Erupsi Gunung Dukono yang menelan korban jiwa, termasuk dua warga negara Singapura, kembali membuka pertanyaan lama tentang kesiapsiagaan manusia dalam menghadapi kawasan rawan bencana. Di tengah derasnya aktivitas wisata pendakian di gunung berapi aktif, tragedi ini menegaskan batas tipis antara petualangan dan risiko yang sering kali diabaikan hingga semuanya terlambat.
Tabooo.id: Maluku Utara – Gunung Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara, meletus hebat pada Jumat (8/5/2026) pagi dan memicu kepanikan di jalur pendakian. Sebanyak 20 pendaki berada di kawasan gunung saat erupsi terjadi. Tiga orang meninggal dunia, termasuk dua warga negara Singapura. Tim SAR gabungan masih mencari korban yang belum ditemukan di tengah kondisi vulkanik yang belum stabil.
Dari Jalur Pendakian ke Zona Krisis
Dalam hitungan jam, kawasan pendakian berubah menjadi zona evakuasi darurat. Tiga korban tewas terdiri dari Timo, Syahin, dan Angel.
“Timo dan Syahin warga Singapura, sementara Angel warga Jayapura,” kata Kepala Polres Halmahera Utara AKP Erlichson Pasaribu, Jumat sore.
Erupsi terjadi ketika aktivitas vulkanik meningkat secara tiba-tiba dan memaksa para pendaki bertahan di jalur yang sudah tidak aman.
15 Selamat, 2 Bertahan, 1 Masih Hilang
Dari 20 pendaki yang berada di lokasi, 15 orang berhasil keluar dari kawasan berbahaya dan langsung mendapat perawatan di RSUD Tobelo.
Dua pendaki masih bertahan di area puncak dan menunggu evakuasi. Satu orang lainnya belum ditemukan hingga operasi pencarian berlangsung.
Kondisi ini membuat tim SAR bekerja dalam tekanan tinggi karena aktivitas Gunung Dukono masih terus berlanjut.
Evakuasi di Tengah Abu Vulkanik
Kepala Kantor SAR Ternate, Iwan Ramdani, mengatakan tim gabungan bergerak segera setelah menerima laporan darurat. Mereka menembus jalur ekstrem dengan abu vulkanik tebal dan medan yang tidak stabil.
“Tim harus berhati-hati karena aktivitas Gunung Dukono masih tinggi,” ujarnya.
Basarnas Pos SAR Tobelo, Polres Halmahera Utara, Kodim Tobelo, BPBD, dan masyarakat lokal ikut bergerak dalam operasi penyelamatan tersebut.
Risiko yang Terus Bergerak
Tim SAR menghadapi kondisi yang berubah cepat di lapangan. Abu vulkanik, jalur terputus, dan potensi erupsi susulan terus mengancam proses evakuasi.
Setiap langkah di lapangan membutuhkan keputusan cepat, tetapi tetap harus menjaga keselamatan tim penyelamat.
Lebih dari Sekadar Letusan Gunung
Peristiwa ini tidak hanya mencatat letusan Gunung Dukono. Peristiwa ini juga memperlihatkan bagaimana manusia terus berhadapan dengan risiko di ruang alam yang sudah memberi banyak tanda peringatan.
Di balik data korban dan operasi penyelamatan, keluarga di berbagai negara menunggu kabar dengan cemas. Sebuah perjalanan berubah arah dalam hitungan jam.
Alam Tidak Berubah, Cara Membacanya yang Gagal
Indonesia berada di atas cincin api, tetapi setiap erupsi masih sering dianggap kejutan. Padahal, sistem peringatan alam sudah bekerja lebih dulu sebelum manusia memutuskan tetap berada di zona berisiko.
Pertanyaan utamanya bukan lagi mengapa gunung meletus. Pertanyaannya bergeser menjadi mengapa manusia tetap melangkah ketika tanda bahaya sudah terlihat jelas.
Ketika Alam Mulai Bersuara
Gunung tidak pernah diam. Ia hanya menunggu waktu untuk bersuara. Ketika itu terjadi, manusia hanya bisa merespons kadang dengan kesiapan, sering kali dengan keterlambatan.
Lalu, sampai kapan kita masih melihat alam sebagai destinasi, bukan sebagai kekuatan yang menuntut kewaspadaan? @dimas





