Banjir bandang menerjang Padang dan merusak 55 rumah serta memutus akses jalan di Kuranji. Sebanyak 40 KK mengungsi, sementara warga membutuhkan bantuan darurat dan perbaikan infrastruktur.
Tabooo.id: Padang – Hujan lebat yang mengguyur Kota Padang, Sumatera Barat, sejak Sabtu (10/10/2026) sore hingga malam memicu banjir bandang yang merusak permukiman dan memutus akses warga. Di kawasan Guo, Kelurahan Kuranji, Kecamatan Kuranji, sedikitnya 55 rumah mengalami kerusakan, lebih dari 50 kepala keluarga terdampak, dan 40 KK terpaksa mengungsi.
Banjir membawa lumpur, bebatuan, dan material dari hulu sungai. Luapan air menerjang rumah warga, merusak fasilitas umum, serta menghantam instalasi air bersih milik PDAM. Bencana ini tidak hanya menyisakan kerusakan fisik, tetapi juga mengganggu kehidupan warga yang harus menyelamatkan diri sekaligus memikirkan tempat tinggal dan kebutuhan sehari-hari.
Rumah Rusak, Jalan Terputus, Aktivitas Warga Terganggu
Ketua RT 03 RW 06 Kelurahan Kuranji, Hendri Kurniawan, menyebut sedikitnya 55 rumah mengalami kerusakan dengan tingkat keparahan berbeda, mulai dari ringan hingga berat.
“Kalau keseluruhan data sampai sekarang, ada sekitar 55 rumah yang rusak. Selain itu, akses jalan dan saluran irigasi juga hancur diterjang banjir,” ujar Hendri.
Dampak banjir meluas hingga jalur penghubung Kampung Tanjung menuju Lubuk Temburun. Sepanjang kurang lebih dua kilometer akses tersebut terputus, termasuk akibat kerusakan infrastruktur pendukung seperti pelat duiker.
Situasi ini memperberat mobilitas masyarakat. Terlebih, jalur tersebut menjadi rute pengalihan utama selama perbaikan jembatan Gunung Sarik–Belimbing berlangsung.
Akibatnya, warga kesulitan beraktivitas. Sebagian pekerja harus berjalan kaki karena tidak bisa melewati jalan menggunakan sepeda motor.
” Aktivitas warga jelas terganggu. Banyak warga yang mau pergi kerja tidak bisa melintas naik sepeda motor dan harus berjalan kaki, sehingga terlambat sampai di tempat kerja,” kata Hendri.
Puluhan Keluarga Mengungsi, Kebutuhan Mendesak Menanti
Ketika banjir menerjang pada Sabtu malam, warga yang tinggal di sepanjang bantaran sungai bergegas menyelamatkan diri. Sebanyak 40 KK kini mengungsi di sejumlah lokasi, termasuk tempat penampungan sementara, masjid, dan rumah kerabat.
Memasuki Minggu (11/10/2026), petugas mulai melakukan pemulihan awal. Satu unit alat berat dikerahkan untuk menyingkirkan lumpur dan bebatuan yang menutup akses jalan.
Selain itu, petugas mengupayakan perbaikan instalasi PDAM agar pasokan air bersih kembali normal. Namun, pekerjaan tersebut masih menjadi bagian dari proses pemulihan setelah banjir merusak infrastruktur setempat.
Di tengah upaya tersebut, warga masih membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Mereka memerlukan bahan makanan pokok, perlengkapan bayi, obat-obatan, pakaian bersih, dan selimut.
Kebutuhan itu mendesak karena sebagian keluarga kehilangan kenyamanan tempat tinggal, sementara akses jalan dan layanan air bersih ikut terganggu.
Ancaman Banjir Susulan dan Persoalan Mitigasi
Di balik kerusakan yang terlihat, banjir bandang Padang menyisakan persoalan yang lebih panjang: bagaimana melindungi permukiman di sekitar aliran sungai ketika hujan lebat kembali datang?
Warga berharap pemerintah daerah segera membangun dinding penahan atau bronjong permanen di sepanjang tebing sungai. Mereka menginginkan perlindungan yang lebih kuat untuk mengurangi risiko banjir bandang susulan.
Harapan tersebut menjadi penting karena cuaca masih kerap mendung dan berpotensi menghadirkan hujan lebat. Sementara itu, kerusakan jalan, saluran irigasi, dan instalasi air bersih memperlihatkan betapa luas dampak bencana terhadap kehidupan masyarakat.
Namun, pembangunan infrastruktur saja tidak cukup. Pemerintah juga perlu memastikan sistem peringatan dini, jalur evakuasi, kesiapan tempat pengungsian, dan penanganan kawasan rawan berjalan efektif.
Banjir bandang bukan sekadar air yang meluap. Bencana ini memperlihatkan bagaimana satu kejadian dapat sekaligus merusak rumah, menghambat pekerjaan, memutus akses, dan mengganggu kebutuhan dasar masyarakat.
Bagi warga terdampak, pemulihan bukan hanya soal membersihkan lumpur atau memperbaiki jalan. Mereka membutuhkan kepastian tempat tinggal, akses air bersih, dan perlindungan agar tidak kembali menghadapi ancaman yang sama.
Pertanyaannya, setelah air surut dan material banjir dibersihkan, apakah perlindungan bagi warga akan benar-benar diperkuat sebelum hujan berikutnya datang? @dimas








