Kita sering menganggap tukang parkir hanya berdiri, meniup peluit, lalu meminta uang. Tapi bagaimana jika, di saat kita berteduh dari hujan, justru mereka yang menjaga barang kita tetap kering?
Tabooo.id: Regional – Hujan turun deras sore itu. Jalanan basah, langit menggelap, dan orang-orang bergegas mencari tempat berteduh. Sebagian berlari masuk ke rumah makan, sebagian lagi menepi di bawah kanopi.
Tapi di sudut parkiran itu, satu orang tetap berdiri. Seorang tukang parkir. Tanpa tempat berlindung yang layak. Tanpa perlindungan dari hujan yang makin deras. Ia tetap di sana, bukan untuk berteduh, melainkan untuk menjaga.
Motor-motor yang ditinggalkan pemiliknya satu per satu ia perhatikan. Air mulai menggenang di jok. Helm-helm perlahan basah. Dan tanpa ada yang meminta, ia mulai bergerak.
Bukan Berteduh, Tapi Bertahan
Ia mengambil kanebo, lalu mengelap jok motor satu per satu.
Gerakannya sederhana, tapi berulang.
Helm yang tertinggal ia tutup dengan plastik. Posisi kendaraan ia geser sedikit demi sedikit agar tidak terkena tampias hujan.
Tidak ada fasilitas khusus. Hanya inisiatif.
Di tengah hujan yang makin deras, ia justru bekerja lebih keras.
Lebih dari Sekadar “Tarik Uang”
Selama ini, profesi tukang parkir sering dipersempit dalam satu persepsi: orang yang berdiri, memberi isyarat, lalu meminta uang.
Sebagian orang bahkan melihatnya sebagai gangguan kecil yang “terpaksa” dibayar.
Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
Mereka mengatur kendaraan agar tidak semrawut. Mengawasi dari risiko pencurian. Membantu keluar masuk kendaraan di ruang sempit. Dan dalam kondisi tertentu, seperti hujan, mereka menjadi penjaga yang bahkan lebih peduli daripada pemiliknya sendiri.
Masalahnya, kerja-kerja seperti ini jarang terlihat.
Yang Kita Lihat vs Yang Sebenarnya Terjadi
Kita datang, parkir, lalu pergi. Interaksi kita dengan tukang parkir sering hanya beberapa detik. Setelah itu, kita tidak tahu apa yang terjadi.
Kita tidak tahu bagaimana mereka berdiri berjam-jam di bawah panas atau hujan.
Kita tidak tahu bagaimana mereka menjaga barang milik orang lain tanpa jaminan apa pun.
Dan karena kita tidak melihat, kita cenderung meremehkan.
“Saya sempat kaget. Waktu balik, jok motor saya sudah kering, helm juga ditutupin plastik. Padahal hujan deras banget tadi,” kata Putra (23), pengunjung rumah makan asal Wonogiri.
“Jujur, biasanya saya mikir tukang parkir ya cuma bantu arah parkir. Tapi ini beda. Dia benar-benar jagain. Jadi ngerasa oh, ternyata kerja mereka gak sesederhana yang saya kira.” tambahnya.
Kerja Nyata, Penghargaan Minim
Di balik dedikasi itu, ada realitas yang jarang dibahas.
Sebagian besar tukang parkir bekerja dalam sistem informal. Tanpa kontrak jelas, jaminan kesehatan dan perlindungan.
Penghasilan mereka pun tidak menentu. Bergantung pada jumlah kendaraan, lokasi, bahkan cuaca.
Ironisnya, di tengah ketidakpastian itu, banyak dari mereka tetap memilih bekerja dengan tanggung jawab penuh.
Bukan karena diawasi. Bukan karena aturan.
Tapi karena ada kesadaran: kalau orang sudah menitipkan, berarti harus dijaga.
Ini Bukan Cuma Soal Parkir
Cerita ini bukan sekadar tentang tukang parkir.
Ini tentang bagaimana kita melihat pekerjaan orang lain. Tentang bagaimana kita memberi label tanpa memahami proses di baliknya.
Banyak pekerjaan yang terlihat sederhana, tapi menyimpan tanggung jawab besar.
Siapa yang Sebenarnya Kurang?
Kita mungkin pernah merasa keberatan saat harus membayar parkir.
Tapi setelah melihat satu adegan sederhana seorang tukang parkir mengeringkan jok motor di tengah hujan pertanyaan itu berubah.
Apakah benar mereka tidak bekerja?
Atau justru kita yang tidak pernah benar-benar melihat?
Karena bisa jadi, selama ini bukan mereka yang kurang.
Tapi kita yang kurang peduli.@eko





