Rabu, Juli 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Bandara Jadi Arena Tikam, Politik Masih Pakai Otot?

by teguh
April 20, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter
Minggu siang, 19 April 2026, Bandara Karel Sadsuitubun di Langgur seharusnya menyambut kedatangan penumpang. Namun siang itu, tempat itu justru membuka pintu duka. Ketua DPD Partai Golkar Maluku Tenggara, Agrapinus Rumatora alias Nus Kei, meninggal setelah dua pria menikamnya sesaat setelah ia turun dari pesawat.Kalau bandara saja kehilangan rasa aman, publik berhak bertanya elite sedang memberi contoh apa?

Tabooo.id: Edge – Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol Rositah Umasugi menjelaskan, Nus Kei baru tiba dari Jakarta lalu berjalan menuju pintu keluar. Dua pria langsung mendekat dan menyerangnya dengan senjata tajam.

“Pelaku mendekati korban dan langsung melakukan penikaman menggunakan sebilah pisau. Setelah itu pelaku melarikan diri,” ujar Rositah, Minggu sore, 19/04/2026.

Keluarga segera membawa korban ke RSUD Karel Sadsuitubun sekitar pukul 12.00 WIT. Namun tim medis gagal menyelamatkan nyawanya.

Sesudah kejadian itu, sejumlah video memperlihatkan kericuhan antar pemuda di area bandara. Tempat transit berubah menjadi ruang tegang.

Bandara mestinya melayani perjalanan. Hari itu, bandara justru menampilkan ketakutan.

Elite Ribut, Warga Menanggung Tegang

Ketua DPD Partai Golkar Maluku Umar Ali Lessy menyampaikan duka dan mengecam aksi tersebut.

Ini Belum Selesai

Papua Terus Berdarah: Saat Dialog Kalah oleh Senjata

AI Makin Pintar, Mengapa Manusia Justru Berhenti Berpikir?

“Kami mengutuk keras tindakan kekerasan dalam bentuk apa pun,” katanya.

Sekjen Partai Golkar Sarmuji juga meminta kader menahan diri.

“Tetap waspada, tapi jangan terpancing situasi. Kita berikan kepercayaan kepada aparat kepolisian untuk mengusut tuntas peristiwa tersebut,” ujar Sarmuji, Minggu, 19/04/2026.

Pernyataan itu penting. Sebab ketika elite bertabrakan, warga biasa sering memikul beban psikologis. Mereka takut konflik melebar, takut balas dendam muncul, dan takut stabilitas daerah retak.

Pengamat politik Prof. Cecep Hidayat pernah menilai konflik politik lokal sering tumbuh dari perebutan pengaruh, bukan dari perbedaan gagasan.

Artinya jelas sedikit orang bertarung, banyak orang ikut gelisah.

Politik Masih Mengandalkan Otot?

Psikolog sosial Prof. Hamdi Muluk menjelaskan bahwa konflik mudah membesar ketika identitas kelompok memicu emosi massa.

Saat seseorang menyerang tokoh tertentu, pendukung kerap merasa serangan itu juga menghina kelompok mereka. Dari titik itu, keributan gampang meledak.

Sosiolog Prof. Bagong Suyanto juga mengingatkan bahwa budaya kekerasan lahir dari pola lama hormat dibalas hormat, hina dibalas serang.

Masalahnya, demokrasi modern menuntut adu gagasan, bukan adu senjata.

Kalau sengketa politik masih mencari otot, buat apa orang ramai-ramai bicara soal demokrasi?

Negara Harus Bekerja Cepat

Praktisi hukum pidana Prof. Edward Omar Sharif Hiariej kerap menegaskan bahwa negara wajib menegakkan hukum secara cepat, objektif, dan tegas.

Kasus ini bukan sekadar pembunuhan. Kasus ini menguji kewibawaan negara di ruang publik.

Jika pelaku bisa menyerang di bandara, publik tentu bertanya soal standar keamanan. Polisi harus memburu seluruh pelaku, mengurai motif, dan mencegah konflik susulan.

Negara tidak cukup datang ke TKP. Negara harus menutup peluang kekerasan berikutnya.

Tabooo Twist: Ini Bukan Soal Pisau

Pisau memang merobek tubuh. Tetapi pesan sosial di baliknya jauh lebih berbahaya sebagian orang masih percaya kekuatan bisa berbicara lebih keras daripada hukum.

Itu racun mahal bagi demokrasi. Hari ini satu tokoh tumbang. Besok, jika pola ini terus hidup, rasa aman masyarakat ikut runtuh.

Closing

Bandara dibangun untuk mempertemukan orang, bukan mengantar duka.

Jadi pertanyaan paling jujur hari ini sederhana: kalau elite masih menyelesaikan urusan dengan kekerasan, rakyat harus belajar politik dari siapa?. @teguh

Tags: ArenabandaraDemokrasiKonflik DuniaKriminal & HukumMassaMeninggalNegaraPengamat PolitikPenumpangPesawatPolitik IndonesiaPraktisi HukumRSUD Karel SadsuitubunRuang Publik

Kamu Melewatkan Ini

Agama Berhenti Melawan: Ibadah Dirayakan, tapi Suara Kritis Dibungkam?

Agama Berhenti Melawan: Ibadah Dirayakan, tapi Suara Kritis Dibungkam?

by dimas
Juli 21, 2026

Agama lahir sebagai kekuatan perlawanan terhadap ketidakadilan. Mengapa kini ritual lebih dirayakan, sementara suara kritis justru semakin dibungkam? Tabooo.id -...

Hotman Paris Hina Wartawan, Saat Kritik Dibalas Penghinaan

Hotman Paris Hina Wartawan, Saat Kritik Dibalas Penghinaan?

by dimas
Juli 22, 2026

Hotman Paris menuai kecaman setelah menghina wartawan dalam konferensi pers. Insiden ini memicu perdebatan tentang etika narasumber, kebebasan pers, dan...

Tank Bisa Ditunda, Lapar Nggak Bisa Disuruh Antre

Tank Bisa Ditunda, Lapar Nggak Bisa Disuruh Antre

by teguh
Juli 19, 2026

Satu tanda tangan mampu menggeser miliaran rupiah dalam APBN. Namun, satu pidato tidak pernah bisa mengenyangkan perut rakyat karena lapar...

Next Post
Makar atau Kritik? Ketika Suara Intelektual Bertabrakan dengan Kekuasaan

Makar atau Kritik? Ketika Suara Intelektual Bertabrakan dengan Kekuasaan

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id