Emil Dardak dan F. Bagus Panuntun mengajak pendekar memperkuat persaudaraan, kepedulian, dan semangat guyub rukun dalam Suran Agung PSHWTM ke-123.
Tabooo.id – Ribuan pendekar memenuhi Lapangan Kelurahan Winongo, Kota Madiun, Minggu (28/6/2026). Mereka datang untuk menghadiri Suran Agung ke-123 Persaudaraan Setia Hati Winongo Tunas Muda (PSHWTM). Namun, agenda tahunan itu tidak hanya menghadirkan prosesi budaya. Kegiatan tersebut juga membawa pesan tentang kepedulian, persaudaraan, dan tanggung jawab sosial.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, mengajak seluruh pendekar menjadikan ilmu pencak silat sebagai jalan pengabdian. Menurutnya, masyarakat saat ini membutuhkan lebih banyak orang yang peduli terhadap lingkungan sekitarnya.
Kepedulian Dimulai dari Lingkungan Terdekat
Emil menilai tantangan zaman tidak hanya datang dari perubahan teknologi. Di sisi lain, sikap individualistis juga semakin terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, ia mengajak para pendekar membangun kepedulian mulai dari lingkungan terdekat.
“Harus membangun kepedulian kepada masyarakat. Jangan sampai menjadi pribadi yang individualistik. Mulailah dari lingkungan sekitar karena itulah pilar masyarakat, bangsa, dan negara yang kokoh,” ujarnya.
Menurut Emil, seorang pendekar tidak cukup menguasai bela diri. Sebaliknya, seorang pendekar juga harus menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat. Ia harus hadir ketika masyarakat membutuhkan bantuan. Selain itu, ia juga harus menjaga persaudaraan tanpa membedakan latar belakang.
Karena itulah, Emil berharap nilai-nilai Setia Hati tidak berhenti di dalam padepokan. Sebaliknya, nilai tersebut harus hadir di rumah, lingkungan, hingga ruang-ruang sosial masyarakat.
Persaudaraan Tidak Berhenti di Arena
Senada dengan Emil, Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Madiun, F. Bagus Panuntun, mengajak seluruh keluarga besar PSHWTM menjadikan pencak silat sebagai sarana memperkuat persatuan.
Menurut Bagus, Suran Agung bukan sekadar memperingati usia organisasi. Sebaliknya, kegiatan itu menjadi ruang untuk memperkuat kesetiaan, kedisiplinan, kerendahan hati, dan kepedulian terhadap sesama.
“Momentum Suran Agung ini harus menjadi pengingat bahwa persaudaraan sejati mampu merangkul, menghormati perbedaan, serta mengedepankan semangat guyub-rukun untuk kemajuan bersama,” katanya.
Selain itu, Bagus menegaskan bahwa Kota Madiun memiliki identitas sebagai Kota Pendekar. Oleh sebab itu, seluruh perguruan pencak silat perlu menjaga citra tersebut melalui perilaku yang damai dan bermanfaat.
“Pencak silat harus menjadi sarana membangun karakter, mempererat persatuan, menjaga perdamaian, serta memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Menjaga Nama Baik Perguruan
Bagus juga mengapresiasi keluarga besar PSHWTM yang terus menjaga kondusivitas daerah. Menurutnya, kontribusi tersebut memperlihatkan bahwa perguruan silat mampu menjadi bagian dari solusi di tengah masyarakat.
Karena itu, ia mengajak seluruh warga PSHWTM menjaga nama baik organisasi. Ia juga meminta seluruh anggota terus menjunjung tinggi nilai-nilai luhur perguruan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami berharap seluruh warga PSHWTM terus menjadi energi positif bagi Kota Madiun yang aman, damai, maju, dan sejahtera,” tuturnya.
Ketika Ilmu Menjadi Pengabdian
Suran Agung ke-123 mempertemukan ribuan warga PSHWTM dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara. Namun, makna terbesarnya tidak terletak pada jumlah peserta. Sebaliknya, makna itu lahir dari nilai yang mereka bawa pulang.
Persaudaraan, kepedulian, dan gotong royong menjadi pesan yang terus digaungkan sepanjang kegiatan. Nilai-nilai itu kemudian menjadi pengingat bahwa kekuatan seorang pendekar tidak hanya terlihat saat berlatih. Lebih dari itu, kekuatan tersebut tampak ketika ia hadir membantu masyarakat, menjaga persatuan, dan memberi manfaat bagi sesama.
Karena pada akhirnya, Suran Agung bukan sekadar perayaan tradisi. Suran Agung mengingatkan bahwa ilmu pencak silat menemukan makna tertingginya ketika berubah menjadi pengabdian bagi masyarakat, bangsa, dan negara. @dimas







