Rabu, Juli 29, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Tan Malaka: Bisakah Islam dan Kiri Bersatu?

by dimas
Juni 8, 2026
in Ideology, Pattern
A A
Home Pattern Ideology
Share on FacebookShare on Twitter
Satu abad lalu, Tan Malaka mengajukan pertanyaan yang masih relevan hingga kini: bisakah Islam dan kiri bersatu dalam perjuangan melawan ketidakadilan dan penindasan?

Tabooo.id – Pada November 1922, seorang pemuda asal Sumatra berdiri di hadapan Kongres Komunis Internasional dan mengajukan pertanyaan yang terdengar sederhana. Namun pertanyaan itu terus bergema hingga hari ini.

Namanya Tan Malaka.

Ia tidak berbicara tentang teori ekonomi yang rumit. Ia juga tidak membahas strategi perang atau perebutan kekuasaan.

Ia justru mengajukan satu pertanyaan yang hingga kini masih memicu perdebatan:

Bisakah gerakan Islam dan gerakan revolusioner berjalan bersama?

Ini Belum Selesai

Hukum Tanpa Nurani: Saat Etika Tak Lagi Mengawal Kekuasaan

Anarkisme: Dari Ideologi ke Label Keamanan

Pertanyaan itu muncul ketika banyak pemimpin komunis Eropa memandang Pan-Islamisme sebagai ancaman. Tan Malaka melihat kenyataan yang berbeda. Ia memahami bahwa pengalaman rakyat di negeri jajahan tidak selalu cocok dengan teori yang lahir di ruang-ruang politik Eropa.

Ketika Rakyat Memiliki Bahasa Politiknya Sendiri

Banyak tokoh komunis pada masa itu memandang agama sebagai penghalang kesadaran kelas.

Tan Malaka justru menemukan sesuatu yang berbeda di Jawa.

Ia melihat jutaan petani miskin bergabung dalam Sarekat Islam. Mereka hidup di bawah tekanan kolonial, menghadapi kemiskinan, dan mencari harapan di tengah keterbatasan. Bagi mereka, Islam bukan sekadar urusan ibadah. Islam juga menjadi identitas, solidaritas, dan alat perlawanan.

Di titik inilah Tan Malaka membaca realitas yang sering luput dari perhatian banyak ideolog.

Rakyat tidak bergerak karena teori semata.

Rakyat bergerak karena keyakinan, pengalaman hidup, dan rasa senasib.

Kaum revolusioner ingin mengakhiri penjajahan.

Kaum Muslim juga menginginkan hal yang sama.

Mereka memiliki tujuan yang serupa, meskipun menggunakan bahasa perjuangan yang berbeda.

Ketika Politik Kehilangan Kemampuan Mendengar

Hubungan antara Partai Komunis dan Sarekat Islam pernah berjalan cukup dekat. Tan Malaka bahkan menjelaskan bahwa kedua kelompok itu sempat menemukan banyak titik temu dalam agenda perjuangan sosial dan pembelaan terhadap rakyat kecil.

Namun hubungan tersebut tidak bertahan lama.

Perpecahan muncul. Pemerintah kolonial kemudian memanfaatkan situasi itu dengan sangat cerdik.

Mereka menyebarkan satu pesan yang sederhana tetapi efektif:

“Komunis ingin menghancurkan agamamu.”

Bagi elite politik, tuduhan itu mungkin hanya propaganda.

Namun bagi petani miskin, pesan tersebut menyentuh lapisan terdalam kehidupan mereka.

Tan Malaka menggambarkan cara berpikir rakyat kecil dengan sangat tajam. Mereka mungkin kehilangan tanah, pekerjaan, dan masa depan. Namun mereka tidak ingin kehilangan harapan terakhir yang mereka simpan dalam keyakinan.

Di sinilah banyak gerakan politik sering gagal.

Mereka terlalu sibuk menjelaskan teori.

Mereka lupa memahami ketakutan manusia.

Pan-Islamisme yang Tidak Dipahami Banyak Orang

Banyak orang mengartikan Pan-Islamisme sebagai proyek penyatuan dunia Islam di bawah satu kekuasaan politik.

Tan Malaka melihat makna yang berbeda.

Menurutnya, rakyat Muslim di wilayah jajahan memahami Pan-Islamisme sebagai simbol persaudaraan dan perjuangan melawan imperialisme. Mereka menggunakannya sebagai bahasa solidaritas terhadap sesama bangsa yang mengalami penindasan.

