rafah, serta Hakam al-Issa dan Raed Saad. Mereka termasuk daftar panjang perwakilan Hamas yang tewas dalam dua tahun terakhir, seperti Yahya Sinwar, Mohammed Deif pendiri Brigade al-Qassam dan kepala politik Ismail Haniyeh.
Dampak bagi Warga Gaza
Kematian komandan dan pemimpin Hamas berdampak langsung pada warga Gaza. Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, sejak gencatan senjata berlaku pada 11 Oktober, sedikitnya 414 warga tewas dan 1.145 orang terluka, sementara 680 jenazah ditemukan. Sejak perang dimulai pada 7 Oktober 2023, korban tewas dilaporkan mencapai 71.266 orang, dengan 171.222 luka-luka. Penduduk sipil, terutama di zona konflik, menghadapi risiko tinggi kehilangan tempat tinggal, akses layanan dasar, dan keamanan hidup.
Sikap Terhadap Gencatan Senjata
Juru bicara baru menegaskan Hamas tetap berkomitmen pada gencatan senjata, meski menuduh Israel melakukan “pelanggaran berulang.” Ia menegaskan, rakyat Palestina membela diri dan tidak akan meletakkan senjata selama pendudukan masih berlangsung.
“Kami tidak akan menyerah, bahkan jika harus bertarung dengan kuku kami,” ujarnya, sekaligus mendesak komunitas internasional menekan Israel agar mematuhi kesepakatan.
Refleksi
Kematian Abu Obeida dan Mohammed Sinwar menegaskan bahwa konflik di Gaza terus menelan korban, terutama warga sipil. Sementara dunia sibuk berdebat soal gencatan senjata, rakyat biasa tetap menanggung derita perang. Drama politik dan militer ini menjadi pengingat pahit bagi warga Gaza, perdamaian tampak seperti mimpi yang selalu tertunda. @dimas





