Senin, April 20, 2026
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
tabooo.id

Bandara Jadi Arena Tikam, Politik Masih Pakai Otot?

April 20, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter
Minggu siang, 19 April 2026, Bandara Karel Sadsuitubun di Langgur seharusnya menyambut kedatangan penumpang. Namun siang itu, tempat itu justru membuka pintu duka. Ketua DPD Partai Golkar Maluku Tenggara, Agrapinus Rumatora alias Nus Kei, meninggal setelah dua pria menikamnya sesaat setelah ia turun dari pesawat.Kalau bandara saja kehilangan rasa aman, publik berhak bertanya elite sedang memberi contoh apa?

Tabooo.id: Edge – Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol Rositah Umasugi menjelaskan, Nus Kei baru tiba dari Jakarta lalu berjalan menuju pintu keluar. Dua pria langsung mendekat dan menyerangnya dengan senjata tajam.

“Pelaku mendekati korban dan langsung melakukan penikaman menggunakan sebilah pisau. Setelah itu pelaku melarikan diri,” ujar Rositah, Minggu sore, 19/04/2026.

Keluarga segera membawa korban ke RSUD Karel Sadsuitubun sekitar pukul 12.00 WIT. Namun tim medis gagal menyelamatkan nyawanya.

Sesudah kejadian itu, sejumlah video memperlihatkan kericuhan antar pemuda di area bandara. Tempat transit berubah menjadi ruang tegang.

Bandara mestinya melayani perjalanan. Hari itu, bandara justru menampilkan ketakutan.

Elite Ribut, Warga Menanggung Tegang

Ketua DPD Partai Golkar Maluku Umar Ali Lessy menyampaikan duka dan mengecam aksi tersebut.

BacaJuga

Akademi Bola atau Sekolah Emosi? EPA U-20 Bukan Cari Masa Depan

Urutan Lahir Bukan Takdir, Tapi Kenapa Kita Terus Percaya?

“Kami mengutuk keras tindakan kekerasan dalam bentuk apa pun,” katanya.

Sekjen Partai Golkar Sarmuji juga meminta kader menahan diri.

“Tetap waspada, tapi jangan terpancing situasi. Kita berikan kepercayaan kepada aparat kepolisian untuk mengusut tuntas peristiwa tersebut,” ujar Sarmuji, Minggu, 19/04/2026.

Pernyataan itu penting. Sebab ketika elite bertabrakan, warga biasa sering memikul beban psikologis. Mereka takut konflik melebar, takut balas dendam muncul, dan takut stabilitas daerah retak.

Pengamat politik Prof. Cecep Hidayat pernah menilai konflik politik lokal sering tumbuh dari perebutan pengaruh, bukan dari perbedaan gagasan.

Artinya jelas sedikit orang bertarung, banyak orang ikut gelisah.

Politik Masih Mengandalkan Otot?

Psikolog sosial Prof. Hamdi Muluk menjelaskan bahwa konflik mudah membesar ketika identitas kelompok memicu emosi massa.

Saat seseorang menyerang tokoh tertentu, pendukung kerap merasa serangan itu juga menghina kelompok mereka. Dari titik itu, keributan gampang meledak.

Sosiolog Prof. Bagong Suyanto juga mengingatkan bahwa budaya kekerasan lahir dari pola lama hormat dibalas hormat, hina dibalas serang.

Masalahnya, demokrasi modern menuntut adu gagasan, bukan adu senjata.

Kalau sengketa politik masih mencari otot, buat apa orang ramai-ramai bicara soal demokrasi?

Negara Harus Bekerja Cepat

Praktisi hukum pidana Prof. Edward Omar Sharif Hiariej kerap menegaskan bahwa negara wajib menegakkan hukum secara cepat, objektif, dan tegas.

Kasus ini bukan sekadar pembunuhan. Kasus ini menguji kewibawaan negara di ruang publik.