Karena itu, Pan-Islamisme yang ia lihat tidak berpusat pada ambisi menguasai dunia.

Gerakan tersebut berpusat pada keinginan untuk membebaskan diri dari kekuasaan kolonial.

Pandangan ini membuat Tan Malaka mengajukan pertanyaan yang cukup berani di hadapan para pemimpin komunis internasional.

Jika kaum komunis mendukung perjuangan pembebasan bangsa-bangsa terjajah, mengapa mereka harus menolak gerakan yang juga melawan imperialisme?

Pertanyaan itu terdengar sederhana.

Namun sampai hari ini, jawabannya masih memicu perdebatan.

Luka Lama yang Masih Terlihat

Lebih dari satu abad berlalu sejak pidato itu disampaikan.

Namun Indonesia masih sering melihat agama dan ideologi politik sebagai dua kubu yang harus saling mengalahkan.

Ruang publik terus menghadirkan pilihan-pilihan biner:

agama atau kemajuan.

iman atau perubahan sosial.

identitas atau keadilan ekonomi.

Padahal sejarah menunjukkan kenyataan yang jauh lebih rumit.

Manusia tidak hidup hanya dengan kebutuhan ekonomi.

Manusia juga membutuhkan makna, identitas, dan harapan.

Tan Malaka memahami kenyataan itu jauh sebelum banyak orang membicarakannya.

Ia menyadari bahwa perjuangan politik tidak pernah berdiri sendiri. Perjuangan selalu berjalan bersama keyakinan, budaya, dan pengalaman hidup masyarakat.

Ini Bukan Sekadar Pidato Sejarah

Pidato Tan Malaka pada 1922 bukan hanya dokumen lama yang tersimpan dalam arsip.

Pidato itu menawarkan pelajaran yang masih relevan hingga sekarang.

Ia mengingatkan bahwa gerakan perubahan sering gagal bukan karena kekurangan ide. Mereka gagal karena tidak memahami manusia yang ingin mereka perjuangkan.

Inilah bagian yang paling menarik.

Perdebatan tentang komunisme dan Pan-Islamisme sebenarnya hanya lapisan permukaan.

Di bawahnya terdapat pertanyaan yang jauh lebih besar:

Bagaimana cara menyatukan kelompok yang memiliki tujuan sama tetapi berbicara dengan bahasa yang berbeda?

Tan Malaka mencoba menjawab pertanyaan itu satu abad lalu.

Dan hingga hari ini, Indonesia tampaknya masih mencari jawabannya.

Sebab pada akhirnya, rakyat tidak hidup di dalam teori.

Rakyat hidup di dalam kenyataan.

Ketika politik gagal memahami kenyataan tersebut, sejarah biasanya menemukan cara untuk mengulang dirinya sendiri. @dimas

Tags: Anti KolonialismeIslam Dan KiriPan IslamismeSarekat IslamSejarah IndonesiaTan Malaka

Kamu Melewatkan Ini

Sungai Musi dan Lahirnya Peradaban Palembang

Sungai Musi dan Lahirnya Peradaban Palembang

by Anisa
Juli 26, 2026

Sungai Musi bukan hanya membelah Kota Palembang. Jauh sebelum jalan raya, pelabuhan modern, dan gedung-gedung berdiri, sungai ini telah menjadi...

Gerwani: Saat Propaganda Mengalahkan Fakta

Gerwani: Saat Propaganda Mengalahkan Fakta

by dimas
Juli 21, 2026

Gerwani pernah menjadi organisasi perempuan terbesar di Indonesia. Namun, propaganda politik pasca-1965 membentuk citranya selama puluhan tahun. Bagaimana fakta sejarah...

Gerakan Perempuan Indonesia: Perlawanan di Bawah Bayang Penindasan

Gerakan Perempuan Indonesia: Perlawanan di Bawah Bayang Penindasan

by dimas
Juli 21, 2026

Gerakan Perempuan Indonesia, perlawanan di bawah bayang Penindasan mengulas sejarah panjang pembungkaman gerakan perempuan, dari kolonialisme, Gerwani, Orde Baru, hingga...

Next Post
Menteri Pertanian Ajak Kampus ke Sawah: Bisakah Riset Menjawab Krisis Pangan?

Menteri Pertanian Ajak Kampus ke Sawah: Bisakah Riset Menjawab Krisis Pangan?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id