Sabtu, Juni 6, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Banjir Solo: Air Naik 80 Cm, Warga Bertahan Sampai Kapan?

by teguh
April 15, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Regional – Hujan deras yang turun tanpa jeda akhirnya berubah jadi bencana. Pada Selasa malam, 14 April 2026 pukul 22.00 WIB, banjir merendam delapan kelurahan di Kota Surakarta. Ini bukan sekadar genangan musiman ini sinyal yang terus datang, tapi sering diabaikan.

Kali Jenes Meluap, Permukiman Jadi Korban

Berdasarkan laporan BPBD Jawa Tengah, luapan Kali Jenes menjadi pemicu utama. Air mengalir cepat ke permukiman warga dan jalanan kota. Ketinggian air pun bervariasi, mulai dari 50 hingga 80 sentimeter.

Sekilas, angka itu terlihat biasa. Tapi bagi warga, itu berarti ruang tamu berubah jadi kolam, dan jalan pulang jadi jalur evakuasi.

Delapan Kelurahan Terdampak, Ratusan Keluarga Terpukul

Wilayah terdampak tersebar di tiga kecamatan. Di Laweyan, banjir merendam Pajang, Bumi, Panularan, dan Sondakan. Sementara itu, Pasar Kliwon terdampak di Joyosuran. Lalu, Serengan mencakup Kratonan, Tipes, dan Joyontakan.

Total 715 kepala keluarga terdampak. Dari jumlah tersebut, 109 jiwa terpaksa mengungsi. Mereka menyebar ke berbagai titik, mulai dari Masjid Al-Furqon, kawasan Pajang RW 03 dan 04, Balai Warga Totosari, hingga rumah warga dan gedung TK.

Ini Belum Selesai

Mentan Tantang Kampus Wujudkan Swasembada Pangan

Harley, Valas, dan Uang Rp145 Miliar: Jejak Korupsi Silmy Karim

Mengungsi atau Bertahan: Pilihan yang Sama-sama Sulit

Sebagian warga memilih pergi demi keselamatan. Namun, sebagian lainnya tetap bertahan di rumah. Alasannya beragam menjaga harta, keterbatasan akses, atau sekadar tidak punya pilihan.

BPBD Jawa Tengah dalam keterangannya pada Rabu, 15 April 2026 pukul 03.00 WIB menyatakan, “Sebagian besar warga masih bertahan di rumah masing-masing. Penyiapan kebutuhan dasar warga terdampak dan pengungsian sebanyak 3.000 bungkus.”

Di saat yang sama, hujan masih turun dengan intensitas sedang hingga lebat. Kondisi makin rumit karena listrik di beberapa wilayah dipadamkan demi keamanan.

Bantuan Datang, Tapi Air Belum Pergi

Upaya penanganan terus dilakukan. Mulai dari kaji cepat, evakuasi warga, hingga distribusi bantuan logistik. Namun, hingga dini hari, air di sejumlah wilayah belum juga surut.

Artinya, ini belum selesai. Ini baru fase bertahan.

Banjir Berulang: Alam yang Salah atau Kita yang Lupa?

Banjir mungkin datang dari hujan. Tapi dampaknya selalu tentang manusia.

Ketika setiap hujan deras berubah jadi ancaman, pertanyaannya bukan lagi “kapan surut?”melainkan “kenapa ini terus terjadi?”

Lalu, sampai kapan warga harus hidup dengan pola yang sama hujan, banjir, lalu lupa?. @teguh

Tags: banjirBPBDLogistikmalamSoloSurakarta

Kamu Melewatkan Ini

Anti-Swapraja: Ketika Feodalisme Dianggap Musuh

Anti-Swapraja: Ketika Feodalisme Dianggap Musuh

by Tabooo
Mei 29, 2026

Gerakan anti swapraja Surakarta bukan sekadar penolakan terhadap keraton. Ia lahir dari benturan Republik, feodalisme, ketimpangan agraria, dan kemarahan kelas...

Surakarta dan Keistimewaannya: Luka yang Belum Usai

Surakarta dan Keistimewaannya: Luka yang Belum Usai

by Tabooo
Mei 25, 2026

Surakarta pernah memiliki dasar hukum sebagai daerah istimewa. Namun gejolak politik, konflik elite, dan keputusan pusat membuat status itu membeku...

Kenapa Kota di Indonesia Makin Gampang Tenggelam?

Kenapa Kota di Indonesia Makin Gampang Tenggelam?

by Waras
Mei 11, 2026

Dulu banjir datang setahun sekali. Sekarang, banyak kota di Indonesia terasa seperti tinggal menunggu giliran tenggelam. Hujan memang makin ekstrem....

Next Post
Jenang Bukan Sekadar Makanan. Ini Cara Tradisi Bertahan Diam-Diam

Jenang Bukan Sekadar Makanan. Ini Cara Tradisi Bertahan Diam-Diam

Madilog Series

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026
Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Mei 25, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id