Sabtu, Agustus 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Sumatra Kembali Banjir: 25 Wilayah Terendam Air dan Longsor

by dimas
November 27, 2025
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Deep – Sumatra kembali basah bukan basah biasa, tapi basah level “peta kabupaten-kota berubah menjadi biru tua.” Dari Medan hingga Pesisir Selatan, dari Sibolga sampai Bukittinggi, air datang seperti tamu yang semua orang tahu bakal hadir, tapi tetap saja masyarakat tidak menyiapkan karpet merah untuk menyambutnya. Kamis (27/11/2025), banjir dan longsor melanda 25 kabupaten/kota di Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Dua provinsi, satu pola bencana, dan satu pertanyaan lama sampai kapan kita terus memadamkan api setelah semuanya terbakar?

Ini bukan sekadar hujan. Ini alarm yang diputar ulang setiap tahun.

Hampir Di Mana-Mana: Banjir Menyerbu 25 Wilayah

BNPB dan BPBD merilis daftar panjang wilayah terdampak. Di Sumut, banjir, longsor, puting beliung, bahkan pohon tumbang menyerang 12 daerah. Medan, Deli Serdang, Mandailing Natal, dan Nias muncul lagi dalam laporan bencana, sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Sementara itu, Sumbar menghadapi 13 daerah terdampak. Padang, Bukittinggi, Tanah Datar, dan Pesisir Selatan melaporkan jalan terputus, rumah terendam, warga mengungsi, dan sinyal hilang.

Dengan total 25 wilayah terdampak hampir bersamaan, jelas bahwa ini bukan bencana lokal. Ini bencana struktural.

Ini Belum Selesai

AMPB Tinggalkan DPR, Mengapa Warga Pati Memilih Mengalah?

Apa Itu Masyarakat Prismatik dan Mengapa Masih Relevan?

Cuaca Ekstrem? Ya, Tapi Itu Hanya Setengah Cerita

Cuaca ekstrem memang memicu banjir. Curah hujan tinggi beberapa hari terakhir menyebabkan banjir bandang dan longsor. Namun, faktor penyebab yang lebih dalam sudah menumpuk lama:

  1. Hutan semakin menipis,
  2. Daerah resapan berubah menjadi beton,
  3. Sungai menyempit akibat pembangunan,
  4. Permukiman menjorok ke bantaran,
  5. Drainase berusia tua gagal menampung air.

Hasilnya, Sumatra seperti spons murahan serapan rendah, risiko jebol tinggi. Setiap musim hujan, masyarakat menonton film yang sama dengan ending serupa, hanya aktornya berganti.

Siapa yang Menderita, Siapa yang Diuntungkan?

Yang menderita jelas: warga lereng bukit dan bantaran sungai, petani kehilangan lahan, pedagang kecil menanggung kerugian karena toko dan stok barang terendam, anak-anak sekolah harus libur darurat, serta keluarga yang terpaksa mengungsi.

Yang diuntungkan? Secara langsung, hampir tidak ada. Secara tidak langsung, pihak yang menikmati pembangunan tanpa perencanaan matang developer nakal, perusahaan ekstraktif, dan pemain proyek yang aktifnya hanya pasca-bencana mendapat keuntungan.

Negara turun tangan dengan menyalurkan bantuan logistik, selimut, dan makanan siap saji. Tindakan ini penting, tetapi masih sebatas respons, bukan pencegahan.

Respon Pemerintah: Cepat, Tapi Selalu Setelah Bencana

Sumbar menetapkan status Tanggap Darurat sejak 25 November hingga 8 Desember. Kantor BPBD dijadikan Command Center. Semua operasi kini terpusat di sana, dan tim mengoordinasikan bantuan dengan lebih cepat.

Polda Sumut mengirim logistik ke Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Sibolga. Mereka menyalurkan makanan siap saji, obat-obatan, dan perlengkapan dasar.

Namun pertanyaannya tetap sama mengapa langkah cepat baru dilakukan setelah banjir datang? Mengapa pemerintah tidak punya Tanggap Pencegahan, bukan sekadar Tanggap Darurat?

Banjir Adalah Gejala, Bukan Penyakitnya

Sering kali masyarakat dan pejabat hanya membahas gejala banjir. Padahal penyakitnya jauh lebih kronis: perencanaan ruang yang buruk, kerusakan lingkungan, alih fungsi lahan tanpa kontrol, dan pembangunan yang mengabaikan daya dukung alam.

Selama penyakit ini tidak ditangani, gejala akan terus muncul bahkan semakin sering. Sumatra bukan hanya dilanda banjir, tetapi juga pengulangan bencana. Ketika bencana jadi tradisi, jelas ada yang salah dengan sistem.

Refleksi Tabooo: Kita Butuh Sistem, Bukan Hero Dadakan

Bencana sebesar ini seharusnya membuat kita berhenti sejenak. Apa gunanya peringatan dini jika masyarakat tidak belajar dari pengalaman sebelumnya? Apa gunanya status tanggap darurat jika siklus yang sama terjadi tiap tahun?

Yang dibutuhkan:

  1. Audit tata ruang besar-besaran,
  2. Penegakan hukum terhadap pelanggaran alih fungsi lahan,
  3. Program mitigasi permanen,
  4. Edukasi publik yang bukan sekadar formalitas.

Karena bencana tidak bisa dihadapi dengan gaya pemadam kebakaran datang setelah api membesar.

Penutup

Sumatra banjir lagi, dan masyarakat kembali menerima bantuan, bukan strategi jangka panjang.

Jika pola ini terus berulang, kita bukan hidup di negara rawan bencana. Kita hidup di negara yang membiarkan bencana terjadi.

Pertanyaannya kini: bencana ini sekadar cuaca buruk, atau cermin sistem yang buruk? @dimas

Tags: Banjir BandangBencana AlamCuaca EkstremEvakuasiLingkunganSumatera Utara

Kamu Melewatkan Ini

Karhutla Kalimantan Berulang: Kenapa Selalu Datang Setelah Api Membesar?

Karhutla Kalimantan Berulang: Kenapa Selalu Datang Setelah Api Membesar?

by teguh
Agustus 21, 2026

Musim kering belum selesai, tetapi asap kembali menjadi cerita Karhutla Kalimantan. Per 19/08/2026, data BNPB yang disampaikan Wakil Ketua Komisi...

HUT RI Digelar di Manggarai, Tapi Kecamatan Fokus Tangani Gempa

HUT RI Digelar di Manggarai, Tapi Kecamatan Fokus Tangani Gempa

by teguh
Agustus 17, 2026

HUT RI digelar di Manggarai, Merah Putih tetap berkibar di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Senin, 17/08/2026. Pemkab Manggarai menggelar...

Gempa Susulan Meneror Flores: 54 Guncangan, 5 Orang Meninggal

Gempa Susulan Meneror Flores: 54 Guncangan, 5 Orang Meninggal

by dimas
Agustus 15, 2026

54 gempa susulan mengguncang Flores setelah gempa M7,7. Lima orang meninggal, sementara pendataan korban dan kerusakan masih berlangsung. Tabooo.id -...

Next Post
Mang Jai, Tukang Gali Kubur yang Mengabdikan Hidup Tanpa Upah

Mang Jai, Tukang Gali Kubur yang Mengabdikan Hidup Tanpa Upah

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id