Rabu, Juli 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Makar atau Kritik? Ketika Suara Intelektual Bertabrakan dengan Kekuasaan

by dimas
April 20, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Di tengah gema kata “makar” yang makin nyaring, satu pertanyaan besar langsung muncul: ketika satu pernyataan intelektual masuk ke wilayah hukum pidana, seberapa aman ruang kebebasan berpendapat kita hari ini?

Tabooo.id: Deep – Frasa hukum pidana itu kembali mencuat. Kali ini, publik tidak melihat aksi nyata. Sebaliknya, publik merespons sepenggal pernyataan Profesor Saiful Mujani dalam forum halal bihalal.

Awalnya, forum itu terasa hangat. Para peserta berkumpul untuk menyambung silaturahmi yang sempat tertunda setelah Idul Fitri. Namun kemudian, suasana berubah. Sebuah pernyataan tentang kemungkinan konsolidasi gerakan untuk menjatuhkan Presiden Prabowo muncul di tengah diskusi.

Pernyataan itu berhenti sebagai wacana. Tidak berkembang. Tidak membentuk gerakan. Meski begitu, sebagian pihak langsung memberi respons keras dan bahkan mengaitkannya dengan makar.

Antara Kebebasan dan Kecurigaan

Pada dasarnya, manusia harus bicara. Dengan bicara, manusia menegaskan eksistensinya. Tanpa suara, manusia kehilangan ruang untuk hadir.

Namun demikian, kebebasan itu selalu memiliki batas.

Ini Belum Selesai

Indonesia Kaya, Mengapa Rakyat Belum Sejahtera?

Nasionalisme atau Kapitalisme Negara? Arah Baru Ekonomi Indonesia

Masalahnya, batas tersebut sering terasa kabur. Di satu sisi, konstitusi menjamin kebebasan berpendapat. Di sisi lain, sebagian pihak cepat mengaitkan gagasan tertentu dengan ancaman.

Akibatnya, muncul pertanyaan penting apakah negara sedang menjaga stabilitas, atau justru mempersempit ruang berpikir?

Karena itu, label “makar” terasa muncul terlalu cepat.

Di Tengah Agenda Besar Presiden

Di saat yang sama, konteks politik tidak bisa diabaikan. Presiden Prabowo tengah mendorong berbagai kebijakan strategis. Ia menekan ketimpangan ekonomi, menertibkan lahan ilegal, dan mengejar korupsi kelas kakap.

Selain itu, pemerintah menjalankan program makan bergizi gratis untuk membantu kelompok rentan. Langkah-langkah tersebut jelas mengguncang kepentingan lama.

Oleh karena itu, wacana tentang penggulingan presiden memang terasa sensitif. Namun demikian, rasa sensitif tidak otomatis berarti ancaman nyata.

Demokrasi Butuh Kritik

Sejak awal, demokrasi tidak tumbuh dari keheningan. Sebaliknya, demokrasi berkembang melalui kritik, perdebatan, dan pertukaran gagasan.

Misalnya, John Locke membuka ruang bagi rakyat untuk menentang kekuasaan yang menyimpang. Sementara itu, Thomas Hobbes menekankan pentingnya stabilitas melalui kekuasaan kuat.

Di Indonesia, kedua pendekatan itu bertemu. Kita mengakui kebebasan, tetapi tetap menegakkan hukum sebagai batas.

Namun jika negara terlalu cepat menarik batas tersebut, ruang diskusi akan menyempit. Akibatnya, kritik berubah menjadi sesuatu yang menakutkan.

Ini Bukan Sekadar Pernyataan

Pada titik ini, persoalan tidak lagi sekadar satu ucapan.

Sebaliknya, persoalan ini menyangkut cara negara merespons suara publik.

Apakah setiap gagasan yang tidak nyaman harus dianggap ancaman? Atau justru harus diuji sebagai bagian dari dinamika demokrasi?

Jika semua kritik terus dianggap berbahaya, maka ruang publik akan berubah. Orang mulai menahan diri. Mereka berpikir dua kali sebelum berbicara.

Dampaknya untuk Publik

Saat ini, sorotan memang tertuju pada seorang intelektual. Namun ke depan, siapa saja bisa mengalami hal yang sama.

Ketika ruang bicara menyempit, masyarakat tidak serta-merta menjadi patuh. Sebaliknya, mereka memilih diam.

Padahal, diam bukan tanda setuju. Justru, diam sering lahir dari rasa takut.

Penutup

Memang, kebebasan berpendapat memiliki batas. Namun batas itu seharusnya melindungi, bukan menekan.

Pada akhirnya, demokrasi tidak hanya bergantung pada kekuatan negara. Sebaliknya, demokrasi bergantung pada keberanian warganya untuk bicara.

Jadi, apakah kita masih benar-benar bebas berbicara hari ini?

Kalau bicara mulai terasa berisiko, mungkin yang perlu diperbaiki bukan suaranya, tapi cara negara mendengarnya. @dimas

Tags: Demokrasi IndonesiaIsu NasionalKonstitusikritik sosialNegara HukumOpini PublikPolitik NasionalprabowoSuara Rakyat

Kamu Melewatkan Ini

Divide et Impera: Warisan Kolonial yang Masih Membelah Indonesia

Divide et Impera: Warisan Kolonial yang Masih Membelah Indonesia

by dimas
Juli 21, 2026

Divide et impera bukan sekadar strategi kolonial, tetapi pola kekuasaan yang masih hidup melalui politik identitas. Mengapa politik pecah belah...

Agama Berhenti Melawan: Ibadah Dirayakan, tapi Suara Kritis Dibungkam?

Agama Berhenti Melawan: Ibadah Dirayakan, tapi Suara Kritis Dibungkam?

by dimas
Juli 21, 2026

Agama lahir sebagai kekuatan perlawanan terhadap ketidakadilan. Mengapa kini ritual lebih dirayakan, sementara suara kritis justru semakin dibungkam? Tabooo.id -...

Kabinet Bayangan: Pengawas Demokrasi atau Simbol Perlawanan?

Kabinet Bayangan: Pengawas Demokrasi atau Simbol Perlawanan?

by dimas
Juli 20, 2026

Kabinet bayangan hadir sebagai pengawas alternatif di tengah minimnya oposisi parlemen. Namun, mampukah forum ini benar-benar memengaruhi kebijakan atau hanya...

Next Post
Gerakan Buruh Indonesia: Dari Perlawanan ke Senyap yang Dipaksakan

Gerakan Buruh Indonesia: Dari Perlawanan ke Senyap yang Dipaksakan

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id