Tabooo.id: Nasional – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf kembali menegaskan komitmennya mendorong islah sesuai keputusan para mustasyar dalam Musyawarah Kubro di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Di tengah konflik internal PBNU yang kian mengemuka, Gus Yahya memilih jalur rekonsiliasi yang berlandaskan prinsip, bukan kompromi politik jangka pendek.
Sejak awal dinamika ini muncul, Gus Yahya konsisten menyuarakan keinginan menyelesaikan persoalan secara terbuka. Oleh karena itu, ia menolak islah yang hanya menenangkan situasi tanpa menyentuh akar masalah. Baginya, persatuan NU harus tumbuh dari kebenaran, bukan dari kesepakatan semu yang rapuh.
“Sejak detik pertama, saya menginginkan islah. Karena itu, saya siap membangun kebenaran, bukan membenarkan kebatilan,” ujar Gus Yahya, Senin (22/12/2025).
Kepatuhan pada Mustasyar Jadi Landasan Langkah
Dalam konteks organisasi, Gus Yahya menegaskan sikap taslim terhadap keputusan yang disepakati PWNU, PCNU, serta tafsir para mustasyar dalam Musyawarah Kubro. Dengan sikap tersebut, ia menempatkan forum alim ulama sebagai rujukan moral dan struktural tertinggi dalam menyikapi konflik PBNU.
Namun demikian, langkah ini juga membuat proses islah sangat bergantung pada komunikasi elite. Hingga kini, Rais Aam PBNU belum memberikan tanggapan atas permohonan pertemuan yang diajukan Gus Yahya. Akibatnya, ruang dialog masih tertunda, sementara tenggat waktu terus berjalan.
Tuduhan Harus Dibuka, Klarifikasi Harus Terukur
Di sisi lain, Gus Yahya memilih bersikap terbuka terhadap berbagai tuduhan yang mengarah kepadanya. Ia meminta seluruh pihak menempuh jalur tabayun yang jujur, transparan, dan berbasis bukti. Menurutnya, klarifikasi yang sehat justru akan memperkuat kepercayaan warga NU.
“Saya siap menjalani pemeriksaan dan tabayun atas semua tuduhan, dengan menghadirkan bukti dan saksi yang sah,” tegasnya.
Dengan sikap ini, Gus Yahya berupaya menggeser konflik dari ruang spekulasi ke mekanisme klarifikasi yang lebih rasional dan terukur.
Komunikasi Mandek, Tenggat Terus Menekan
Segera setelah Musyawarah Kubro mencapai kesepakatan, Gus Yahya menghubungi Rais Aam PBNU untuk meminta waktu bertemu. Namun sampai saat ini, ia belum menerima jawaban. Meski begitu, ia memilih tetap menunggu sesuai mandat forum.
Selanjutnya, Gus Yahya berencana melaporkan hasil komunikasi tersebut kepada peserta Musyawarah Kubro setelah batas waktu 3 x 24 jam berakhir. Dengan demikian, forum akan menentukan langkah lanjutan berdasarkan perkembangan yang ada.
Islah atau MLB, Arah NU Dipertaruhkan
Sebelumnya, Musyawarah Kubro yang dihadiri para sesepuh dan alim ulama NU telah memberikan dua opsi tegas: melaksanakan islah secara sungguh-sungguh atau menempuh Muktamar Luar Biasa (MLB). Forum tersebut menilai kedua pimpinan PBNU memegang peran kunci dalam menjaga keutuhan jam’iyyah.
Jika islah gagal terwujud, forum mendorong Mustasyar PBNU mengambil alih kewenangan untuk menyiapkan Muktamar NU 2026. Di satu sisi, langkah ini membuka ruang penataan ulang organisasi. Namun di sisi lain, opsi MLB berpotensi memperlebar friksi internal jika tidak dikelola dengan bijak.
Keutuhan NU Jadi Taruhan Utama
Apabila islah berhasil, warga NU di akar rumput akan merasakan manfaat paling besar. Organisasi dapat kembali stabil, sementara energi kolektif NU bisa difokuskan pada agenda keumatan dan kebangsaan.
Sebaliknya, konflik berkepanjangan berisiko menguntungkan segelintir elite, tetapi merugikan jam’iyyah secara luas. Polarisasi internal dan kelelahan struktural menjadi konsekuensi yang sulit dihindari.
Pada akhirnya, konflik PBNU bukan lagi sekadar urusan kepengurusan. Sebaliknya, ia telah menjelma menjadi ujian moral dan kepemimpinan. Islah kini menjadi kata kunci, tetapi publik NU menunggu satu hal krusial apakah perdamaian akan lahir dari kejujuran, atau hanya menjadi jeda sebelum konflik berikutnya kembali muncul? @dimas





