Tabooo.id: Regional – Hujan turun semalaman. Air datang perlahan, lalu tiba-tiba menggenang di rumah warga.
Bagi sebagian orang di Solo, ini bukan kejadian baru. Ini seperti siklus yang terus berulang.
Hujan Deras Picu Banjir di Delapan Kelurahan
Hujan deras dengan durasi panjang yang mengguyur wilayah Solo Raya sejak Selasa (14/4/2026) malam menyebabkan banjir di sejumlah titik di Kota Solo. Air mulai masuk ke permukiman warga hingga Rabu (15/4/2026) dini hari.
Humas Basarnas Solo, Aditya, menyebut sedikitnya delapan kelurahan terdampak. Ketinggian air bervariasi, bahkan mencapai setinggi panggul orang dewasa.
“Yang terdampak ada sejumlah kelurahan, ketinggian bervariasi, salah satunya ada yang setinggi panggul orang dewasa, ada yang 80 sampai 120 sentimeter,” ujarnya.
Kelurahan yang terdampak meliputi Pajang, Joyosuran, Tipes, Joyontakan, Bumi, Sondakan, Kratonan, dan Panularan.
Warga Mengungsi, Aktivitas Lumpuh
Sejumlah warga terpaksa meninggalkan rumah dan mengungsi ke tempat yang lebih aman. Salah satu titik pengungsian berada di Kantor Kelurahan Tipes.
“Yang mengungsi warga RT 03 RW 15 Kelurahan Tipes, karena ada permintaan dari warga,” ujar Aditya.
Data sementara menunjukkan ratusan kepala keluarga terdampak. Di Kelurahan Pajang saja, tercatat puluhan rumah dan puluhan jiwa terendam. Sementara di Panularan, jumlah terdampak mencapai ratusan kepala keluarga.
Penyebab: Hujan Lama, Genangan Tak Terhindarkan
Basarnas menyebut penyebab utama banjir adalah hujan deras dengan durasi lama yang mengguyur Solo Raya. Kondisi ini memicu genangan di berbagai titik.
“Penyebab karena hujan deras di seputaran Solo Raya yang berdurasi lama mengakibatkan banjir genangan di beberapa titik lokasi,” tambahnya.
Namun, pertanyaannya tidak berhenti di situ.
Apakah ini murni karena cuaca, atau ada persoalan lain yang belum selesai?
Ini Bukan Sekadar Banjir
Setiap tahun, cerita ini muncul lagi. Lokasinya sering sama, dampaknya juga tidak jauh berbeda.
Ini bukan sekadar hujan deras. Ini pola.
Pola kota yang belum sepenuhnya siap menghadapi air.
Drainase yang tak optimal, aliran sungai yang meluap, hingga tata ruang yang belum adaptif menjadi bagian dari realita yang terus berulang.
Dampaknya Buat Warga
Banjir bukan cuma soal air yang menggenang.
Ini soal aktivitas yang lumpuh, barang yang rusak, dan rasa aman yang hilang.
Bayangkan harus terbangun tengah malam karena air masuk rumah. Atau harus mengungsi tanpa tahu kapan bisa kembali.
Ini dampaknya buat kamu: ketika kota tak siap, warga yang selalu jadi garis depan risiko.
Analisis: Kota Perlu Lebih dari Sekadar Respons Darurat
Penanganan banjir selama ini masih dominan pada respons darurat. Evakuasi, bantuan logistik, dan pendataan korban.
Padahal, akar masalahnya sering kali berulang.
Jika pola ini tidak diputus, maka banjir akan terus datang dengan cerita yang sama.
Satu hal yang perlu disadari: hujan mungkin tak bisa dikendalikan, tapi dampaknya seharusnya bisa diminimalkan.
Penutup
Banjir di Solo kali ini mungkin akan surut dalam beberapa hari.
Tapi pertanyaan besarnya belum tentu ikut surut.
Apakah kita akan melihat ini sebagai kejadian biasa?
Atau mulai menganggapnya sebagai tanda bahwa ada yang harus dibenahi? @dimas