Jika pelaku bisa menyerang di bandara, publik tentu bertanya soal standar keamanan. Polisi harus memburu seluruh pelaku, mengurai motif, dan mencegah konflik susulan.

Negara tidak cukup datang ke TKP. Negara harus menutup peluang kekerasan berikutnya.

Tabooo Twist: Ini Bukan Soal Pisau

Pisau memang merobek tubuh. Tetapi pesan sosial di baliknya jauh lebih berbahaya sebagian orang masih percaya kekuatan bisa berbicara lebih keras daripada hukum.

Itu racun mahal bagi demokrasi. Hari ini satu tokoh tumbang. Besok, jika pola ini terus hidup, rasa aman masyarakat ikut runtuh.

Closing

Bandara dibangun untuk mempertemukan orang, bukan mengantar duka.

Jadi pertanyaan paling jujur hari ini sederhana: kalau elite masih menyelesaikan urusan dengan kekerasan, rakyat harus belajar politik dari siapa?. @teguh

Tags: ArenabandaraDemokrasiEmosi LapanganhukumKabid Humas Polda MalukuKaderKetua DPD Partai Golkar MalukuKonflikLanggurMassaMeninggalNegaraOtotPengamat PolitikPenumpangPesawatPolitikPraktisi HukumPsikolog SosialRSUD Karel SadsuitubunRuang PublikSekjen Partai GolkarTikamTKPTokoh

REKOMENDASI TABOOO

AI Bisa Tambah PDB, Tapi Siapa yang Tertinggal?

AI Bisa Tambah PDB, Tapi Siapa yang Tertinggal?

by teguh
April 20, 2026

Sabtu, 18 April 2026, Bali menjadi panggung optimisme digital. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menyebut adopsi kecerdasan buatan atau...

Saat AI Dijanjikan Tambah PDB, Kita Sedang Menjadi Apa?

Saat AI Dijanjikan Tambah PDB, Kita Sedang Menjadi Apa?

by teguh
April 20, 2026

Di Bali, Sabtu 18/04/2026, panggung bicara soal masa depan kembali menyala. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyebut adopsi kecerdasan...

AI Naikkan PDB? Indonesia Sedang Belajar Mengubah Data Jadi Mesin Uang

AI Naikkan PDB? Indonesia Sedang Belajar Mengubah Data Jadi Mesin Uang

by teguh
April 20, 2026

Kecerdasan buatan tak lagi sekadar bahan diskusi kampus atau panggung seminar. Kini, pemerintah menilai AI bisa menambah kontribusi hingga 3,67...

Next Post
Makar atau Kritik? Ketika Suara Intelektual Bertabrakan dengan Kekuasaan

Makar atau Kritik? Ketika Suara Intelektual Bertabrakan dengan Kekuasaan

Recommended

Mengapa Klub Indonesia Sering Miskin di Balik Nama Besar?

Mengapa Klub Indonesia Sering Miskin di Balik Nama Besar?

April 15, 2026
Subaru WRX Club Spec Evo: Hanya 75 Unit, Gengsi atau Investasi?

Subaru WRX Club Spec Evo: Hanya 75 Unit, Gengsi atau Investasi?

April 14, 2026

Popular

Cepuri Parangkusumo: Mitos, Perjanjian, atau Strategi Kekuasaan Mataram?

Cepuri Parangkusumo: Mitos, Perjanjian, atau Strategi Kekuasaan Mataram?

April 19, 2026

Labuhan Parangkusumo: Ritual Sakral atau Tradisi yang Mulai Kehilangan Makna?

April 19, 2026

Go Tik Swan: Dia Tionghoa, Tapi Jadi Jawa Sejati

April 19, 2026

37% ODHIV Tak Terdeteksi: Krisis HIV Indonesia

April 20, 2026

AS dan Iran Kembali Berunding, Tapi Dunia Tak Yakin Perang Akan Berakhir

April 20, 2026
tabooo.id

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap

Stay in the Loop

  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id