Banjir bandang menerjang Nias Selatan dan merendam 60 rumah di dua kecamatan. Air bercampur lumpur juga menggenangi fasilitas umum.
Tabooo.id: Nias Selatan – Air berwarna cokelat pekat mengalir membawa lumpur. Jalan raya ikut tergenang. Di sejumlah titik, rumah warga tidak lagi berhadapan dengan halaman, melainkan dengan aliran air yang datang setelah hujan deras mengguyur Nias Selatan.
Banjir menerjang Kecamatan O’o’u dan Maniamolo, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara, pada Jumat (2/10/2026) sekitar pukul 14.00 WIB.
Bencana itu berdampak pada sedikitnya 60 rumah, satu gereja, satu balai desa, dan satu sekolah.
Kepala Bidang Penanganan Darurat, Peralatan, dan Logistik BPBD Sumatera Utara, Sri Wahyuni Pancasilawati, mengatakan hujan berintensitas tinggi memicu banjir di dua kecamatan tersebut.
“Diawali hujan dengan intensitas tinggi sehingga terjadi banjir di dua kecamatan di Nias Selatan.” ujarnya.
Dua Kecamatan, Satu Masalah yang Sama
Di Kecamatan O’o’u, banjir menerjang Desa Hilimbowo. Sebanyak 36 rumah terendam dan berdampak terhadap 51 kepala keluarga.
Air juga masuk ke satu gereja dan balai desa.
Sementara itu, di Kecamatan Maniamolo, banjir menerjang Desa Ndraso Maniamolo. Sebanyak 24 rumah dan satu sekolah terdampak.
Totalnya mencapai 60 rumah.
Angka tersebut memang tidak menggambarkan seluruh cerita. Di balik setiap rumah terdapat ruang hidup, barang-barang keluarga, dokumen, peralatan rumah tangga, dan aktivitas yang harus berhenti ketika air masuk.
Namun, hingga laporan terakhir, BPBD Sumut memastikan tidak ada korban meninggal dunia maupun korban luka. Tidak ada pula laporan warga yang harus mengungsi.
Air Mulai Surut, Masalah Belum Selesai
Pada Sabtu (3/10/2026), Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menyampaikan kondisi banjir mulai membaik.
Air berangsur surut.
Tetapi surut bukan berarti persoalan selesai.
Material lumpur masih membutuhkan pembersihan. Pemerintah juga merencanakan normalisasi sungai dan penanganan tembok penahan.
Dengan kata lain, setelah air pergi, pekerjaan baru dimulai.
Rumah perlu dibersihkan. Fasilitas publik perlu dipulihkan. Jalur yang terdampak harus kembali berfungsi. Pemerintah daerah juga harus memastikan kondisi sungai tidak kembali menjadi ancaman ketika hujan deras datang.
Ketika Hujan Berubah Menjadi Ancaman
Banjir di Nias Selatan memperlihatkan satu persoalan sederhana yang sering terlambat dibicarakan bencana tidak selalu berhenti ketika air surut.
Risikonya bisa berlanjut melalui lumpur, kerusakan fasilitas, terganggunya aktivitas warga, hingga ancaman banjir susulan.
Karena itu, penanganan pascabencana tidak cukup hanya dengan menyedot atau membersihkan air. Normalisasi sungai dan penguatan infrastruktur menjadi bagian penting dari pemulihan.
Di sisi lain, masyarakat membutuhkan informasi yang jelas mengenai kondisi sungai, potensi hujan berikutnya, serta langkah yang harus dilakukan jika banjir kembali datang.
Sebab bagi warga yang rumahnya sudah pernah dimasuki air, hujan deras berikutnya bukan lagi sekadar hujan.
Ia bisa menjadi alarm.
Dan ketika 60 rumah sudah terdampak, pertanyaannya bukan hanya kapan air benar-benar surut, tetapi seberapa siap wilayah itu menghadapi hujan berikutnya? @dimas








