Tabooo.id: Vibes – Ada sebuah momen dalam sejarah Nusantara yang terasa seperti adegan slow-motion dalam film epik seorang raja muda, tenang tapi penuh pergolakan, berdiri di persimpangan antara kekuasaan dan keyakinan. Tidak ada musik dramatis, tidak ada sorak-sorai. Hanya gumaman rakyat, desir angin laut Sulawesi, dan satu keputusan yang mengubah arah sebuah kerajaan.
Kalau ini tayang di TikTok, mungkin caption-nya:
“Ketika seorang raja rage quit bukan karena kalah perang, tapi karena menemukan sesuatu yang lebih besar dari takhta.”
Dari Bone ke Gowa: Gelombang Baru yang Datang Bersama Angin Perubahan
Sebelum Islam tiba, Nusantara sudah punya ratusan keyakinan lokal yang merayakan gunung, sungai, angin, dan roh leluhur. Semua hidup berdampingan dalam ekosistem spiritual yang rimbun. Tidak heran jika kedatangan agama baru tidak langsung membuat orang berbondong-bondong pindah keyakinan. Mereka nyaman. Mereka sudah punya ritme hidup sendiri.
Begitu pula dengan Kerajaan Bone.
Lalu datanglah abad ke-17 masa ketika perdagangan, pelayaran, dan dakwah menjadi satu simpul yang mempertemukan dunia. Dari Makassar, Kerajaan Gowa menjadi pusat perubahan besar. Sultan Alaudin, salah satu pemimpin paling berpengaruh kala itu, telah memeluk Islam dan ingin menyebarkannya ke kerajaan-kerajaan tetangga.
Ia tidak datang sendirian. Bersamanya hadir Datuk Ri Bandang, pendakwah Minang yang kelak namanya terukir dalam sejarah pengislaman Sulawesi Selatan.
Di sisi lain, di Bone, seorang raja muda baru naik takhta: La Tenriruwa. Tahun 1611, usia kepemimpinan baru seumur jagung, tapi tantangan spiritual sudah mengetuk pintu lebih keras daripada tuntutan politik.
Ketika Dialog Dua Raja Menjadi Titik Balik Peradaban
Sultan Alaudin memperlihatkan keislamannya bukan dengan paksaan, tapi persahabatan. Dua raja ini dua pemimpin berdarah bangsawan, dua manusia dengan rasa ingin tahu yang tinggi bertemu bukan sebagai musuh, tetapi sebagai sesama penguasa yang ingin memahami dunia.
Dalam pertemuan-pertemuan itulah, La Tenriruwa mulai tertarik. Ia bukan raja yang gegabah; ia mendalami, menimbang, dan mempelajari Islam.
Lalu pada bulan ketiga masa pemerintahannya, ia mengucapkan syahadat.
Kalau ini zaman sekarang, momen itu mungkin jadi viral:
“BREAKING: Raja Bone masuk Islam. Netizen: ‘Finally, someone thinking long-term!’”
Namun kehidupan tidak sesederhana highlight Instagram.
Ketika Rakyat Tidak Ikut Bergerak: Kepercayaan Lama, Ketakutan Baru
Saat La Tenriruwa mencoba membawa rakyatnya ke arah baru, realitas muncul seperti notifikasi tak terduga.
Para bangsawan menolak.
Para pemuka agama lama merasa terancam.
Orang-orang kaya enggan berubah karena sistem lama terlalu nyaman untuk diganggu.
Dalam bahasa modern:
“Update sistem ditolak. User masih betah pakai versi lawas.”
Keadaan itu membuat La Tenriruwa menghadapi dilema besar: mempertahankan takhta atau mempertahankan keyakinan yang baru ia yakini kebenarannya.
Dan di sinilah kisahnya berbelok tajam.
Raja yang Turun Takhta Demi Iman: Plot Twist yang Tak Biasa
Karena tak ingin memaksa rakyat, La Tenriruwa memilih hal yang jarang dilakukan pemimpin mana pun: ia mundur.
