Tabooo.id: Life – Senin pagi di Bukit Lama, Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung. Matahari masih malu-malu menembus kabut tipis di antara nisan-nisan tua, ketika Mang Jailani, akrab disapa Mang Jai (65), mengayunkan cangkulnya dengan ritme yang tak terburu-buru. Tangan yang keriput itu menembus tanah yang padat, mencari celah-celah sempit untuk dua kuburan yang harus siap sebelum petang.
“Sudah sering tumpang tindih. Kadang ketemu tengkorak, tidak tahu identitasnya, kami pindahkan saja,” ujarnya datar, sambil menatap tanah yang baru digali.
Di sekelilingnya, nisan-nisan berusia puluhan bahkan ratusan tahun berdiri seperti saksi bisu perjalanan hidup dan mati masyarakat Pangkalpinang. Bukit Lama sendiri menempati sekitar tiga hektar lahan, hanya beberapa langkah dari hiruk-pikuk Pasar Pagi, dan diyakini sudah ada sejak tahun 1890.
Mang Jai bukan sekadar menggali kubur. Ia menjaga makam, membersihkan nisan, dan memastikan jenazah mendapat tempat yang layak. Lebih dari empat dekade ia menekuni pekerjaan ini. Namun, jangan bayangkan gaji besar atau fasilitas mewah. Mang Jai bekerja tanpa honor tetap, bahkan ketika pandemi Covid-19 melanda. “Insentif Covid katanya jutaan, saya tidak pernah menerima, padahal yang dikuburkan sudah macam-macam terjangkit dan sebagainya,” katanya sambil tersenyum pahit.
Bagi Mang Jai, pekerjaan ini bukan soal materi.
“Kalau gali kubur tidak pernah meminta dan tidak boleh meminta dibayar. Kalau ada yang memberi seikhlasnya diterima,” ujarnya.
Setiap ayunan cangkulnya adalah ibadah, setiap langkahnya di antara makam adalah doa yang bergerak.
Kehidupan di Antara Makam
Data menunjukkan, Indonesia memiliki ribuan makam umum di perkotaan yang terus menipis seiring pertumbuhan penduduk. Bukit Lama hanyalah salah satu contoh nyata. Lahan terbatas, ruang kosong kian sempit, dan setiap liang yang digali sering kali menemukan sisa sejarah tengkorak yang sudah lama tak dikenali, tanah yang menumpuk dengan cerita.
Mang Jai mengaku bahwa menghadapi kematian bukan hal menakutkan baginya.
“Kalau bertemu tengkorak manusia wajar, namanya juga makam. Beda kalau ketemu tengkorak sapi, baru aneh. Tetapi tidak pernah ketemu yang aneh-aneh,” ujarnya sambil tertawa kecil, sebuah tawa yang mengandung kesabaran dan pengabdian yang berat.
Namun, paradoks muncul di setiap sisi profesi Mang Jai. Ia mengabdikan hidup untuk mereka yang telah tiada, sementara kehidupan pribadinya bergelut dengan kesulitan ekonomi. Dari penghasilan seadanya sebagai pengurus Rukun Warga dan bantuan sosial lanjut usia, Mang Jai menafkahi sembilan anak dari empat istri yang telah bercerai.
“Warga biasanya ada iuran kematian, jadi saat musibah tidak dibebankan lagi. Kadang diambil dari sana untuk penyelenggaraan jenazah karena iuran sifatnya tidak menentu,” katanya.
Dalam diam dan tanah yang ia gali, Mang Jai meneguhkan prinsip bahwa pekerjaan ini lebih dari sekadar tugas. Ini soal membangun hubungan antara hidup dan mati, antara manusia dan tanah, antara ibadah dan pengabdian.
Konflik dan Paradoks: Di Antara Hidup dan Mati
Bekerja di makam adalah menyelami paradoks. Ia menghadapi kematian setiap hari, tapi hidupnya sendiri penuh ketidakpastian. Lahan terbatas memaksa liang kubur dibuat sedemikian rapat, sehingga terkadang ia menemukan sisa jenazah lama yang tak teridentifikasi. Setiap pertemuan dengan masa lalu itu menjadi pengingat bahwa hidup dan mati saling tumpang tindih, dan kita manusia hanyalah penumpang sementara.
Di sisi lain, pekerjaan Mang Jai jarang dihargai secara material. Pemerintah memberi perhatian setelah musibah terjadi, bukan sebelumnya. Padahal, manajemen makam yang baik adalah bentuk pencegahan, bukan sekadar respons. Mang Jai berharap ada perhatian lebih dari pemerintah agar makam terawat, lahan tidak sempit, dan pekerjaannya tidak lagi menjadi beban sosial yang ditanggung sendirian.
Sikap Tabooo: Refleksi di Tengah Tanah
Di sinilah Tabooo menatap lebih dalam. Mang Jai menggali kubur, tetapi ia juga menggali kesabaran, ketekunan, dan nilai kemanusiaan yang kerap terabaikan. Dalam setiap ayunan cangkulnya, ada metafora tentang hidup: kita menyiapkan ruang untuk orang lain, sementara ruang untuk diri sendiri seringkali terbatas.
Profesinya adalah pengingat keras bahwa kehidupan modern sering lupa pada yang paling dasar penghormatan pada yang telah pergi dan perhatian pada mereka yang mengurus mereka. Mang Jai memilih untuk tidak mengeluh, tetapi dunia harus belajar dari teladan ini. Kita tidak bisa hanya memberi bantuan sesaat; kita harus merencanakan, menghargai, dan mendukung mereka yang bekerja di garis depan kehidupan dan kematian.
Penutup Reflektif: Pertanyaan yang Tersisa
Ketika petang mulai merayap dan bayangan nisan memanjang, Mang Jai menatap liang kubur yang baru digali. Ia berharap, bukan sekadar agar jenazah mendapat tempat yang layak, tapi juga agar masyarakat dan pemerintah belajar melihat makam sebagai bagian dari kehidupan bukan sekadar tempat terakhir yang terlupakan.
Mang Jai menggali tanah, tapi ia juga menggali makna: kesabaran, ketekunan, dan pengabdian tanpa pamrih. Dalam setiap butir tanah yang jatuh, tersimpan pertanyaan besar bagi kita semua: apakah kita cukup peduli pada mereka yang mengurus yang telah tiada, dan apakah kita siap menyiapkan ruang yang layak—bukan hanya untuk mati, tapi juga untuk hidup yang menghormati kematian?
Di Bukit Lama, di antara nisan tua dan tanah yang lembap, Mang Jai berdiri. Diamnya bukan ketakutan, tapi doa yang bergerak di antara hidup dan mati, sebuah refleksi tentang manusia, kota, dan waktu yang terus berjalan. @dimas





