Tabooo.id: Regional – Hujan deras yang turun tanpa jeda akhirnya berubah jadi bencana. Pada Selasa malam, 14 April 2026 pukul 22.00 WIB, banjir merendam delapan kelurahan di Kota Surakarta. Ini bukan sekadar genangan musiman ini sinyal yang terus datang, tapi sering diabaikan.
Kali Jenes Meluap, Permukiman Jadi Korban
Berdasarkan laporan BPBD Jawa Tengah, luapan Kali Jenes menjadi pemicu utama. Air mengalir cepat ke permukiman warga dan jalanan kota. Ketinggian air pun bervariasi, mulai dari 50 hingga 80 sentimeter.
Sekilas, angka itu terlihat biasa. Tapi bagi warga, itu berarti ruang tamu berubah jadi kolam, dan jalan pulang jadi jalur evakuasi.
Delapan Kelurahan Terdampak, Ratusan Keluarga Terpukul
Wilayah terdampak tersebar di tiga kecamatan. Di Laweyan, banjir merendam Pajang, Bumi, Panularan, dan Sondakan. Sementara itu, Pasar Kliwon terdampak di Joyosuran. Lalu, Serengan mencakup Kratonan, Tipes, dan Joyontakan.
Total 715 kepala keluarga terdampak. Dari jumlah tersebut, 109 jiwa terpaksa mengungsi. Mereka menyebar ke berbagai titik, mulai dari Masjid Al-Furqon, kawasan Pajang RW 03 dan 04, Balai Warga Totosari, hingga rumah warga dan gedung TK.
Mengungsi atau Bertahan: Pilihan yang Sama-sama Sulit
Sebagian warga memilih pergi demi keselamatan. Namun, sebagian lainnya tetap bertahan di rumah. Alasannya beragam menjaga harta, keterbatasan akses, atau sekadar tidak punya pilihan.
BPBD Jawa Tengah dalam keterangannya pada Rabu, 15 April 2026 pukul 03.00 WIB menyatakan, “Sebagian besar warga masih bertahan di rumah masing-masing. Penyiapan kebutuhan dasar warga terdampak dan pengungsian sebanyak 3.000 bungkus.”
Di saat yang sama, hujan masih turun dengan intensitas sedang hingga lebat. Kondisi makin rumit karena listrik di beberapa wilayah dipadamkan demi keamanan.
Bantuan Datang, Tapi Air Belum Pergi
Upaya penanganan terus dilakukan. Mulai dari kaji cepat, evakuasi warga, hingga distribusi bantuan logistik. Namun, hingga dini hari, air di sejumlah wilayah belum juga surut.
Artinya, ini belum selesai. Ini baru fase bertahan.
Banjir Berulang: Alam yang Salah atau Kita yang Lupa?
Banjir mungkin datang dari hujan. Tapi dampaknya selalu tentang manusia.
Ketika setiap hujan deras berubah jadi ancaman, pertanyaannya bukan lagi “kapan surut?”melainkan “kenapa ini terus terjadi?”
Lalu, sampai kapan warga harus hidup dengan pola yang sama hujan, banjir, lalu lupa?. @teguh






