Di atas panggung Auditorium Mokodompit Universitas Halu Oleo, Kendari, Sabtu 6 Juni 2026, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman tidak sekadar memberikan kuliah umum.
“Kampus adalah sumber inspirasi terbaik. Ide-ide terbaik ada di kampus. Kalau negara ingin maju, maka kampus harus diperkuat.”
Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian RI, Kuliah Umum Universitas Halu Oleo, Kendari, 06/062026.
Tabooo.id – Menteri Pertanian melempar pertanyaan yang selama bertahun-tahun menggantung di atas dunia akademik Indonesia.
Jika kampus adalah rumah bagi ide-ide terbaik bangsa, mengapa banyak persoalan pangan masih belum menemukan jalan keluar?
Mengapa petani masih bergulat dengan produktivitas, harga, dan akses teknologi, sementara ribuan penelitian pertanian lahir setiap tahun dari perguruan tinggi?
Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun di baliknya tersimpan persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar urusan sawah.
Ini tentang hubungan yang belum selesai antara ilmu pengetahuan dan realitas. Ini tentang jarak yang masih terlalu panjang antara laboratorium dan ladang.
Ketika Ide Hebat Berhenti di Ruang Seminar
Indonesia bukan negara yang kekurangan penelitian.
Perguruan tinggi menghasilkan ribuan karya ilmiah setiap tahun. Berbagai inovasi muncul, mulai dari bibit unggul, sistem irigasi modern, teknologi pertanian presisi, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan untuk meningkatkan produktivitas.
Namun sebagian besar inovasi itu mengalami nasib yang sama. Dipresentasikan, Dipublikasikan Kemudian menghilang.
Tidak sedikit riset yang berakhir sebagai dokumen akademik tanpa pernah benar-benar menyentuh kehidupan petani.
Padahal, tujuan akhir penelitian seharusnya bukan sekadar menambah daftar publikasi. Penelitian lahir untuk menyelesaikan masalah.
Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim dalam berbagai forum Merdeka Belajar sepanjang 2023 hingga 2024 berulang kali menekankan pentingnya hilirisasi riset agar hasil penelitian tidak berhenti di kampus, tetapi dapat diterapkan dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa persoalan ini bukan isu baru. Indonesia telah lama menyadari adanya jurang antara pengetahuan dan penerapan. Sayangnya, jurang tersebut masih terbuka hingga hari ini.
Laboratorium dan Lumpur yang Tidak Pernah Bertemu
Bagi akademisi, keberhasilan sering diukur dari jumlah publikasi, sitasi, atau jurnal bereputasi. Sementara bagi petani, ukuran keberhasilan jauh lebih sederhana.
Panen meningkat, Biaya produksi turun dan Harga hasil pertanian stabil. Perbedaan cara pandang ini sering melahirkan masalah baru.
Banyak teknologi dirancang berdasarkan asumsi akademik, bukan berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan.
Akibatnya, solusi yang terlihat canggih di ruang penelitian justru sulit diterapkan di desa.
Guru Besar Sosiologi Pedesaan IPB, Prof. Dwi Sadono, dalam sejumlah kajian pembangunan pertanian menyoroti bahwa banyak inovasi gagal berkembang karena proses penyusunannya minim melibatkan petani sebagai pengguna utama.
Teknologi akhirnya hadir untuk menjawab persoalan yang tidak dianggap mendesak oleh petani. Sementara masalah yang benar-benar mereka hadapi justru tertinggal.
Mulai dari keterbatasan modal, akses pupuk, distribusi air, hingga kepastian harga. Di titik inilah banyak inovasi kehilangan relevansinya.
Bukan karena teknologinya buruk. Melainkan karena lahir terlalu jauh dari kenyataan.
Sawah yang Menua, Regenerasi yang Tersendat
Persoalan berikutnya tidak kalah serius Petani Indonesia semakin menua. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan sebagian besar petani berada pada kelompok usia di atas 45 tahun.
Sementara itu, minat generasi muda untuk masuk ke sektor pertanian terus menurun. Ironisnya, setiap tahun kampus meluluskan ribuan sarjana pertanian.
Namun tidak banyak yang memilih kembali ke sawah. Banyak yang lebih tertarik bekerja di sektor lain yang dianggap lebih menjanjikan secara ekonomi maupun sosial.
Fenomena ini menunjukkan adanya paradoks besar. Negara mencetak lulusan pertanian. Tetapi sektor pertanian sendiri kesulitan mendapatkan regenerasi.
Sosiolog Universitas Indonesia, Prof. Imam Prasodjo, pernah mengingatkan bahwa pendidikan tinggi tidak boleh hanya menghasilkan pencari kerja, tetapi juga pencipta solusi bagi masyarakat.
