Tabooo.id: Deep – Sumatra kembali basah bukan basah biasa, tapi basah level “peta kabupaten-kota berubah menjadi biru tua.” Dari Medan hingga Pesisir Selatan, dari Sibolga sampai Bukittinggi, air datang seperti tamu yang semua orang tahu bakal hadir, tapi tetap saja masyarakat tidak menyiapkan karpet merah untuk menyambutnya. Kamis (27/11/2025), banjir dan longsor melanda 25 kabupaten/kota di Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Dua provinsi, satu pola bencana, dan satu pertanyaan lama sampai kapan kita terus memadamkan api setelah semuanya terbakar?
Ini bukan sekadar hujan. Ini alarm yang diputar ulang setiap tahun.
Hampir Di Mana-Mana: Banjir Menyerbu 25 Wilayah
BNPB dan BPBD merilis daftar panjang wilayah terdampak. Di Sumut, banjir, longsor, puting beliung, bahkan pohon tumbang menyerang 12 daerah. Medan, Deli Serdang, Mandailing Natal, dan Nias muncul lagi dalam laporan bencana, sama seperti tahun-tahun sebelumnya.
Sementara itu, Sumbar menghadapi 13 daerah terdampak. Padang, Bukittinggi, Tanah Datar, dan Pesisir Selatan melaporkan jalan terputus, rumah terendam, warga mengungsi, dan sinyal hilang.
Dengan total 25 wilayah terdampak hampir bersamaan, jelas bahwa ini bukan bencana lokal. Ini bencana struktural.
Cuaca Ekstrem? Ya, Tapi Itu Hanya Setengah Cerita
Cuaca ekstrem memang memicu banjir. Curah hujan tinggi beberapa hari terakhir menyebabkan banjir bandang dan longsor. Namun, faktor penyebab yang lebih dalam sudah menumpuk lama:
- Hutan semakin menipis,
- Daerah resapan berubah menjadi beton,
- Sungai menyempit akibat pembangunan,
- Permukiman menjorok ke bantaran,
- Drainase berusia tua gagal menampung air.
Hasilnya, Sumatra seperti spons murahan serapan rendah, risiko jebol tinggi. Setiap musim hujan, masyarakat menonton film yang sama dengan ending serupa, hanya aktornya berganti.
Siapa yang Menderita, Siapa yang Diuntungkan?
Yang menderita jelas: warga lereng bukit dan bantaran sungai, petani kehilangan lahan, pedagang kecil menanggung kerugian karena toko dan stok barang terendam, anak-anak sekolah harus libur darurat, serta keluarga yang terpaksa mengungsi.
Yang diuntungkan? Secara langsung, hampir tidak ada. Secara tidak langsung, pihak yang menikmati pembangunan tanpa perencanaan matang developer nakal, perusahaan ekstraktif, dan pemain proyek yang aktifnya hanya pasca-bencana mendapat keuntungan.
Negara turun tangan dengan menyalurkan bantuan logistik, selimut, dan makanan siap saji. Tindakan ini penting, tetapi masih sebatas respons, bukan pencegahan.
Respon Pemerintah: Cepat, Tapi Selalu Setelah Bencana
Sumbar menetapkan status Tanggap Darurat sejak 25 November hingga 8 Desember. Kantor BPBD dijadikan Command Center. Semua operasi kini terpusat di sana, dan tim mengoordinasikan bantuan dengan lebih cepat.
Polda Sumut mengirim logistik ke Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Sibolga. Mereka menyalurkan makanan siap saji, obat-obatan, dan perlengkapan dasar.
Namun pertanyaannya tetap sama mengapa langkah cepat baru dilakukan setelah banjir datang? Mengapa pemerintah tidak punya Tanggap Pencegahan, bukan sekadar Tanggap Darurat?
Banjir Adalah Gejala, Bukan Penyakitnya
Sering kali masyarakat dan pejabat hanya membahas gejala banjir. Padahal penyakitnya jauh lebih kronis: perencanaan ruang yang buruk, kerusakan lingkungan, alih fungsi lahan tanpa kontrol, dan pembangunan yang mengabaikan daya dukung alam.
Selama penyakit ini tidak ditangani, gejala akan terus muncul bahkan semakin sering. Sumatra bukan hanya dilanda banjir, tetapi juga pengulangan bencana. Ketika bencana jadi tradisi, jelas ada yang salah dengan sistem.
Refleksi Tabooo: Kita Butuh Sistem, Bukan Hero Dadakan
Bencana sebesar ini seharusnya membuat kita berhenti sejenak. Apa gunanya peringatan dini jika masyarakat tidak belajar dari pengalaman sebelumnya? Apa gunanya status tanggap darurat jika siklus yang sama terjadi tiap tahun?
Yang dibutuhkan:
- Audit tata ruang besar-besaran,
- Penegakan hukum terhadap pelanggaran alih fungsi lahan,
- Program mitigasi permanen,
- Edukasi publik yang bukan sekadar formalitas.
Karena bencana tidak bisa dihadapi dengan gaya pemadam kebakaran datang setelah api membesar.
Penutup
Sumatra banjir lagi, dan masyarakat kembali menerima bantuan, bukan strategi jangka panjang.
Jika pola ini terus berulang, kita bukan hidup di negara rawan bencana. Kita hidup di negara yang membiarkan bencana terjadi.
Pertanyaannya kini: bencana ini sekadar cuaca buruk, atau cermin sistem yang buruk? @dimas