Sebuah adegan yang hening tapi monumental. Tidak ada drama. Tidak ada pengusiran. Hanya seorang raja yang berkata:
“Saya menerima ajakan Sultan Gowa bukan karena takut. Saya memegang kebenaran yang saya yakini. Jika kalian mau tetap pada ajaran lama, itu urusan kalian.”
Ini bukan sekadar pengunduran diri. Ini pernyataan bahwa iman bisa lebih berharga dari kekuasaan.
Dan publik? Diam. Terkejut. Tak tahu bagaimana merespons.
Sampai kemudian datang seorang wakil kelompok penolak Islam dan berkata:
“Bukan kami yang tidak menyukai Puatta, tapi Puatta yang tidak menyukai kami.”
Itu bukan kalimat untuk menyulut konflik. Itu keluhan kejujuran, sekaligus penanda betapa kompleksnya perubahan sosial pada masa itu.
Perang, Kekuasaan Baru, dan Islam yang Akhirnya Menjadi Arus Utama
Setelah La Tenriruwa turun, Bone tetap menolak Islam. Dan sejarah berjalan dengan cara yang kadang keras Gowa menyerang Bone. Perang terjadi, Bone jatuh, dan wilayah itu akhirnya masuk ke dalam orbit Islam.
Para bangsawan Bone pun pada akhirnya memeluk agama yang dulu mereka tolak.
Ironinya? Orang pertama yang membuka pintu itu La Tenriruwa justru tidak lagi berada di takhta.
Sultan Adam: Sang Raja yang “Tidur” di Bantaeng
Setelah lengser, La Tenriruwa mendapat perlindungan dari Sultan Gowa, yang tetap menghormati adat Bone bahwa raja harus dipilih oleh Ade-Pitue. Karena itu ia tidak bisa sekadar mengangkat La Tenriruwa kembali.
La Tenriruwa memilih tinggal di Bantaeng. Di sana, ia mendalami Islam lebih dalam, jauh dari konflik politik, jauh dari hiruk pikuk istana.
Ia wafat di sana.
Diingat sebagai Sultan Adam Matinroe ri Bantaeng Sultan Adam yang tidur di Bantaeng.
Sebuah akhir yang tenang untuk seorang pemimpin yang pernah menggebrak sejarah.
Apa Getaran Cerita Ini untuk Kita Hari Ini?
Cerita La Tenriruwa bukan sekadar kisah tentang agama. Ini tentang keberanian memilih nilai yang diyakini, bahkan jika itu berarti kehilangan segalanya.
Ini juga kisah tentang bagaimana perubahan besar sering dimulai dari ruang-ruang pribadi, bukan dari peperangan atau paksaan. Bone akhirnya menjadi wilayah Islam, bukan hanya karena perang, tapi karena bibit ketertarikan yang ditanam oleh hubungan dua raja La Tenriruwa dan Sultan Alaudin.
Dan ada sesuatu yang sangat modern dalam kisah itu:
Kadang hidup menuntut kita memilih antara posisi dan prinsip.
Antara kenyamanan dan pencarian kebenaran.
Antara diam atau melangkah meski sendirian.
La Tenriruwa memilih jalan yang sunyi.
Dan dari kesunyian itulah sebuah peradaban bergerak.
Jejak yang Tak Pernah Benar-Benar Hilang
Sejarah tidak selalu dibangun oleh mereka yang menang perang, tapi sering oleh mereka yang berani melepaskan sesuatu.
Mungkin itu sebabnya nama La Tenriruwa Sultan Adam masih dikenang bukan sebagai raja yang gagal mempertahankan takhta, tetapi sebagai pemimpin yang mendahulukan nurani.
Karena dalam hidup, kadang langkah paling berani adalah meninggalkan kursi yang semua orang ingin duduki.
Dan itulah vibes yang tidak pernah usang. @dimas