Ketika sektor pangan menghadapi tantangan besar, peringatan itu terasa semakin relevan.
Papua Menunjukkan Bahwa Perubahan Itu Mungkin
Di tengah kritik terhadap lemahnya hilirisasi inovasi, Amran menghadirkan satu contoh yang menurutnya menunjukkan hasil nyata.
Ia menyoroti program mekanisasi pertanian di Papua Selatan.
Menurut Amran, penggunaan teknologi dan alat mesin pertanian berhasil meningkatkan produksi sekaligus menekan harga beras secara signifikan.
“Dulu harga beras di sana bisa mencapai Rp30 ribu per kilogram, sekarang sekitar Rp12 ribu per kilogram. Ini menunjukkan program yang dijalankan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.”
Andi Amran Sulaiman, Kendari, 06/06/2026.
Contoh tersebut memperlihatkan bahwa inovasi sebenarnya mampu menghasilkan perubahan konkret. Namun keberhasilan itu tidak muncul hanya karena adanya teknologi.
Perubahan terjadi ketika riset, kebijakan, pendanaan, dan pelaksanaan berjalan bersama. Tanpa kolaborasi, teknologi hanya menjadi prototipe. Tanpa eksekusi, inovasi hanya menjadi presentasi.
Siapa yang Menjembatani Ide dan Realitas?
Dalam kuliah umumnya, Amran menegaskan bahwa kampus tidak bisa berjalan sendiri. Pemerintah juga tidak bisa bekerja sendirian.
Industri tidak cukup hanya menjadi penonton. Kolaborasi menjadi kata kunci yang terus ia ulang.
“Kita menemukan ide baru dari kampus, kemudian dieksekusi oleh pemerintah sebagai regulator dan pengusaha industri. Itulah pentingnya kolaborasi.”
Andi Amran Sulaiman, Kendari, 06/06/2026.
Masalahnya, kolaborasi selama ini sering terdengar lebih indah di atas kertas dibandingkan dalam praktik. Banyak penelitian selesai tanpa mitra industri.
Banyak program pemerintah berjalan tanpa dukungan akademik yang kuat. Di sisi lain, petani sering menjadi pihak terakhir yang menerima manfaat.
Padahal merekalah aktor utama yang menentukan keberhasilan seluruh rantai pangan nasional.
Ini Bukan Sekadar Soal Pertanian
Di permukaan, pidato Amran terlihat sebagai ajakan kepada kampus untuk membantu mewujudkan swasembada pangan.
Namun jika ditarik lebih jauh, persoalan yang muncul jauh melampaui urusan beras atau produksi pangan.
Sektor pertanian hanya menjadi panggung yang memperlihatkan persoalan lama Indonesia: hubungan yang belum tuntas antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan nyata masyarakat.
Selama bertahun-tahun, negara ini menghasilkan banyak ide besar. Sayangnya, perjalanan dari gagasan menuju penerapan sering kali tersendat di tengah jalan.
Kampus melahirkan inovasi, tetapi masyarakat belum tentu merasakan manfaatnya secara langsung.
Di sinilah pola yang terus berulang terlihat jelas. Indonesia tidak kekurangan orang pintar.
Indonesia juga tidak kekurangan penelitian. Yang sering hilang justru kemampuan membangun jembatan antara pengetahuan dan tindakan.
Saatnya Kampus Turun dari Menara Gading
Amran mungkin benar ketika mengatakan kampus adalah sumber inspirasi terbaik. Namun inspirasi saja tidak akan mengisi lumbung pangan.
Ide cemerlang tidak otomatis menurunkan harga beras, sebagaimana jurnal ilmiah tidak serta-merta meningkatkan hasil panen.
Semua membutuhkan satu elemen yang sering menjadi mata rantai terlemah eksekusi.
Karena itu, perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan petani tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri.
Kolaborasi harus menjadi jembatan yang menghubungkan laboratorium dengan lahan pertanian.
Krisis pangan masa depan tidak akan menilai berapa banyak penelitian yang berhasil dipublikasikan.
Sebaliknya, publik akan melihat seberapa jauh ilmu pengetahuan mampu menjawab kebutuhan di lapangan. Pada akhirnya, Indonesia tidak pernah benar-benar kekurangan ide.
Yang masih langka adalah kemampuan mengubah gagasan menjadi solusi yang bisa dirasakan petani secara nyata.
Dan mungkin, tantangan terbesar bangsa ini bukan menciptakan inovasi baru. Melainkan memastikan inovasi yang sudah ada benar-benar sampai ke sawah. @teguh







