54 gempa susulan mengguncang Flores setelah gempa M7,7. Lima orang meninggal, sementara pendataan korban dan kerusakan masih berlangsung.
Tabooo.id – Gempa utama magnitudo 7,7 belum benar-benar meninggalkan Flores. Setelah guncangan besar terjadi pada Sabtu (15/8/2026) pagi, puluhan gempa susulan kembali mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur.
BMKG mencatat 54 gempa susulan hingga pukul 07.00 WIB. Satu di antaranya dirasakan masyarakat.
Rangkaian gempa itu muncul setelah gempa utama M7,7 yang mengguncang wilayah sekitar Nagekeo. Pusat gempa berada di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, dengan kedalaman 15 kilometer.
Namun, angka 54 bukan sekadar catatan seismograf.
Bagi warga Flores, setiap getaran berarti satu hal: bumi belum sepenuhnya tenang.
Gempa Susulan M6,2 hingga M5,5
BNPB mencatat sejumlah gempa susulan dengan kekuatan cukup besar setelah gempa utama.
Gempa susulan pertama berkekuatan M6,2 terjadi pukul 05.13.53 WIB. Tidak lama kemudian, gempa M6,2 kembali terjadi pukul 05.28.40 WIB.
Selanjutnya, gempa M5,6 mengguncang pukul 05.37.19 WIB.
BNPB juga mencatat gempa susulan lain berkekuatan M5,5.
Rangkaian tersebut terjadi dalam rentang waktu singkat setelah gempa utama. Karena itu, aktivitas gempa susulan menjadi perhatian utama petugas dan masyarakat.
BNPB menyatakan gempa-gempa susulan tersebut berdasarkan informasi sementara tidak berpotensi tsunami.
Dari 2 Menjadi 5 Korban
Di tengah rangkaian gempa susulan, pendataan korban juga terus bergerak.
Gubernur NTT Melki Laka Lena mengatakan pemerintah masih memastikan penyebab kematian kelima korban.
Namun, pemerintah menduga korban tertimpa reruntuhan bangunan ketika gempa terjadi.
Pendataan kerusakan juga masih berlangsung. Karena itu, jumlah korban maupun tingkat kerusakan masih dapat berubah setelah petugas melakukan verifikasi di lapangan.
Mengapa Gempa Susulan Terus Terjadi?
Gempa susulan bukan kejadian terpisah dari gempa utama.
Setelah gempa besar melepaskan energi, kerak bumi membutuhkan waktu untuk menyesuaikan kembali kondisi tekanannya. Proses tersebut dapat memicu rangkaian guncangan berikutnya.
Masalahnya, masyarakat tidak pernah tahu persis kapan rangkaian itu berhenti.
Itulah yang membuat gempa susulan terasa berbeda.
Gempa utama datang sebagai kejutan. Gempa susulan menghadirkan ketidakpastian.
Warga yang baru saja keluar dari rumah bisa kembali panik ketika tanah bergerak. Bangunan yang sudah mengalami kerusakan juga menghadapi risiko tambahan ketika guncangan kembali terjadi.
Angka 54 Bukan Sekadar Statistik
Angka gempa susulan memang mudah dibaca sebagai data.
Namun, setiap angka mewakili satu episode ketidakpastian di lapangan.
Satu gempa dirasakan warga. Gempa lain mungkin hanya tercatat alat. Namun, semuanya menunjukkan bahwa aktivitas seismik belum berhenti setelah gempa utama.
Karena itu, masyarakat perlu mengikuti informasi resmi BMKG dan pemerintah daerah.
Jangan percaya prediksi waktu gempa susulan yang beredar tanpa sumber resmi. Informasi seperti itu dapat memperbesar kepanikan ketika warga sudah berada dalam kondisi rentan.
Ini Bukan Sekadar Gempa Susulan
Gempa utama mungkin sudah berlalu. Namun, rangkaiannya belum selesai.
54 gempa susulan menunjukkan bahwa bencana tidak selalu berhenti ketika guncangan terbesar berakhir.
Di situlah persoalan sebenarnya.
Masyarakat tidak hanya menghadapi satu gempa. Mereka menghadapi ketidakpastian setelahnya.
Lima korban meninggal menjadi data terbaru dari dampak bencana. Sementara itu, 54 gempa susulan menjadi pengingat bahwa Flores masih berada dalam fase yang membutuhkan kewaspadaan.
Tanah memang tidak bisa dipaksa untuk segera diam.
Karena itu, untuk sementara, manusia yang harus belajar membaca setiap getarannya. @dimas








